Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Jadi Stres karena Utang Istri

Fuad Alyzen • Sabtu, 17 Januari 2026 | 10:55 WIB

 

ILUSTRASI
ILUSTRASI

SUDAH berpuluh tahun Pandi (nama samaran), 44 dan Zainab (juga nama samaran), 42, hidup berumah tangga. Pasangan suami istri di Probolinggo ini awalnya hidup bahagia.

Namun sang suami jiwanya terganggu usai mengetahui utang sang istri selama ini. Dia harus menanggungnya, namun dia tidak kuat dan berakhir memilukan.

Bahkan Pandi kini harus dikurung dalam kamar lantaran sering mengamuk. Banyak orang menyebut, dia menderita karena tidak kuat memikirkan utang  sang istri.

Rumah Pandi selalu sepi. Pintunya ditutup rapat. Bukannya hanya karena si Pandi depresi. Keluarga ini harus menanggung malu karena juga banyak utang ke tetangga.

Kakak si Pandi, Wahyun (juga nama samaran), 50,  menceritakan, pernikahan Pandi memang atas kemauannya sendiri. Dulu sempat pacaran lalu melamar Zainab.

Tak terlintas rupanya sang istri ini gila harta.

Saat itu, Pandi sudah bekerja sebagai kuli bangunan. Walaupun pekerjaan suami kuli bangunan, sang istri ketika main ke rumah suaminya terlihat sangat menerima. “Biasa saja. Mereka terlihat sama-sama menerima satu sama lain,” ujarnya.

Hingga akhirnya mereka menikah. Sampai memiliki satu anak perempuan. Nah dugaannya setelah itu sang istri mulai berutang.

Padahal hampir semua penghasilan Pandi diberikan ke Zainab. Ketika menerima gaji, 75 persen dinafkahkan untuk keluarga. Sisanya disimpan untuk keperluan mendadak.

Itu sudah biasa Pandi lakukan agar di saat uang yang digunakan istri habis, sisanya bisa dia gunakan.

Pandi tidak pernah libur bekerja. Jasanya selalu diminati banyak orang. Karena hasil pekerjaannya rapi dan bersih. Bahkan banyak orang mengantre jasanya saat membutuhkan perbaikan dan bangun rumah.

Hingga suatu ketika, Zainab tiba-tiba berjualan mamin di rumahnya. Perubahan lainnya, Zainab selalu mengenakan gelang emas yang banyak. Entah kalung, gelang, cincin, anting, dan lainnya. Semuanya lengkap. Orang berpikir itu karena kerja keras si Pandi.

Pandi pun tidak berpikir aneh-aneh. Dia hanya fokus bekerja demi menghidupi anak-istrinya di rumah.

Pagi berangkat, petang pulang ke rumah. Malamnya beristirahat di rumahnya. Itu terus dilakukannya walaupun pekerjaannya hanya kuli bangunan.

Bertahun-tahun gejolak rumah tanggapun terjadi. Suatu ketika penagih bank mendatangi rumahnya. Kebetulan itu diketahui Pandi. Ternyata sang istri mengaku dia meminjam untuk keperluan anak tanpa sepengetahuan Pandi.

Karena alasan itu, Pandi luluh dan menanggung utang itu sendirian. Namun nafkah istri dipotong, karena gajinya hanya sebatas gaji kuli bangunan. Utang itu sampai dilunasi Pandi.

Namun si Pandi tidak menyadari jika utang istrinya bukan hanya itu saja. Tetangga, orang lain, bahkan bank sudah banyak yang diutangi istrinya. Sang istri selalu menutup pintu agar terhindar penagihan bank.

Hingga suatu ketika, Pandi mendengar berita utang istrinya ketika semua orang menagih uang itu ke Pandi. Dan yang harus dibayar tak tanggung-tanggung. Puluhan hingga ratusan juta.  “Uang dari mana adik saya hanya bekerja bangunan,” katanya.

Dari itu Pandi emosi ke istrinya hingga mengusir istrinya dari rumah. Namun sang istri tidak mau diusir. Zainab mengaku akan bertanggung jawab dengan cara merantau ke Jakarta. Si Pandi yang sudah geram menyuruh istrinya cepat melunasinya.

Pergilah merantau sang istri ke Jakarta. Sang suami tetap melakukan aktivitasnya sembari menabung untuk membayar utang.  

Setahun kemudian, istrinya pulang. Namun dia hanya membawa uang yang tidak sampai seperempat utangnya. Pandi pun memutar otaknya agar bisa membayar sisa utang.

Hingga akhirnya dia terpaksa menjual tanah warisannya. Uang itu untuk melunasi utang. Nominal uang itu bisa membayar utang 90 persennya saja.

Ditambah uang tabungan Pandi dan pendapatan si istri bekerja di Jakarta selama setahun. Pandi lantas menyuruh istrinya untuk melunasi utangnya.

“Dia terpaksa menjual tanah bapak, tujuannya agar bisa memulai dari awal. Berumah tangga tanpa tagihan utang,” ujar Wahyun.

Setelah pikiran si Pandi sudah nyaman, dia lantas beraktivitas seperti biasa bekerja keras tanpa batas. Tetapi Pandi kembali ditagih orang-orang sebelumnya. Pandi pun heran dan menanyakan istrinya.

Istri ditanya begitu tidak mengakui. Akhirnya setelah beberapa penekanan istri mengakui bahwa uang untuk membayar utang ternyata digunakannya untuk kepentingan pribadi.

Jadilan Pandi marah. Karena harapan untuk memulai dari awal rumah tangga atau memperbaikinya kandas. Di sisi lain, hanya tanah itulah satu-satunya harta yang dimilikinya.

Saat itu Pandi tidak mengusir istrinya. Dalam satu rumah itu si Pandi selalu marah-marah. Hingga beberapa bulan kemudian, si Pandi terlihat di luar rumah dan mulai kerap mengamuk ke semua orang.

Karena itu, dia akhirnya dikurung dalam kamarnya. “Sekarang suka marah-marah di dalam kamar. Kemungkinan gara-gara utang itu,” katanya.

Tetangga Pandi sebut saja Mila, 30. Dia menyebut istri Pandi ini sering ngutang. Nominalnya antara Rp 100 sampai 500 ribu. Namun karena sering ngutang, akhirnya menumpuk.

“Saat ditagih bilang hari sekian. Tapi sampai berbulan-bulan. Kalau ditagih menjanjikan terus. Zainab sering jadi bahan gosip,” katanya. (zen/fun)

Editor : Abdul Wahid
#suami istri #utang #pinjol