28.7 C
Probolinggo
Monday, February 6, 2023

Sedimennya Tebal, Sudah Waktunya Sungai Rejoso Dinormalisasi

PASURUAN, Radar Bromo – Kejadian banjir pertama yang melanda kawasan timur Kabupaten Pasuruan pekan lalu menjadi evaluasi. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan Ridwan Harris memastikan banjir itu terjadi karena sungai meluap. Sungai-sungai perlu normalisasi.

Sabtu (19/11), terjadi banjir di tiga desa dalam tiga kecamatan. Masing-masing Desa Bandaran, Kecamatan Winongan; Desa Kedawung Kulon, Kecamatan Grati; dan Desa Toyaning, Kecamatan Rejoso. Tiga desa tersebut kebanjiran karena sungai tidak mampu menampung air bah.

”Jadi, murni overlap. Daya tampungnya tak cukup. Tidak ada tanggul yang jebol,” kata Harris.

Dengan kondisi seperti itu, menurut Harris, Sungai Rejoso harus dinormalisasi. Jika tidak, tentu bakal terjadi lagi banjir kalau hujan lebat dalam waktu lama. “Sudah waktunya normalisasi,” tandasnya.

Baca Juga:  Terjun ke Jurang di Ledug Prigen, Sejoli asal Winongan Tewas

Secara terpisah, Hendra, pengawas normalisasi sungai di Dinas PU Sumber Daya Alam (PU SDA) Provinsi Jawa Timur di Pasuruan mengatakan, pihaknya telah mengajukan normalisasi untuk DAS (Daerah Aliran Sungai) Rejoso pada tahun 2022 ini. Tetapi, karena beberapa kendala, rencana itu batal dilakukan. Banjir pertama yang terjadi awal musim hujan ini menjadi catatan. Akan menjadi evaluasi.

”Memang sudah waktunya dinormalisasi,” katanya.

Hendra menambahkan, menurut rencana, panjang kawasan yang akan dinormalisasi bisa mencapai sepanjang 41 kilometer. Bahkan, bisa lebih. Sebab, banyak anak sungai yang perlu ditangani.

PASURUAN, Radar Bromo – Kejadian banjir pertama yang melanda kawasan timur Kabupaten Pasuruan pekan lalu menjadi evaluasi. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan Ridwan Harris memastikan banjir itu terjadi karena sungai meluap. Sungai-sungai perlu normalisasi.

Sabtu (19/11), terjadi banjir di tiga desa dalam tiga kecamatan. Masing-masing Desa Bandaran, Kecamatan Winongan; Desa Kedawung Kulon, Kecamatan Grati; dan Desa Toyaning, Kecamatan Rejoso. Tiga desa tersebut kebanjiran karena sungai tidak mampu menampung air bah.

”Jadi, murni overlap. Daya tampungnya tak cukup. Tidak ada tanggul yang jebol,” kata Harris.

Dengan kondisi seperti itu, menurut Harris, Sungai Rejoso harus dinormalisasi. Jika tidak, tentu bakal terjadi lagi banjir kalau hujan lebat dalam waktu lama. “Sudah waktunya normalisasi,” tandasnya.

Baca Juga:  Edarkan Sabu, Warga Ngemplakrejo Ditangkap, Terancam 5 Tahun Penjara

Secara terpisah, Hendra, pengawas normalisasi sungai di Dinas PU Sumber Daya Alam (PU SDA) Provinsi Jawa Timur di Pasuruan mengatakan, pihaknya telah mengajukan normalisasi untuk DAS (Daerah Aliran Sungai) Rejoso pada tahun 2022 ini. Tetapi, karena beberapa kendala, rencana itu batal dilakukan. Banjir pertama yang terjadi awal musim hujan ini menjadi catatan. Akan menjadi evaluasi.

”Memang sudah waktunya dinormalisasi,” katanya.

Hendra menambahkan, menurut rencana, panjang kawasan yang akan dinormalisasi bisa mencapai sepanjang 41 kilometer. Bahkan, bisa lebih. Sebab, banyak anak sungai yang perlu ditangani.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru