alexametrics
29.7 C
Probolinggo
Thursday, 26 May 2022

Perlu Kurangi Pernikahan Dini untuk Cegah Stunting

KRAKSAAN, Radar Bromo – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo terus berusaha melakukan penurunan angka stunting di daerahnya. Tahun ini Dinkes mengklaim telah berhasil menurunkan sekitar satu persen angka stunting, yakni dari 17 persen ke 16 persen. Tahun depan, dinas fokus untuk pengurangan jumlah pengurangan pernikahan dini.

Hal itu diungkap Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo Anang Budi Yoelijanto. Dia mengatakan, pengurangan pernikahan dini juga bisa mengurangi angka stunting. Pasalnya, biasanya anak stunting lahir dari ibu muda yang kurang mengerti terkait masalah gizi.

“Mereka (pasangan muda yang menikah dini) ini, sebelum menikah harus diberikan pemahaman,” katanya.

Lebih lanjut, menurutnya, pemahaman kepada generasi muda harus dilakukan terus. Selain pemahaman, mereka harus diberikan motivasi. “Sebagai generasi muda Kabupaten Probolinggo, remaja harus menjauhi narkoba, menghindari seks bebas, dan pernikahan dini. Ini merupakan salah satu upaya untuk mencegah stunting,” katanya.

Dinkes berharap, nantinya para remaja mengerti bahwa jika berkeluarga dan mempunyai anak, mereka betul-betul mempersiapkan diri. Tidak hanya itu, menurut pria yang akrab disapa Anang itu, stunting diawali pembentukan keluarga. Jika keluarga tersebut tidak paham dengan pola asuh dan lainnya, maka besar kemungkinan akan melahirkan anak stunting.

“Semua ini kami orientasikan untuk menyukseskan visi misi Bupati dan Wakil Bupati dalam menurunkan AKI (Angka Kematian Ibu), AKB (Angka Kematian Bayi), dan stunting,” tandasnya. (sid/fun)

KRAKSAAN, Radar Bromo – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo terus berusaha melakukan penurunan angka stunting di daerahnya. Tahun ini Dinkes mengklaim telah berhasil menurunkan sekitar satu persen angka stunting, yakni dari 17 persen ke 16 persen. Tahun depan, dinas fokus untuk pengurangan jumlah pengurangan pernikahan dini.

Hal itu diungkap Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo Anang Budi Yoelijanto. Dia mengatakan, pengurangan pernikahan dini juga bisa mengurangi angka stunting. Pasalnya, biasanya anak stunting lahir dari ibu muda yang kurang mengerti terkait masalah gizi.

“Mereka (pasangan muda yang menikah dini) ini, sebelum menikah harus diberikan pemahaman,” katanya.

Lebih lanjut, menurutnya, pemahaman kepada generasi muda harus dilakukan terus. Selain pemahaman, mereka harus diberikan motivasi. “Sebagai generasi muda Kabupaten Probolinggo, remaja harus menjauhi narkoba, menghindari seks bebas, dan pernikahan dini. Ini merupakan salah satu upaya untuk mencegah stunting,” katanya.

Dinkes berharap, nantinya para remaja mengerti bahwa jika berkeluarga dan mempunyai anak, mereka betul-betul mempersiapkan diri. Tidak hanya itu, menurut pria yang akrab disapa Anang itu, stunting diawali pembentukan keluarga. Jika keluarga tersebut tidak paham dengan pola asuh dan lainnya, maka besar kemungkinan akan melahirkan anak stunting.

“Semua ini kami orientasikan untuk menyukseskan visi misi Bupati dan Wakil Bupati dalam menurunkan AKI (Angka Kematian Ibu), AKB (Angka Kematian Bayi), dan stunting,” tandasnya. (sid/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/