24.7 C
Probolinggo
Sunday, June 11, 2023

Selama Musim Tanam-Panen Raya, Penyerapan Pupuk Subsidi Masih Tinggi

DRINGU, Radar Bromo – Permintaan pupuk bersubsidi di lapangan cukup tinggi. Sampai dengan akhir Februari, serapan pupuk urea telah mencapai 24,11 persen. Sementara pupuk NPK mencapai 15,09 persen dari alokasi yang ditentukan tahun ini.

Tingginya permintaan pupuk bersubsidi ini dikarenakan saat ini masih masuk masa tanam padi. Sehingga mempengaruhi jumlah pembelian pada kios-kios pupuk. Karena itulah perlu ada penyediaan stok pupuk yang mencukupi kebutuhan saat masa tanam tersebut.

Berdasarkan data yang ada sampai dengan akhir Februari jenis pupuk urea dari alokasi 30.604,917 ton, telah tersalurkan sebanyak 7.378,03 ton. Dengan persentase salur 24,11 persen. Sementara itu untuk pupuk jenis NPK dari alokasi 23.393,761 ton, telah tersalurkan 3.530,43 ton dengan persentase salur 15,09 persen.

Baca Juga:  Saat Harga Cabai Menjulang, Hama Malah Menyerang

“Januari hingga Maret memang masuk masa tanam padi. Jadi permintaan cukup tinggi,” ujar Kepala Bidang Sarana Penyuluhan dan Pengendalian Pertanian Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo Bambang Suprayitno.

Pengguna pupuk hampir merata di seluruh Kabupaten Probolinggo. Sebab hampir semua wilayah memiliki potensi bagus untuk tanam padi. Hanya 4 yang sedikit bahkan tidak ada yang menanam padi meliputi kecamatan Sumber, Sukapura, Tiris, dan Krucil.

Bambang menuturkan jika sejatinya telah penurunan jumlah petani yang menerima pupuk bersubsidi karena sejalan dengan regulasi yang ada. Petani yang berhak menerima pupuk bersubsidi adalah yang menanam sembilan komoditas tanaman yang mempunyai inflasi tinggi. Meliputi padi, jagung, kedelai, cabai, bawang merah, bawang putih, tebu, kakao dan kopi.

Baca Juga:  BLK Hanya Rampungkan 14 Paket Pelatihan

“Sasaran pupuk sudah diatur yakni sembilan komoditas tanaman yang mempunyai inflasi tinggi. Secara otomatis jumlah sasaran pengguna pupuk juga lebih sedikit, walaupun demikian serapannya tetap banyak,” tuturnya. (ar/fun)

DRINGU, Radar Bromo – Permintaan pupuk bersubsidi di lapangan cukup tinggi. Sampai dengan akhir Februari, serapan pupuk urea telah mencapai 24,11 persen. Sementara pupuk NPK mencapai 15,09 persen dari alokasi yang ditentukan tahun ini.

Tingginya permintaan pupuk bersubsidi ini dikarenakan saat ini masih masuk masa tanam padi. Sehingga mempengaruhi jumlah pembelian pada kios-kios pupuk. Karena itulah perlu ada penyediaan stok pupuk yang mencukupi kebutuhan saat masa tanam tersebut.

Berdasarkan data yang ada sampai dengan akhir Februari jenis pupuk urea dari alokasi 30.604,917 ton, telah tersalurkan sebanyak 7.378,03 ton. Dengan persentase salur 24,11 persen. Sementara itu untuk pupuk jenis NPK dari alokasi 23.393,761 ton, telah tersalurkan 3.530,43 ton dengan persentase salur 15,09 persen.

Baca Juga:  Harga Tembakau Turun, Petani di Kab Probolinggo Mengeluh

“Januari hingga Maret memang masuk masa tanam padi. Jadi permintaan cukup tinggi,” ujar Kepala Bidang Sarana Penyuluhan dan Pengendalian Pertanian Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo Bambang Suprayitno.

Pengguna pupuk hampir merata di seluruh Kabupaten Probolinggo. Sebab hampir semua wilayah memiliki potensi bagus untuk tanam padi. Hanya 4 yang sedikit bahkan tidak ada yang menanam padi meliputi kecamatan Sumber, Sukapura, Tiris, dan Krucil.

Bambang menuturkan jika sejatinya telah penurunan jumlah petani yang menerima pupuk bersubsidi karena sejalan dengan regulasi yang ada. Petani yang berhak menerima pupuk bersubsidi adalah yang menanam sembilan komoditas tanaman yang mempunyai inflasi tinggi. Meliputi padi, jagung, kedelai, cabai, bawang merah, bawang putih, tebu, kakao dan kopi.

Baca Juga:  Warga di Krucil Digegerkan Tulang di Hutan Betek, Ternyata Ini

“Sasaran pupuk sudah diatur yakni sembilan komoditas tanaman yang mempunyai inflasi tinggi. Secara otomatis jumlah sasaran pengguna pupuk juga lebih sedikit, walaupun demikian serapannya tetap banyak,” tuturnya. (ar/fun)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru