SEKOLAH Sang Timur Kota Pasuruan memiliki sejarah panjang. Sekolah tersebut bahkan sudah berdiri, sejak sebelum kemerdekaan.
Bermula dari keinginan Pemerintah Hindia Belanda, untuk mendirikan Sekolah Katolik Roma bagi pribumi dan etnis Tionghoa.
Nama sekolah setempat, berbeda dengan yang ada sekarang.
Pemerhati Sejarah Pasuruan, Achmad Budiman Suharjono mengungkapkan, Sekolah Sang Timur dahulu dikenal dengan nama Clara Fey School.
Atau juga disebut sebagai Sekolah Katolik Roma Holland Inlandsche School (HIS) dan Holland Chinese School (HCS).
Pendiriannya, berawal dari kedatangan enam orang suster dari Ordo “dochters van Clara Fey” atau “Putra Putri Clara Fey”.
Mereka adalah Moeder Andrea Ludwiga, Sr Stanislaus Maria dan Sr. Fransisca Josepha, Sr. Catharina Maria, Sr. Anna Reineria, dan Sr Reiniera Maria.
Mereka berangkat dari Denhaag, Belanda dengan kapal “Christian Huygens” menuju Batavia (Jakarta) pada 7 Mei 1932.
Dengan tujuan, mendirikan Sekolah Katolik Roma di Hindia Belanda.
“Mereka diundang oleh Perfek Apostolik Mgr Clemens Van Der Pas, untuk ikut serta menggarap kebun anggur. Enam suster itu dikirim, untuk berkarya di Hindia Belanda,” kisah Budiman.
Ordo “dochters van Clara Fey” atau “Putra Putri Clara Fey” ini, adalah tarekat pendidikan. Terutama mengurus pendidikan untuk anak miskin dan terlantar.
Para suster ini mendarat di Tanjung Priok Jakarta. Kemudian melanjutkan perjalanan darat menuju Surabaya.
Pada 29 Mei 1932, para suster tiba dan dilantik oleh Mgr Clemens Van Der Pas di Gereja Katolik Roma Pasuruan.
Mereka menetap di sebuah rumah tua, yang terletak di Embong Semarangan (kini jalan Hayam Wuruk).
“Mereka bertempat tinggal di bangunan bekas Landraad (Pengadilan Negeri untuk pribumi). Setelah bangunan tersebut tidak terpakai dan dibeli oleh Asosiasi Sekolah Katolik Roma,” jelasnya.
Lakukan Perluasan Bangunan Gedung Sekolah
Kegiatan belajar mengajar dimulai pada 8 Juni 1932, dengan enam suster sebagai pengajar.
Awalnya, sempat ada kekhawatiran sepi peminat. Mengingat para suster ini bersekolah, di sekolah-sekolah besar Belanda.
Namun, minat dari warga etnis Tionghoa ternyata besar. Jumlah murid yang semula hanya 27 orang, terus meningkat.
Pada 1934, jumlah murid Sekolah Katolik ini, naik hampir sepuluh kali lipat. Yaitu berjumlah 221 anak.
Terdiri dari Kelas Froebel dan Pra kelas sebanyak 78 anak. Serta kelas 1 hingga kelas IV sebanyak 143 anak.
Karena jumlah murid terus meningkat, maka dilakukan perluasan gedung sekolah.
“Jumlah murid yang meningkat, membuat jumlah guru juga ditambah. Untuk memenuhinya, ditambah lagi tiga orang suster pada November 1933. Sehingga, ada sembilan suster,” jelas Budiman.
Peletakan batu pertama, untuk gedung baru dilakukan pada 5 Maret 1934 oleh Pastur Henckens.
Gedung baru ini dirancang, oleh arsitek Henri Estourgie dari Architen biro Rijksen dari Surabaya.
Bangunan baru ini, memiliki sembilan ruang sekolah yang lapang. Berukuran 8x7 meter.
Dan terletak bersebelahan di galeri terbuka. Sanitasi gedung baru ini, juga sangat baik dan efisien.
“Bangunan baru tersebut diresmikan, pada 29 Juli 1934. Kegiatan belajar-mengajar dengan gedung baru ini, dimulai pada 1 Agustus 1934,” tutur Budiman.
Pernah Digunakan sebagai Kamp Bersiap
Pasca kemerdekaan, bangunan sekolah sempat dijadikan kamp bersiap bagi anak-anak dan wanita Belanda yang diasingkan.
Mereka ditahan di kamp tersebut. Mereka berasal dari Kecamatan Puspo. Dan pasca kemerdekaan, sekolah ini berubah nama menjadi Yayasan Sang Timur.
Jumlahnya mencapai 136 orang. Mereka ditahan dalam kamp yang disebut juga dengan nama “Popda Kamp”.
Namun hanya sebentar. Hanya selama libur sekolah. Saat sekolah aktif kembali, mereka dipindahkan.
“Mereka dipindahkan ke Gedung Harmoni pada 4 Agustus 1946. Sebab, pada 8 September 1946, aktivitas sekolah dimulai lagi usai liburan,” kisah Budiman.
Sejumlah bangunan di sekolah ini pun, masih terjaga keasliannya. Di antaranya tempat tinggal untuk para suster.
Hingga ruang kelas, yang berada di sisi barat dan sisi timur. Sehingga diduga, sebagai objek cagar budaya.
“Usianya sudah lebih dari 50 tahun. Bisa diduga, sebagai objek cagar budaya. Sejauh ini belum masuk cagar budaya,” jelas Budiman. (riz/one)
Editor : Jawanto Arifin