26.9 C
Probolinggo
Sunday, September 25, 2022

Semarak Upacara Kemerdekaan RI di Kab Probolinggo dengan Pakaian Adat

KRAKSAAN, Radar Bromo –Setelah dua tahun digelar secara terbatas. Tahun ini, upacara  peringatan detik detik proklamasi kembali digelar terbuka. Pemerintah Kabupaten Probolinggo melakaksanakan upacara di alun-alun Kota Kraksaan, Rabu (17/8). Melibatkan ratusan peserta. Warga pun ikut menyaksikan jalannya upacara dari pinggir alun-alun. Uniknya, para peserta upacara mengenakan pakaian adat.

Upacara dimulai tepat pukul 10.00 atau setelah sirine berbunyi. Dengan pakaian adat, Plt Bupati bertindak selaku inspektur upacara. Pakaian adat dari berbagai daerah juga dikenakan para peserta dari organisasi perangkat daerah dan camat. Upacara juga diikuti legiun veteran Republik Indonesia (LVRI), perwakilan perusahaan hingga mahasiswa dan pelajar.

Upacara itu juga melibatkan sebanyak 70 pasukan pengibar bendera pusaka (Paskibraka). Mereka membentuk barisan dengan formasi 17, 8, 45. Puluhan paskibraka itu merupakan siswa pilihan dari SMA/MA dan SMK yang berasal dari 24 kecamatan se-Kabupaten Probolinggo.

“Ini adalah sejarah. Karena untuk pertamakalinya, sejak dua tahun dilanda pandemi Covid-19. Upacara peringatan detik-detik proklamasi bisa kembali digelar secara terbuka. Melalui momen ini, mari kita bangkit kembali untuk membangun Kabupaten Probolinggo menjadi lebih baik,” ujar Plt Bupati Timbul Prihanjoko.

Saking gembiranya, Plt Bupati Timbul usai menggelar upacara langsung turun ke tengah lapangan menyapa para peserta. Termasuk menyalami komandan upacara, AKP Slamet Prayitno, Kasatpol Airud Polres Probolinggo. Plt Bupati juga mengabadikan momen bersejarah tersebut dengan melakukan sesi foto. Background-nya peserta upacara.

Perasaan bahagia juga terlihat jelas dari para peserta upacara. Salah satunya Erli Susanti dari  Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Diskopar).  Ia mengenakan baju adat Bodo dari Sulawesi Selatan. “Kami pakai baju adat Bodo karena ingin merasakan memakai baju adat dari daerah lain. Kalau baju kebaya atau baju adat Jawa sudah biasa,” katanya.

Menurutnya, dengan memakai baju adat itu, ada perasaan bangga. Ia juga berharap, semakin banyak masyarakat yang bisa mengenal baju adat daerah lain, khususnya para generasi muda. “Meskipun panas saat saya pakai, namun ada perasaan senang bisa memakai baju adat dari daerah lain. Jarang-jarang bisa memakai pakaian adat seperti ini,” katanya. (ar/mie)

KRAKSAAN, Radar Bromo –Setelah dua tahun digelar secara terbatas. Tahun ini, upacara  peringatan detik detik proklamasi kembali digelar terbuka. Pemerintah Kabupaten Probolinggo melakaksanakan upacara di alun-alun Kota Kraksaan, Rabu (17/8). Melibatkan ratusan peserta. Warga pun ikut menyaksikan jalannya upacara dari pinggir alun-alun. Uniknya, para peserta upacara mengenakan pakaian adat.

Upacara dimulai tepat pukul 10.00 atau setelah sirine berbunyi. Dengan pakaian adat, Plt Bupati bertindak selaku inspektur upacara. Pakaian adat dari berbagai daerah juga dikenakan para peserta dari organisasi perangkat daerah dan camat. Upacara juga diikuti legiun veteran Republik Indonesia (LVRI), perwakilan perusahaan hingga mahasiswa dan pelajar.

Upacara itu juga melibatkan sebanyak 70 pasukan pengibar bendera pusaka (Paskibraka). Mereka membentuk barisan dengan formasi 17, 8, 45. Puluhan paskibraka itu merupakan siswa pilihan dari SMA/MA dan SMK yang berasal dari 24 kecamatan se-Kabupaten Probolinggo.

“Ini adalah sejarah. Karena untuk pertamakalinya, sejak dua tahun dilanda pandemi Covid-19. Upacara peringatan detik-detik proklamasi bisa kembali digelar secara terbuka. Melalui momen ini, mari kita bangkit kembali untuk membangun Kabupaten Probolinggo menjadi lebih baik,” ujar Plt Bupati Timbul Prihanjoko.

Saking gembiranya, Plt Bupati Timbul usai menggelar upacara langsung turun ke tengah lapangan menyapa para peserta. Termasuk menyalami komandan upacara, AKP Slamet Prayitno, Kasatpol Airud Polres Probolinggo. Plt Bupati juga mengabadikan momen bersejarah tersebut dengan melakukan sesi foto. Background-nya peserta upacara.

Perasaan bahagia juga terlihat jelas dari para peserta upacara. Salah satunya Erli Susanti dari  Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Diskopar).  Ia mengenakan baju adat Bodo dari Sulawesi Selatan. “Kami pakai baju adat Bodo karena ingin merasakan memakai baju adat dari daerah lain. Kalau baju kebaya atau baju adat Jawa sudah biasa,” katanya.

Menurutnya, dengan memakai baju adat itu, ada perasaan bangga. Ia juga berharap, semakin banyak masyarakat yang bisa mengenal baju adat daerah lain, khususnya para generasi muda. “Meskipun panas saat saya pakai, namun ada perasaan senang bisa memakai baju adat dari daerah lain. Jarang-jarang bisa memakai pakaian adat seperti ini,” katanya. (ar/mie)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/