30 C
Probolinggo
Sunday, May 28, 2023

Perayaan Nyepi Meriah Lagi setelah Pandemi 

Perayaan hari raya Nyepi Suku Tengger di Tosari tahun ini, lebih meriah dari tahun lalu. Tidak ada lagi pembatasan. Pawai Ogoh-ogoh bahkan digelar berbarengan dan disentralkan di satu lokasi. Masyarakat menyambutnya dengan suka cita.

——————————————————————————————————

MUKHAMAD ROSYIDI, Tosari, Radar Bromo

——————————————————————————————————

TERHITUNG dua tahun, perayaan Nyepi sempat dibatasi yakni tahun 2020 dan 2021. Selama itupula warga Suku Tengger di Tosari, tak bisa menggelar pawai Ogoh-ogoh. Tahun lalu sejatinya sudah digelar, namun di lingkup desa.

Tentu saja saat tak ada lagi pembatasan, masyarakat sangat antusias. Ribuan masyarakat turun ke jalan. Dengan ciri khas memakai udeng di kepala, mereka ingin memeriahkan pawai yang digelar untuk menyambut tahun baru caka 1945 tersebut.

Baca Juga:  Pastikan Semua Pedagang Pasar Karangketug Diusulkan Bantuan

Bukan hanya Suku Tengger. Warga lainnya pun memanfaatkan momen tersebut untuk mencari hiburan. Mereka mengabadikan dengan kamera. Bahkan sabar menunggu sampai Ogoh-ogoh dari 10 desa di tiga kecamatan itu dibawa ke rest area Tosari. 

“Ini memang dirayakan meriah. Seperti sebelum adanya covid. Jadi ya ramai,” ungkap kata Singgih salah seorang tokoh pemuda Ngadiwono.

Persiapan masyarakat tengger dalam acara ini terbilang cukup lama. Persiapan dilakukan selama sebulan. Mereka membuat sendiri ogoh-ogohnya. “Kami membuat sendiri. Untuk biaya mulai dari Rp 5 juta sampai Rp 25 juta untuk satu ogoh-ogohnya,” Kariadi, salah seorang warga Suku Tengger.

Perayaan hari raya Nyepi Suku Tengger di Tosari tahun ini, lebih meriah dari tahun lalu. Tidak ada lagi pembatasan. Pawai Ogoh-ogoh bahkan digelar berbarengan dan disentralkan di satu lokasi. Masyarakat menyambutnya dengan suka cita.

——————————————————————————————————

MUKHAMAD ROSYIDI, Tosari, Radar Bromo

——————————————————————————————————

TERHITUNG dua tahun, perayaan Nyepi sempat dibatasi yakni tahun 2020 dan 2021. Selama itupula warga Suku Tengger di Tosari, tak bisa menggelar pawai Ogoh-ogoh. Tahun lalu sejatinya sudah digelar, namun di lingkup desa.

Tentu saja saat tak ada lagi pembatasan, masyarakat sangat antusias. Ribuan masyarakat turun ke jalan. Dengan ciri khas memakai udeng di kepala, mereka ingin memeriahkan pawai yang digelar untuk menyambut tahun baru caka 1945 tersebut.

Baca Juga:  Jelang Lawan Persekabpas, Persekap Perkuat Lini Pertahanan

Bukan hanya Suku Tengger. Warga lainnya pun memanfaatkan momen tersebut untuk mencari hiburan. Mereka mengabadikan dengan kamera. Bahkan sabar menunggu sampai Ogoh-ogoh dari 10 desa di tiga kecamatan itu dibawa ke rest area Tosari. 

“Ini memang dirayakan meriah. Seperti sebelum adanya covid. Jadi ya ramai,” ungkap kata Singgih salah seorang tokoh pemuda Ngadiwono.

Persiapan masyarakat tengger dalam acara ini terbilang cukup lama. Persiapan dilakukan selama sebulan. Mereka membuat sendiri ogoh-ogohnya. “Kami membuat sendiri. Untuk biaya mulai dari Rp 5 juta sampai Rp 25 juta untuk satu ogoh-ogohnya,” Kariadi, salah seorang warga Suku Tengger.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru