98 Warga Pasuruan Jadi TKI, Mayoritas Perempuan

BUGUL KIDUL, Radar Bromo – Jumlah warga Kabupaten Pasuruan, yang menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) atau bekerja di luar negeri makin banyak. Sampai akhir 2019, jumlah yang terdaftar di Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Pasuruan, mencapai 98 orang. Jumlah ini meningkat dibanding pada 2018 lalu yang hanya 77 orang.

Kabid Penempatan dan Perluasan Kesempatan Kerja Disnaker Kabupaten Pasuruan Suhartana, mengatakan jumlah TKI yang berangkat ke luar negeri cenderung meningkat. Selain itu, tidak semua TKI yang bekerja ke luar dari Kabupaten Pasuruan, terdata di Disnaker. “Data Disnaker ini adalah TKI yang mendapatkan pengajuan rekom dari kami untuk ke P4TKI atau LP3TKI dan berangkat lewat Surabaya,” ujarnya.

Tingginya peningkatan jumlah TKI pada 2019, menurut Suhartana, selain karena populasi masyarakat yang terus meningkat, juga ada pengiriman TKI yang terdata sebagai tenaga formal atau pekerja konstruksi. Selain pekerja legal yang terdata di Disnaker, di lapangan juga ada TKI ilegal yang berangkat sendiri ke luar negeri untuk bekerja.

Menurutnya, biasanya mereka menggunakan alasan berlibur atau ikut saudara di luar negeri. TKI yang tidak terdaftar ini baru akan terdeteksi saat ada kasus yang menyangkut ketenagakerjaan.

Sedangkan, TKI legal tahun kemarin terdata ada 98 orang. Dari jumlah itu 22 TKI laki-laki dan 76 TKI perempuan. Jumlah ini meningkat lebih tinggi dari dua tahun sebelumnya. Pada 2018 ada 77 TKI dan pada 2017 hanya 64 TKI.

Dari puluhan TKP pada 2019, sejumlah 77 TKI bekerja di sektor informal, seperti housemaid atau care giver untuk merawat orang jompo. Dari jumlah mereka, terbanyak berangkat ke Hongkong, tercatat ada 39 TKI disusul ke Taiwan 31 TKI, Malaysia 16 TKI, dan sisanya ke Singapore dan Brunai.

Kendati lebih banyak TKI sektor informal yang bekerja di luar negeri, mereka setidaknya sudah melakukan pelatihan hingga 3-4 bulan atau 600 jam di Balai Latihan Kerja (BLK) TKI. Dalam BLK ini, mereka tidak hanya diajarkan tentang keterampilan kerja, tapi juga budaya sampai bahasa di negara tujuan. (eka/rud)