Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Sejarah Jalan Balaikota Pasuruan yang Identik dengan Kawasan Elit

Fahrizal Firmani • Minggu, 14 Januari 2024 | 15:35 WIB
LEBAR: Jalan Balaikota kondisi sekarang dan dahulu (Inset). Zaman kolonial Jalan balaikota dikenal sebagai kawasan elit.
LEBAR: Jalan Balaikota kondisi sekarang dan dahulu (Inset). Zaman kolonial Jalan balaikota dikenal sebagai kawasan elit.

KEBERADAAN Jalan Balaikota, di Kelurahan Kandangsapi, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan, memiliki sejarah yang panjang.

Jalanan tersebut, merupakan eks peninggalan Belanda, yang sudah berevolusi sesuai perkembangan zaman.

Dulunya, bangunan yang berdiri di tepian jalan setempat, menjadi hunian bagi bangsawan dan orang-orang kaya Belanda.

Namun saat ini, gedung-gedung yang ada, telah bertransformasi. Sebagian besar, menjadi gedung pemerintahan.

Mulai dari gedung DPRD Kota Pasuruan, SMPN 1 Kota Pasuruan hingga rumah dinas Wakil Wali Kota Pasuruan.

Tak hanya menjadi penyangga perekonomian pada masa itu. Jalan Balaikota, juga menjadi saksi perkembangan Kota Pasuruan.

Pemerhati Sejarah Pasuruan, Achmad Budiman Suharjono menuturkan, Jalan Balaikota sudah ada sejak dulu.

Bersama Jalan Pahlawan, jalan tersebut dikenal dengan nama Heerenstraat. Artinya, jalan tuan tuan atau para tuan.

MENUJU PELABUHAN: Jalan Balaikota ke Utara adalah jalur menuju Pelabuhan Pasuruan.
MENUJU PELABUHAN: Jalan Balaikota ke Utara adalah jalur menuju Pelabuhan Pasuruan.

Penamaan jalan Heerenstraat, bukan tanpa alasan. Karena jalan setempat, merupakan jalan utama, yang menjadi tempat para petinggi dan orang kaya Eropa bertempat tinggal.

Jalan ini pula, dulunya menjadi jalan utama wisatawan asing menuju Bromo via Kecamatan Tosari.

Apalagi, Kota Pasuruan adalah kota pelabuhan kuno, yang begitu penting pada masanya. Wisatawan asing yang hendak menuju wisata Gunung Bromo, datang menaiki kapal. Mereka selalu menuju Gunung Bromo, dengan melawati Jalan Balaikota.

“Memang, Jalan Balaikota ini, sudah ada sejak zaman penjajahan kolonial Belanda. Sama seperti sekarang, zaman itu sudah menjadi jalan utama di Pasuruan,” kisahnya.

Namun, sejak masa kemerdekaan, nama jalan tersebut, berubah menjadi Balaikota. Hal itu tak lepas dari keberadaan gedung Kota Pradja Pasuruan atau biasa disebut Balaikota.

Gedung yang sudah dibongkar dan menjadi gedung DPRD Kota Pasuruan saat ini.

“Dinamakan jalan Balaikota, karena dulunya memang ada gedung Balaikota di sana. Sebelum akhirnya, gedung tersebut berubah fungsi menjadi gedung DPRD Kota Pasuruan,” jelas Budiman.

PENINGGALAN KOLONIAL: Sejak zaman dulu Jalan Balaikota ukurannya sudah lebar.
PENINGGALAN KOLONIAL: Sejak zaman dulu Jalan Balaikota ukurannya sudah lebar.

Pernah Berdiri Hotel Internasional

Tak hanya berdiri pemukiman kalangan elit. Di tepi Jalan Balaikota di Kota Pasuruan, dulunya pernah berdiri hotel internasional bernama Hotel Morbeck.

Hotel ini pernah menjadi primadona di akhir tahun 1800-an dan awal 1900-an. Tamu yang menginap, rata-rata berasal dari luar negeri.

Secara geografis, letak Kota Pasuruan memang dekat dengan perairan. Ada pelabuhan yang berdiri di sisi utara kota.

Sebagai kota pelabuhan, Kota Pasuruan pada masa lampau, kerap didatangi oleh pelaut atau turis mancanegara.

Mereka biasanya singgah di Kota Pasuruan, hingga berbulan-bulan. Sehingga butuh tempat untuk menginap.

Peluang itulah, yang kemudian dibaca oleh seorang mantan kapten laut asal Belanda, Mr. Van Oppen.

Ia mendirikan hotel untuk para pelaut dengan nama “Hotel Marine” di Heerenstraat atau yang kini menjadi Jalan Balaikota, pada kisaran tahun 1850-an.

