Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Jembatan Kedunglarangan Bangil, Saksi Perjuangan Melawan Penjajah Belanda

Iwan Andrik • Minggu, 16 Juli 2023 | 21:10 WIB

 

Jembatan Kedunglarangan di jalur Surabaya-Bangil. Sisi utara jembatan merupakan bangunan di era penjajahan Belanda, sementara sisi selatan bangunan baru. Inset, jembatan dipotret sekitar tahun 1947.
Jembatan Kedunglarangan di jalur Surabaya-Bangil. Sisi utara jembatan merupakan bangunan di era penjajahan Belanda, sementara sisi selatan bangunan baru. Inset, jembatan dipotret sekitar tahun 1947.

JEMBATAN Kedunglarangan di Kecamatan Bangil cukup ikonik. Selain terletak di jalur strategis akses Surabaya-Banyuwangi, jembatan itu terbagi dua sisi. Salah satunya, merupakan peninggalan Belanda.

Bangunan jembatan Kedunglarangan di Bangil, terbagi menjadi dua. Sisi selatan, merupakan bangunan baru. Persisnya dibangun pada tahun 1989. Sementara, jembatan sisi utara, dibangun sejak zaman penjajahan Belanda.

Tidak ada yang tahu pasti kapan dibangun. Namun diperkirakan, bangunan tersebut sudah ada pada era 1900-an. Meski terbilang bangunan tua, bangunan bekas peninggalan sejarah itu, masih tampak kokoh. Terbukti, tidak tampak bagian keropos pada bangunan tersebut.

Jembatan Kedunglarangan di Bangil sudah sangat familier bagi masyarakat Bangil. Karena menjadi penghubung antara Kelurahan Kiduldalem dan Kersikan menuju Kelurahan Gempeng, Kecamatan Bangil. Selain itu, menjadi jalur vital. Untuk akses Surabaya-Banyuwangi.

Panjang jembatan yang berada di atas DAS Kedunglarangan tersebut, mencapai kurang lebih 60 meter. Dengan lebar di masing-masing sisi, mencapai kurang lebih 5-6 meter.

Menurut Susanto Dwi Laksono, 66, pemerhati perkembangan Bangil, Jembatan Kedunglarangan memang bagian dari sejarah. Karena bangunan jembatan yang berada di sisi utara, merupakan jembatan tua, yang dibangun era penjajahan Belanda.

Hal itu terlihat dari konstruksi bangunannya. Beton dengan susunan batu, khas peninggalan Belanda. “Kalau sisi utara, memang merupakan bangunan jembatan yang sudah ada sejak penjajahan Belanda. Baru kemudian tahun 1989, dilakukan pelebaran dengan penambahan satu jembatan di sisi Selatan. Untuk penyesuaian perkembangan mobilitas kendaraan di jalanan,” ungkap Susanto.

Nama jembatan Kedunglarangan diambil dari sungai yang berada di bawahnya. Kedunglarangan sendiri, berasal dari kata Kedung yang berartikan cekungan. Serta Larangan yang dimaksudkan untuk melarang mandi di sungai setempat.

Konon, di bawah Masjid Manarul dekat jembatan, disebut-sebut ada pulungan atau cekungan. Sehingga, berbahaya untuk mandi. Dari situlah, nama Kedunglarangan digunakan untuk jembatan tersebut.

Pak De Santo-sapaan Susanto Dwi Laksono menambahkan, pada jembatan Kedunglarangan lama, terdapat lima pintu atau lekuk lima yang bertujuan untuk menahan beban. Sehingga, bangunan yang dididirkan tersebut, memeliki daya tahan yang kokoh.

Hal itupun dipercayainya. Karena dari sumber informasi yang diperolehnya, jembatan Kedunglarangan pernah dibom oleh tentara Indonesia, pada masa penjajahan Belanda. Tujuannya untuk menghambat mobilisasi tentara Belanda.

Namun, upaya itu tidak berjalan sebagaimana mestinya. Karena ternyata, upaya untuk menghancurkan jembatan, gagal terlaksana. “Pernah jembatan tersebut mau dihancurkan. Tetapi, tidak hancur,” akunya.

