25.6 C
Probolinggo
Tuesday, October 4, 2022

Wisman Menikmati Eksotisnya Tari Sodoran saat Perayaan Yadnya Karo

SUKAPURA, Radar Bromo – Di Kabupaten Probolinggo, perayaan Yadnya Karo oleh warga Hindu Tengger dilakukan Minggu (14/8) di Balai Desa Jetak, Kecamatan Sukapura. Tidak seperti dua tahun sebelumnya yang dilakukan tertutup. Tahun ini, Yadnya Karo dibuka untuk wisatawan.

Tak heran, sejumlah wisatawan lokal dan mancanegara terlihat di lokasi selama perayaan Yadnya Karo dilakukan. Mereka bahkan mengikuti perayaan itu sampai selesai.

Salah satunya Robert, wisatawan asal Denmark. Robert yang baru pertama ke Gunung Bromo mengaku datang tepat waktu. Sebab, bertepatan dengan perayaan Yadnya Karo.

Baginya, Yadnya Karo adalah momen langka karena dilakukan setahun sekali. Apalagi, wisatawan seperti dirinya boleh menyaksikan langsung. Bahkan, boleh memotret tradisi itu.

“Saya baru pertama ke Gunung Bromo dan melihat Tradisi Karo. Tradisi ini luar biasa. Tarian Sodor menjadi ciri khas dan menjadi daya tarik bagi kami untuk datang lagi,” katanya di sela-sela mengikuti perayaan Karo.

Hal senada diungkapkan Yayuk Minarti, 23, wisatawan Solo. Yayuk sebenarnya sudah tiga kali mengikuti Karo. Bedanya, sebelumnya ada larangan wisatawan melihat lantaran pandemi Covid-19. Bahkan, Karo dan Tari Sodoran menjadi tesis magisternya di Universitas Indonesia (UI) Jurusan Antropologi.

Menurutnya, perayaan Karo merupakan representasi dari tiap desa. Hal tersebut sangat bagus sebagai bentuk pemeliharaan budaya. Bahkan, masyarakat sangat antusias merayakanya.

SUKAPURA, Radar Bromo – Di Kabupaten Probolinggo, perayaan Yadnya Karo oleh warga Hindu Tengger dilakukan Minggu (14/8) di Balai Desa Jetak, Kecamatan Sukapura. Tidak seperti dua tahun sebelumnya yang dilakukan tertutup. Tahun ini, Yadnya Karo dibuka untuk wisatawan.

Tak heran, sejumlah wisatawan lokal dan mancanegara terlihat di lokasi selama perayaan Yadnya Karo dilakukan. Mereka bahkan mengikuti perayaan itu sampai selesai.

Salah satunya Robert, wisatawan asal Denmark. Robert yang baru pertama ke Gunung Bromo mengaku datang tepat waktu. Sebab, bertepatan dengan perayaan Yadnya Karo.

Baginya, Yadnya Karo adalah momen langka karena dilakukan setahun sekali. Apalagi, wisatawan seperti dirinya boleh menyaksikan langsung. Bahkan, boleh memotret tradisi itu.

“Saya baru pertama ke Gunung Bromo dan melihat Tradisi Karo. Tradisi ini luar biasa. Tarian Sodor menjadi ciri khas dan menjadi daya tarik bagi kami untuk datang lagi,” katanya di sela-sela mengikuti perayaan Karo.

Hal senada diungkapkan Yayuk Minarti, 23, wisatawan Solo. Yayuk sebenarnya sudah tiga kali mengikuti Karo. Bedanya, sebelumnya ada larangan wisatawan melihat lantaran pandemi Covid-19. Bahkan, Karo dan Tari Sodoran menjadi tesis magisternya di Universitas Indonesia (UI) Jurusan Antropologi.

Menurutnya, perayaan Karo merupakan representasi dari tiap desa. Hal tersebut sangat bagus sebagai bentuk pemeliharaan budaya. Bahkan, masyarakat sangat antusias merayakanya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/