Namun, tak berlangsung lama. Karena pada 1860-an, hotel Marine dijual. Hotel tersebut kemudian dibeli oleh Mr. Morbeck dari ahli waris Mr. Van Oppen. Nama hotel pun berubah. Menjadi Hotel Morbeck sesuai nama pemiliknya.

Tak hanya merubah nama. Mr. Morbeck juga memodernisasi bangunan hotel. Termasuk dengan menyewa rumah dua lantai dari keluarga Anthoijs sekitar tahun 1892. Serta, menjadikan bangunan luar bias aitu, sebagai bangunan utama.

“Sejarah mencatat, hotel ini pernah didatangi oleh Raja Siam dari Thailand pada tahun 1896. Ia menginap di hotel itu, sebelum menuju Gunung Bromo,” kisah Budiman.

Dengan cepat, nama hotel Morbeck dikenal oleh wisatawan asing dan pejabat Eropa. Tamu yang berdatangan semakin banyak. Pada 1909, jumlah kamar hotel ini mencapai 55 kamar.

Hotel tersebut, dikelola istri Morbeck. Sementara Morbeck sendiri, dikenal sebagai agen pabrik gula, yang pengirimannya hingga ke luar Pasuruan.

Ia mengirim melalui pelabuhan Pasuruan. “Selain pabrik di Pasuruan dan Bangil, ia juga menjadi agen untuk pabrik di Garum, Kunir, Sempalwadak dan Panggungrejo di Kabupaten Malang,” jelasnya.

Lalu, pada 1927, kapasitas hotel kembali ditambah. Karena permintaan orang untuk menginap terus meningkat.

Bahkan, ada 45 kamar mewah dengan tarif antara tujuh hingga 12 Gulden per kamar. Nilai tersebut, disebut-sebut setara dengan menyewa kereta kuda yang hanya bisa dilakukan oleh bangsawan dan orang-orang kaya.

Hotel Morbeck kemudian semakin dikenal hingga ke luar Jawa. Morbeck juga menerima permintaan penginapan dan berbagai kebutuhan yang diperlukan pada tanggal-tanggal tertentu. Seperti layanan perjalanan atau biro travel ke Tosari dari Inggris dan Amerika.

Namun, sejalan dengan lesunya industri gula, hotel pun menjadi sepi. Morbeck lantas menjual hotelnya, dengan harga 27.000 Gulden ke Pemkot Pasuruan pada 9 November tahun 1928.  Perabotan atau mebel bekas hotel yang berlebih dijual.

“Keluarga Morbeck sempat mengundang para mantan tamu dan relasi di lokasi untuk makan perpisahan pada 30 November 1928,” sebut Budiman.

 BANYAK SEJARAH: Gedung Balaikota saat masih di Jalan Balaikota pada tahun sekitar 1936.
 BANYAK SEJARAH: Gedung Balaikota saat masih di Jalan Balaikota pada tahun sekitar 1936.
 

Penyangga Pusat Perekonomian Terbesar di Jatim

Pada masanya, Kota Pasuruan dikenal sebagai daerah perekonomian terbesar kedua. Imbasnya, waktu itu, Pelabuhan Pasuruan menjadi pelabuhan yang sangat sibuk.

Jalan Balaikota, saat itu, menjadi penyangga utamanya.

Ketua DPRD Kota Pasuruan, Ismail Marzuki Hasan mengklaim, pada masa kolonial, Kota Pasuruan menjadi pusat perekonomian nomor satu di Jawa Timur.

Bahkan, menjadi yang kedua, untuk Pulau Jawa, setelah pelabuhan Tanjung Tembikar di Kota Semarang, Jawa Tengah.

Pengangkutan rempah-rempah kota di Jawa Timur, melalui pelabuhan Pasuruan.

“Jalan Balaikota akses utama pengangkutan rempah-rempah ke pelabuhan pada masa itu. Bisa dibilang sebagai jalan tersibuk di Jawa Timur,” terangnya.

Sekretaris Dewan (Sekwan) DPRD Kota Pasuruan, Raden Murahanto menuturkan Kota Pasuruan, pada masa kolonial, sangat maju.

Menjadi pusat perekonomian terbesar di Jatim. Dan Jalan Balaikota adalah penyangganya.

Namun, setelah pusat karesidenan dipindah dari Kota Pasuruan ke Kota Malang pada 1926, perekonomian Kota Pasuruan disalip. Apalagi, industri rempah-rempah, tidak lagi menjadi primadona seperti pada masa itu.

“Jalan Balaikota ini penyangga perekonomian di Kota Pasuruan. Setelah pusat karesidenan dipindah ke Malang, aktivitas menurun,” tutur Murahanto. (riz/one)

Editor : Ronald Fernando
#sejarah pasuruan #jalan balaikota pasuruan