Bencana Banjir Masih Mengancam, Awal Tahun Tiga Banjir

KANIGARAN, Radar Bromo – Tingginya curah hujan di Kabupaten Probolinggo pada awal tahun ini menyebabkan beberapa daerah terkena banjir. Sampai kemarin, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo, mencatat sudah tiga kali bencana banjir melanda wilayahnya.

Kasi Kedaruratan BPBD Kabupaten Probolinggo Abdullah, mengatakan bencana banjir yang telah terjadi pada awal tahun menjadi perhatian pihaknya. Meski banjir tidak memiliki tingkat kerawanan seperti bencana angin kencang dan tanah longsor, namun perlu juga diwaspadai agar tidak menimbulkan korban jiwa.

“Banjir tidak seperti angin kencang dan tanah longsor yang kerap terjadi. Namun, saat intensitas curah hujan cukup tinggi, banjir perlu diwaspadai,” ujarnya.

Kewaspadaan banjir perlu dilakuakn, terutama warga yang bermukim di daerah bantaran sungai. Sebab, mereka akan terdampak langsung jika debit air sungai meningkat. Atau, wilayah sekitar aliran air hujan di permukiman padat penduduk yang berpontensi menimbulkan genangan air akibat tingginya curah hujan.

“Banjir dipemukiman daerah bantaran sungai merupakan dampak langsung karena debit air meningkat. Di pemukiman padat penduduk, banjir kebanyakan terjadi karena drainase yang tidak berfungsi dengan baik,” ujarnya.

Selama sebulan ini, ada tiga banjir yang terdata BPBD. Di antaranya, terjadi di Desa Gebangan, Kecamatan Krejengan, pada Selasa (7/1) lalu. Saat, ada sejumlah rumah warga tergenang air akibat hujan beberapa jam.

Pada hari yang sama juga terjadi di Kelurahan Sidomukti, Kecamatan Kraksaan. Akibat tingginya curah hujan, berdampak pada naiknya debit air sungai dan menggerus tembok salah satu rumah warga. Keesokan harinya terjadi di Desa Sumberejo, Kecamatan Tongas. Akibat peningkatan debit sungai di Dusun Klompek, mengakibatkan jembatan ambrol.

Syukur, jumlah ini jauh lebih sedikit dibanding awal tahun kemarin. Saat itu, ada enam bencana banjir di Kabupaten Proolinggo. Di antaranya, masing-masing satu kejadian di Kecamatan Tongas, Paiton, Bantaran, Wonomerto. Serta, dua kejadian di Kecamatan Gading.

“Potensi banjir biasa terjadi di seluruh wilayah Kabupaten Probolinggo, utamanya daerah bantaran sungai dan wilayah permukiman yang memiliki drainase yang tidak berfungsi dengan baik. Karena itu, koordinasi dengan tagana dan Muspika tetap kami lakukan untuk percepatan evakuasi,” ujarnya. (ar/rud)