alexametrics
25.8 C
Probolinggo
Friday, 27 May 2022

Menjaga Terumbu Karang di 9 Titik Perairan Probolinggo

DRINGU, Radar Bromo – Kerusakan terumbu karang di wilayah perairan Kabupaten Probolinggo, mendapat perhatian serius dari Dinas Perikanan kabupaten setempat. Dua perairan menjadi fokus dinas lantaran tingkat kerusakan dinilai sudah parah. Langkah penyelamatan itu bahkan sudah dirancang dinas, dan akan melibatkan banyak pihak.

Adapun kerusakan terumbu karang tersebut berada di perairan Gili Ketapang serta Binor di Paiton. Hal itu diungkap Kabid Perikanan Tangkap Dinas Perikanan setempat, Hari Pur Sulistyanto. Menurutya, saat ini kondisi terumbu karang di perairan Kabupaten Probolinggo lebih baik dibandingkan dengan tahun 1990-an. Karena itu, pihaknya terus melakukan perbaikan terumbu karang.

“Sampai saat ini, kami belum mempunyai data yang valid. Memang kerusakan terumbu karang di perairan kita, diperkirakan lebih dari 50 persen. Namun itu, kerusakan sebelumnya tahun 90-an. Sekarang kami dan dinas perikanan provinsi, sedang melakukan pemetaan,” katanya.

Kawasan terumbu karang wilayah Probolinggo berada di perairan Binor, Kecamatan Paiton; dan Pulau Gili Ketapang, Kecamatan Sumberasih. Menurutnya, disekitar pulau Gili, ekosistem terumbu karang mencapai 180 hektare. Pada dekade 90-an kerusakan terumbu karang sangat parah, akibat tingginya aktivitas penangkapan ikan.

“Dari hitungan kasar saat ini, setidaknya masih tersisa 35 persen terumbu karang tumbuh dengan bagus,” katanya.

Upaya untuk menyelamatkan terumbu karang dilakukan Dinas Perikanan sejak 2012 lalu. Mereka mencoba melakukan pelestarian dengan mengembangkan rumah ikan (fish apartement) dan terumbu karang buatan (transplantasi). Upaya perbaikan itu ada di 9 titik, di antaranya perairan di Desa Randuputih dan Dringu, Kecamatan Dringu; Binor, Jabung dan Randutatah, Kecamatan Paiton.

Kemudian juga ada di perairan Desa Bayeman, Curahdringu, Kecamatan Tongas; Pulau Gili Ketapang dan Desa Banjarsari, Kecamatan Sumberasih. “Namun, pertumbuhan terumbu karang transplantasi ini sangat lambat. Sehingga sejak 2018, metode baru dengan bio-reeftek, mulai dikembangkan,” ungkapnya.

Teknologi ini berbahan organik dari batok kelapa. Sekitar 250 modul sudah dipasang. Ia melanjutkan, Selain upaya perbaikan fisik, penjagaan adanya ancaman perusakan oleh oknum tak bertanggung jawab, juga dilakukan.

Untuk itu, Dinas Perikanan melibatkan kelompok nelayan, dengan menyerahkan perawatan fish apartement pada tiap kawasan konservasi. Tujuannya, agar tempat bermain dan berlindung bagi ikan kecil dari predator, tetap terjaga.

“Kalau terumbu karang buatan dikelola oleh Pomaswas kelompok masyarakat pengawas setempat. Kelompok pengawas yang berbasis masyarakat yang membantu kita melakukan pengawasan sumberdaya perikanan. Pokmaswas ini beranggotakan para ketua kelompok nelayan,” terangnya. (sid/fun)

DRINGU, Radar Bromo – Kerusakan terumbu karang di wilayah perairan Kabupaten Probolinggo, mendapat perhatian serius dari Dinas Perikanan kabupaten setempat. Dua perairan menjadi fokus dinas lantaran tingkat kerusakan dinilai sudah parah. Langkah penyelamatan itu bahkan sudah dirancang dinas, dan akan melibatkan banyak pihak.

Adapun kerusakan terumbu karang tersebut berada di perairan Gili Ketapang serta Binor di Paiton. Hal itu diungkap Kabid Perikanan Tangkap Dinas Perikanan setempat, Hari Pur Sulistyanto. Menurutya, saat ini kondisi terumbu karang di perairan Kabupaten Probolinggo lebih baik dibandingkan dengan tahun 1990-an. Karena itu, pihaknya terus melakukan perbaikan terumbu karang.

“Sampai saat ini, kami belum mempunyai data yang valid. Memang kerusakan terumbu karang di perairan kita, diperkirakan lebih dari 50 persen. Namun itu, kerusakan sebelumnya tahun 90-an. Sekarang kami dan dinas perikanan provinsi, sedang melakukan pemetaan,” katanya.

Kawasan terumbu karang wilayah Probolinggo berada di perairan Binor, Kecamatan Paiton; dan Pulau Gili Ketapang, Kecamatan Sumberasih. Menurutnya, disekitar pulau Gili, ekosistem terumbu karang mencapai 180 hektare. Pada dekade 90-an kerusakan terumbu karang sangat parah, akibat tingginya aktivitas penangkapan ikan.

“Dari hitungan kasar saat ini, setidaknya masih tersisa 35 persen terumbu karang tumbuh dengan bagus,” katanya.

Upaya untuk menyelamatkan terumbu karang dilakukan Dinas Perikanan sejak 2012 lalu. Mereka mencoba melakukan pelestarian dengan mengembangkan rumah ikan (fish apartement) dan terumbu karang buatan (transplantasi). Upaya perbaikan itu ada di 9 titik, di antaranya perairan di Desa Randuputih dan Dringu, Kecamatan Dringu; Binor, Jabung dan Randutatah, Kecamatan Paiton.

Kemudian juga ada di perairan Desa Bayeman, Curahdringu, Kecamatan Tongas; Pulau Gili Ketapang dan Desa Banjarsari, Kecamatan Sumberasih. “Namun, pertumbuhan terumbu karang transplantasi ini sangat lambat. Sehingga sejak 2018, metode baru dengan bio-reeftek, mulai dikembangkan,” ungkapnya.

Teknologi ini berbahan organik dari batok kelapa. Sekitar 250 modul sudah dipasang. Ia melanjutkan, Selain upaya perbaikan fisik, penjagaan adanya ancaman perusakan oleh oknum tak bertanggung jawab, juga dilakukan.

Untuk itu, Dinas Perikanan melibatkan kelompok nelayan, dengan menyerahkan perawatan fish apartement pada tiap kawasan konservasi. Tujuannya, agar tempat bermain dan berlindung bagi ikan kecil dari predator, tetap terjaga.

“Kalau terumbu karang buatan dikelola oleh Pomaswas kelompok masyarakat pengawas setempat. Kelompok pengawas yang berbasis masyarakat yang membantu kita melakukan pengawasan sumberdaya perikanan. Pokmaswas ini beranggotakan para ketua kelompok nelayan,” terangnya. (sid/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/