31.4 C
Probolinggo
Sunday, September 25, 2022

Kemampuan Literasi-Numerasi Siswa Masih Rendah

DRINGU, Radar Bromo– Hasil rapor dimensi siswa SD di Kabupaten Probolinggo masih rendah. Dari lima aspek atau dimensi capaian belajar, berwarna kuning. Artinya, masih di bawah nilai kompetensi minimum.

Lima aspek itu adalah literasi, numerasi, indek karakter, keamanan sekolah, dan kebinekaan. Karena itu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Probolinggo terus berupaya meningkatkannya. Minimal bisa hijau atau sesuai standar nilai.

Koordinator Wilayah Bidang Pendidikan Kecamatan Paiton Ahmad Fathurrazi mengatakan, dilihat dari data rapor pendidikan publik 2022, Kabupaten Probolinggo dengan jumlah satuan 574 dan jumlah responden siswa 10.341, serta jumlah responden guru 3.964 masih berada di warna kuning. Yakni, di bawah kompetensi minimum dengan nilai 1,40 sampai dengan 1,79.

Karena itu, saat ini Disdikbud berupaya meningkatkannya. Salah satunya dengan pemantapan penyusunan perangkat ajar Kurikulum Merdeka bagi guru. “Guru bisa mengajar sesuai tahap capaian dan perkembangan peserta didik,” ujarnya, kemarin (8/8).

Dengan perangkat ajar yang baik dan sesuai kebutuhan siswa, kata Fathurrazi, output-nya kembali kepada siswa. “Siswa diharapkan bisa membaca dan memahami serta menceritakan ulang apa yang dibaca. Lebih fokus pada materi yang penting atau esensial. Sehingga lebih mendalam dan tidak terburu-buru,” jelasnya.

Karena itu, adanya Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) sangat penting. “Makanya, di Kecamatan Paiton, seluruhnya, sekitar 600 siswa ikut simulasi ANBK yang digelar Jawa Pos Radar Bromo,” ujar Ketua Kelompok Kerja Pengawas Sekolah (KKPS) SD di Kecamatan Paiton ini.

Hal senada diterangkan Koordinator Wilayah Bidang Pendidikan Kecamatan Dringu Siti Husnul Chotimah. Menurutnya, simulasi ANBK sangat diperlukan. Karena itu, lebih dari 50 persen siswa di satuan pendidikan di Kecamatan Dringu akan mengikutinya.

DRINGU, Radar Bromo– Hasil rapor dimensi siswa SD di Kabupaten Probolinggo masih rendah. Dari lima aspek atau dimensi capaian belajar, berwarna kuning. Artinya, masih di bawah nilai kompetensi minimum.

Lima aspek itu adalah literasi, numerasi, indek karakter, keamanan sekolah, dan kebinekaan. Karena itu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Probolinggo terus berupaya meningkatkannya. Minimal bisa hijau atau sesuai standar nilai.

Koordinator Wilayah Bidang Pendidikan Kecamatan Paiton Ahmad Fathurrazi mengatakan, dilihat dari data rapor pendidikan publik 2022, Kabupaten Probolinggo dengan jumlah satuan 574 dan jumlah responden siswa 10.341, serta jumlah responden guru 3.964 masih berada di warna kuning. Yakni, di bawah kompetensi minimum dengan nilai 1,40 sampai dengan 1,79.

Karena itu, saat ini Disdikbud berupaya meningkatkannya. Salah satunya dengan pemantapan penyusunan perangkat ajar Kurikulum Merdeka bagi guru. “Guru bisa mengajar sesuai tahap capaian dan perkembangan peserta didik,” ujarnya, kemarin (8/8).

Dengan perangkat ajar yang baik dan sesuai kebutuhan siswa, kata Fathurrazi, output-nya kembali kepada siswa. “Siswa diharapkan bisa membaca dan memahami serta menceritakan ulang apa yang dibaca. Lebih fokus pada materi yang penting atau esensial. Sehingga lebih mendalam dan tidak terburu-buru,” jelasnya.

Karena itu, adanya Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) sangat penting. “Makanya, di Kecamatan Paiton, seluruhnya, sekitar 600 siswa ikut simulasi ANBK yang digelar Jawa Pos Radar Bromo,” ujar Ketua Kelompok Kerja Pengawas Sekolah (KKPS) SD di Kecamatan Paiton ini.

Hal senada diterangkan Koordinator Wilayah Bidang Pendidikan Kecamatan Dringu Siti Husnul Chotimah. Menurutnya, simulasi ANBK sangat diperlukan. Karena itu, lebih dari 50 persen siswa di satuan pendidikan di Kecamatan Dringu akan mengikutinya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/