Tim JPIP Pantau Penerapan Pendidikan Inklusif di Kota Probolinggo

PROBOLINGGO – Penerapan pendidikan inklusif di Kota Probolinggo, dipantau tim The Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi (JPIP). Selasa (28/8), JPIP berkunjung ke kantor Disdikpora Kota Probolinggo.

Tujuannya, yaitu penilaian Jawa Pos Award. Penilaian ini terutama berkaitan dengan pelaksanaan program pendidikan inklusif.

Tim JPIP banyak bertanya tentang pelaksanaan pendidikan inklusif pada Disdikpora. Terutama pelaksanaan program Aku Anak Hebat.

“Untuk tahun ini isunya adalah inklusif. Kota Probolinggo mengirimkan proposal sekitar dua bulan lalu. Ada tujuh OPD,” ujar Hanif Mualifah, salah satu tim penilai dari JPIP.

Namun, dari tujuh OPD yang mengajukan proposal, hanya dua OPD yang lolos. Yaitu, Dinas Sosial dan Disdikpora. “Di Disdikpora terkait pendidikan inklusif. Sedangkan di Dinsos terkait program Disabilitas Tangguh dan Sejahtera,” ujarnya.

Menurut Hanif, ada beberapa penilaian dalam JPIP Award. Seperti inovasi yang dikembangkan dan keunggulan program jika dibandingkan daerah lain.

“Juga penilaian tentang perencanaan, pelaksanaan, dan monitoring. Banyak daerah itu program hanya sebatas program saja. Tapi tidak ada monitoring lanjutan,” ujarnya.

Tanpa monitoring, menurutnya, membuat output dari program tidak keluar. “Selain itu, juga ada unsur kemanfaatan bagi penerima manfaat program pendidikan inklusif. Terutama bagi siswa pendidikan inklusif,” ujarnya.

Linda, ketua Musyawarah Guru Pembimbing Khusus (GPK) Kota Probolinggo menjelaskan, saat ini di kota ada 114 GPK. Mulai dari tingkat PAUD sampai SMA/SMK.

“Jumlah GPK ini menyesuaikan dengan jumlah siswa. Jika jumlah siswa ABK bertambah, maka jumlah GPK ditambah melalui pelatihan khusus,” jelasnya.

Selain itu, Moch Maskur, kepala Disdikpora menjelaskan, sejak 2014 di Kota Probolinggo telah berdiri Pokja Inklusif. “Saat itu oleh Kemendikbud setiap Kabupaten/Kota diminta ada pokja Inklusif. Tahun 2014 itu juga mengawali pelaksanaan program pendidikan inklusif di beberapa sekolah. Seperti SDN Jati V, SMPN 3, SMPN 10, dan SMKN 3,” ujarnya.

Selain mendatangi Disdikpora, tim JPIP juga datang ke sekolah inklusif di kota. Antara lain ke SMPN 3 dan SDN Jati V. Tim datang untuk melihat siswa ABK yang belajar bersama siswa non ABK. (put/hn)