Kondisi tersebut jelas berbeda dengan jembatan modern yang dibangun di sisi selatan. Berulang kali, jembatan setempat, malah mengalami kerusakan. “Justru kalau dibandingkan, jembatan sisi utara lebih kuat. Meski dibangun di era Belanda. Buktinya, saya tidak pernah mendapati jembatan tersebut rusak. Berbeda dengan jembatan yang sisi utara. Meski terbilang baru 1989 dibangun, kenyataannya berulang kali jembatan itu diperbaiki,” sampainya.

BANGUNAN BARU: Jembatan Kedunglarangan di sisi selatan baru dibangun pada 1989.
BANGUNAN BARU: Jembatan Kedunglarangan di sisi selatan baru dibangun pada 1989.

Kerap Dimanfaatkan untuk Mandi dan Mencari Ikan

Arus sungai di bawah jembatan Kedunglarangan cukup deras. Meski begitu, banyak warga yang memanfaatkan sungai di bawah Jembatan Kedunglarangan untuk bermain-main. Tak sedikit anak-anak yang mandi ataupun mencari ikan di bawah jembatan.

Hal itu pernah dirasakan oleh Arif, 45, warga Manaruwi, Kecamatan Bangil. Ia mengaku, saat kecil, sering bermain-main di bawah jembatan setempat. Entah itu mandi. Ataupun untuk mencari ikan.

Tentu, hal itu dilakukannya, ketika air tidak lagi pasang. Sehingga, aman untuk digunakan bersenang-senang. “Biasanya dulu sepulang sekolah. Main bersama teman-teman,” kata Arif.

Pemerhati Bangil, Susanto Dwi Laksono, 66, mengakui Sungai Kedunglarangan di bawah jembatan, memang kerap menjadi jujukan anak-anak untuk berenang. Bahkan, meski hal itu dilarang. Namun, tak sedikit yang memilih untuk bersenang-senang, dengan berenang.

Padahal, kawasan setempat cukup berbahaya. Khususnya, ketika air tengah naik. Ia pun pernah mendapati anak yang tenggelam. Lantaran air sedang pasang. “Kami pernah mengevakuasi anak yang tenggelam,” ungkap pria yang juga jadi relawan tersebut.

Meski kerap membawa korban, kenyataannya masih saja ada yang berenang di bawa jembatan. Tak hanya orang dewasa. Anak-anak sekolah pun, melakukan hal yang sama. “Memang terlihat seru. Padahal, cukup berbahaya. Tapi tetap saja, masih banyak yang mandi di sana,” tandasnya.

STRATEGIS: Dua sisi jembatan Kedunglarangan saat dipotret dari udara.
STRATEGIS: Dua sisi jembatan Kedunglarangan saat dipotret dari udara.

Perlu Dipelihara agar Terjaga

Bangunan sejarah memang tidak bisa dibangun ulang. Karena itu, perlu dilestarikan. Agar kondisinya terjaga.

Tak terkecuali, untuk Jembatan Kedunglarangan di Bangil. Menurut Susanto Dwi Laksono, 66, warga Pogar, Kecamatan Bangil ini, jembatan Kedunglarangan yang memiliki sejarah panjang tersebut, harus dijaga kelestariannya. Agar tidak sampai rusak tergerus jaman.

Ia mengakui, banyak memiliki kenangan dengan jembatan tersebut. Tak terkecuali kenangan kelam, ketika marak pembantaian PKI.

Menurutnya, jembatan tersebut kerap dimanfaatkan sebagai tempat eksekusi. Orang yang dianggap sebagai PKI, kemudian dibunuh. Mayatnya dibuang ke sungai. “Ngeri. Waktu itu saya masih kecil. Saya juga menjadi saksi, kejadian kelam itu,” kisahnya.

Tentu, bukan hanya kisah kelam. Banyak kenangan manis pula yang dirasakan dengan keberadaan jembatan tersebut. “Makanya, perlu dipelihara agar kondisinya terjaga,” imbuhnya.

Menurut Anis, 43, warga Rombo Kulon, Kecamatan Rembang, pelestarian bangunan peninggalan sejarah tersebut, memang perlu dilakukan. Agar keberadaan bangunan yang ada, tidak sampai rusak begitu saja.

“Kalau perlu diperindah dengan pengecatan penuh warna. Supaya, bisa memiliki daya tarik wisata,” timpal dia. (one/mie)

Editor : Jawanto Arifin
#penjajahan belanda #jembatan kedunglarangan