alexametrics
25C
Probolinggo
Sunday, 17 January 2021

Terima Banyak Masukan Masyarakat untuk City Branding Kota Pasuruan

PANGGUNGREJO, Radar Bromo – Proses pembahasan city branding terus dilakukan Pemkot Pasuruan. Senin (29/7), laporan hasil riset yang dilakukan Bappelitbangda Kota Pasuruan itu disampaikan dalam Forum Group Discussion (FGD).

Sekretaris Bappelitbangda Kota Pasuruan Fendy Krisdiyono mengutarakan, gagasan city branding itu diharapkan dapat benar-benar terwujud tahun ini. Dengan begitu, identitas Kota Pasuruan saat ini dapat dimunculkan guna menaikkan daya saing dengan daerah lain.

“Karena sampai saat ini memang belum punya identitas yang dapat dijual. Melalui city branding ini, kami harap agar Kota Pasuruan punya nilai tambah yang akan berdampak pada kesejahteraan rakyat,” ungkap dia.

Nah, tahapan untuk memunculkan identitas sebagai brand suatu daerah, lanjut Fendy, mau tak mau harus selaras dengan keinginan masyarakatnya. Karena itu, konsep city branding yang kini mulai digali harus bersifat spasial (data yang memiliki referensi ruang kebumian atau geoference). “Istilahnya harus menebar jaring asmara atau penjaringan aspirasi masyarakat mulai dari penyusunan konsep. Proses inovasi dengan sistem bottom-up ini yang kami mulai,” jelasnya.

Karena jika konsep itu disusun secara parsial atau disusun oleh pemerintah saja, maka hasilnya dikhawatirkan tak optimal. “Namun, jika melibatkan masyarakat, tentu ada rasa memiliki karena menjadi kebutuhan bersama,” tambahnya.

Selama FGD, Konsultan Bappelitbangda Ardiansyah Akbar menyampaikan jika pihaknya telah melakukan riset untuk menyiapkan tahapan branding. Riset dilakukan melalui berbagai metode. Mulai dari riset online, observasi, hingga interview dengan sejumlah tokoh. “Tahapan selanjutnya, menyimpulkan big idea untuk persiapan sayembara logo dan tagline-nya,” katanya. Masing-masing peserta yang hadir juga diminta untuk menyampaikan pendapatnya berkaitan dengan bahan yang akan di-branding.

Ketua Dewan Kesenian Kota Pasuruan Aditya Rahman menyebut, sejumlah ikon warisan budaya yang banyak dijumpai di Kota Pasuruan dapat menjadi penunjang city branding. Seperti Masjid Jamik Al Anwar, beberapa bangunan kuno peninggalan pemerintah kolonial, hingga perahu pinisi yang kini digunakan nelayan.

“Semua itu memenuhi unsur heritage. Muara dari city branding harus memunculkan industry tourism yang nantinya akan menggerakkan sektor perekonomian lain seperti industri barang atau jasa,” bebernya.

Sementara, Dedy Setiawan yang mewakili komunitas berharap dengan adanya city branding, nantinya dapat merepresentasikan berbagai kultur masyarakat Kota Pasuruan. Selama ini, masyarakat Kota Pasuruan dinilai berkarakter keras. “Namun, bagaimana upaya kita mengubah citra keras itu menjadi suatu energi. Saya juga lebih menyarankan agar tagline yang diusung nanti menggunakan bahasa Jawa saja, jangan keinggris-inggrisan,” ucapnya.

Lain halnya yang disampaikan peserta lain, Indra Permadi dari kalangan pengusaha travel. Ia justru ingin agar tagline yang dimunculkan nanti memakai bahasa internasional. Sebab, pangsa pasar yang bakal disasar harus meluas hingga mancanegara.

Indra menyinggung keberadaan bangunan kolonial yang ada di Kota Pasuruan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan mancanegara. “Ini, menjadi sesuatu yang unik bagi mereka,” ungkapnya. (tom/mie)

MOST READ

BERITA TERBARU