26.9 C
Probolinggo
Sunday, September 25, 2022

Temukan Bekas Rel KA Diduga Zaman Kolonial saat Gali Fondasi Payung Madinah

PASURUAN, Radar Bromo – Warga Kota Pasuruan mungkin banyak yang tidak tahu bahwa pernah ada perlintasan kereta api di tengah kota. Dan bekas perlintasan kereta api itu ditemukan saat penggalian fondasi untuk proyek payung Madinah.

Bekas rel itu ditemukan tepat di depan Masjid Jamik Al Anwar. Rel kereta itu terlihat setelah lapisan aspal jalan dikeruk menggunakan alat berat. Bentuknya tidak utuh dan berkarat.

Pengerukan dilakukan untuk menyiapkan fondasi payung yang akan dipasang. Rencananya, ada enam payung yang akan dipasang di kawasan itu.

”Hanya ditemukan satu sisi saja. Artinya sudah nggak utuh,” kata Imam, staf Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kota Pasuruan.

Tak berlebihan bila kemudian besi berkarat itu ditengarai bekas perlintasan kereta api di tengah kota. Apalagi berdasarkan dokumen yang diperoleh Jawa Pos Radar Bormo, kawasan tersebut dulunya memang jadi perlintasan kereta.

Hal itu terlihat pada peta Pasuruan tahun 1904. Di peta itu terlihat, sepanjang jalan depan masjid terdapat simbol lintasan kereta yang terhubung dari Stasiun Kereta Api Kota Pasuruan.

Konon, jalur tersebut digunakan untuk sarana transportasi kereta pengangkut tebu. Sebab, sejumlah wilayah di Pasuruan dulu memiliki pabrik gula. Sehingga diperlukan mobilitas angkutan tebu. Seperti Pabrik Gula Pleret, Pengkol, Winongan, Ngempit, dan Wonorejo.

PASURUAN, Radar Bromo – Warga Kota Pasuruan mungkin banyak yang tidak tahu bahwa pernah ada perlintasan kereta api di tengah kota. Dan bekas perlintasan kereta api itu ditemukan saat penggalian fondasi untuk proyek payung Madinah.

Bekas rel itu ditemukan tepat di depan Masjid Jamik Al Anwar. Rel kereta itu terlihat setelah lapisan aspal jalan dikeruk menggunakan alat berat. Bentuknya tidak utuh dan berkarat.

Pengerukan dilakukan untuk menyiapkan fondasi payung yang akan dipasang. Rencananya, ada enam payung yang akan dipasang di kawasan itu.

”Hanya ditemukan satu sisi saja. Artinya sudah nggak utuh,” kata Imam, staf Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kota Pasuruan.

Tak berlebihan bila kemudian besi berkarat itu ditengarai bekas perlintasan kereta api di tengah kota. Apalagi berdasarkan dokumen yang diperoleh Jawa Pos Radar Bormo, kawasan tersebut dulunya memang jadi perlintasan kereta.

Hal itu terlihat pada peta Pasuruan tahun 1904. Di peta itu terlihat, sepanjang jalan depan masjid terdapat simbol lintasan kereta yang terhubung dari Stasiun Kereta Api Kota Pasuruan.

Konon, jalur tersebut digunakan untuk sarana transportasi kereta pengangkut tebu. Sebab, sejumlah wilayah di Pasuruan dulu memiliki pabrik gula. Sehingga diperlukan mobilitas angkutan tebu. Seperti Pabrik Gula Pleret, Pengkol, Winongan, Ngempit, dan Wonorejo.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/