alexametrics
31.7 C
Probolinggo
Saturday, 13 August 2022

Pandemi Belum Berlalu, Tahun Ini Tak Gelar Skilot-Praonan di Pasuruan

LEKOK, Radar Bromo – Lebaran ketupat atau H+7 Lebaran tahun ini bakal terasa berbeda di Kecamatan Lekok. Sebab, tradisi Skilot dan Praonan yang rutin digelar, tahun ini dipastikan tak digelar.

Sekretaris Disparbud Kabupaten Pasuruan Gunawan Wicaksono mengatakan, tak digelarnya tradisi itu untuk menghindari kerumunan orang. “Kami sudah lakukan koordinasi baik kepada panitia dan Pak Camat Lekok. Memastikan tahun ini ditiadakan untuk Skilot dan Praonan,” terangnya.

Selain itu, dari Desa dan Kecamatan yang biasanya menyelenggaran juga melakukan sosialisasi. Sehingga, masyarakat tahu dan mematuhi terkait larangan ini.

Camat Lekok Fauzan juga memastikan bahwa tahun ini tradisi Praonan dan Festival Skilot ditiadakan. Hal ini mengaju pada Surat Edaran Pemkab Pasuruan yang melarang kegiatan halalbihalal dan yang menimbulkan keramaian.

“Termasuk kami sudah melakukan rapat internal dengan desa yang rutin menyelenggarakan Festival Skilot dan tradisi Praonan. Dari rapat tersebut, kami sama-sama sepakat memutuskan untuk ditiadakan,” terangnya.

Menurut Camat, ditiadakan tradisi rutin tahunan ini jelas mengecewakan masyarakat. Apalagi kegiatan rutin ini cukup meningkatkan ekonomi warga sekitar.

Namun, langkah ini harus ditempuh untuk menekan penyebaran Covid-19. Agar larangan ini diketahui semua masyarakat.

Mulai kemarin (28/5) juga dilakukan woro-woro dengan mobil keliling di Kecamatan Lekok. “Termasuk segera kami pasang banner pengumuman di pintu-pintu masuk jalan Lekok. Agar masyarakat sekitar mengetahui bahwa Skilot, Praonan, petik laut, dan perahu hias ditiadakan tahun ini,” ujarnya. (eka/mie)

LEKOK, Radar Bromo – Lebaran ketupat atau H+7 Lebaran tahun ini bakal terasa berbeda di Kecamatan Lekok. Sebab, tradisi Skilot dan Praonan yang rutin digelar, tahun ini dipastikan tak digelar.

Sekretaris Disparbud Kabupaten Pasuruan Gunawan Wicaksono mengatakan, tak digelarnya tradisi itu untuk menghindari kerumunan orang. “Kami sudah lakukan koordinasi baik kepada panitia dan Pak Camat Lekok. Memastikan tahun ini ditiadakan untuk Skilot dan Praonan,” terangnya.

Selain itu, dari Desa dan Kecamatan yang biasanya menyelenggaran juga melakukan sosialisasi. Sehingga, masyarakat tahu dan mematuhi terkait larangan ini.

Camat Lekok Fauzan juga memastikan bahwa tahun ini tradisi Praonan dan Festival Skilot ditiadakan. Hal ini mengaju pada Surat Edaran Pemkab Pasuruan yang melarang kegiatan halalbihalal dan yang menimbulkan keramaian.

“Termasuk kami sudah melakukan rapat internal dengan desa yang rutin menyelenggarakan Festival Skilot dan tradisi Praonan. Dari rapat tersebut, kami sama-sama sepakat memutuskan untuk ditiadakan,” terangnya.

Menurut Camat, ditiadakan tradisi rutin tahunan ini jelas mengecewakan masyarakat. Apalagi kegiatan rutin ini cukup meningkatkan ekonomi warga sekitar.

Namun, langkah ini harus ditempuh untuk menekan penyebaran Covid-19. Agar larangan ini diketahui semua masyarakat.

Mulai kemarin (28/5) juga dilakukan woro-woro dengan mobil keliling di Kecamatan Lekok. “Termasuk segera kami pasang banner pengumuman di pintu-pintu masuk jalan Lekok. Agar masyarakat sekitar mengetahui bahwa Skilot, Praonan, petik laut, dan perahu hias ditiadakan tahun ini,” ujarnya. (eka/mie)

MOST READ

BERITA TERBARU

/