alexametrics
26.4 C
Probolinggo
Tuesday, 17 May 2022

Tambah Wawasan, Peserta Santri Entrepreneur 2019 Ngaji Ilmu ke Batu

BATU, Radar Bromo – Para peserta lomba Santri Entrepreneur 2019 Kota Probolinggo terus memperdalam ilmu kewirausahaan. Setelah berkunjung ke perusahaan air minum dalam kemasan Santri di Kabupaten Pasuruan, Selasa (19/11) mereka menimba ilmu ke Gapokja Mitra Arjuna, Kota Batu.

Di sana, mereka disambut oleh Ketua Gapokja Luki Budiarti dan sekertarisnya, Imam Hanafi. Ada juga bagian marketing, Eli Kusbiyanti. Mereka mengajak seluruh peserta berkeliling ke lokasi produksi. Usai berkeliling, peserta memasuki aula untuk tukar pendapat dan belajar bersama.

Para peserta terlihat antusias. Mereka melontarkan puluhan pertanyaan. Salah satunya disampaikan oleh Intifa’a dari Ponpes Nurul Islam. Dengan semangat wirausahanya, dia mengajukan tujuh pertanyaan sekaligus. Salah satunya tips bagi pemula cara mempertahankan produk.

Semangat yang sama diungkapkan Bahyun dari Ponpes Muta’alimin. Ia menanyakan tips agar potensi mangga di Kota Probolinggo bisa dioptimalkan. Tidak hanya dibuat dodol. “Kalau sudah musim mangga, harganya murah sekali. Bahkan, sampai terlalu matang,” ujarnya.

Menyikapi itu, Luki Budiarti mengatakan, yang paling penting dalam berwirausaha adalah semangat untuk memulai disertai keuletan. Sebab, saat usaha awal pasti ada saja kendalanya. “Untuk produk celup apel saja kami sampai satu tahun baru menemukan takaran yang pas. Awalnya, berubah rasa, cepat rusak, dan sebagainya,” ujar Luki.

Hal senada diungkapkan Eli. Menurutnya, terkait pengolahan keripik apel mengapa rasanya tidak berubah, karena menggunakan alat semacam vacum press. Termasuk menggunakan oven. Karenanya, proses keringnya bagus dan tidak mengubah rasa. “Jika rasa mangganya asam-asam manis, maka ketika dibuat keripik rasanya juga demikian,” ujarnya.

Menyikapi persoalan alat, Kabid Pemberdayaan Usaha Mikro DKUPP Kota Probolinggo Roby Susanto mengatakan mengenai modal dan alat di dinasnya sebetulnya ada. Tinggal seberapa serius wirausaha. Misalnya, untuk mengajukan permohonan bantuan alat dengan melengkapi persyaratannya.

“Misalkan fotokopi identitas, produk yang dibuat, izin usaha dari kelurahan termasuk NPWP. Namun, setelah diproses tidak bisa langsung dapat saat itu juga. Bisa jadi diajukan tahun 2017 baru dapat 2018 atau 2019,” ujarnya. (rpd/rud/fun)

BATU, Radar Bromo – Para peserta lomba Santri Entrepreneur 2019 Kota Probolinggo terus memperdalam ilmu kewirausahaan. Setelah berkunjung ke perusahaan air minum dalam kemasan Santri di Kabupaten Pasuruan, Selasa (19/11) mereka menimba ilmu ke Gapokja Mitra Arjuna, Kota Batu.

Di sana, mereka disambut oleh Ketua Gapokja Luki Budiarti dan sekertarisnya, Imam Hanafi. Ada juga bagian marketing, Eli Kusbiyanti. Mereka mengajak seluruh peserta berkeliling ke lokasi produksi. Usai berkeliling, peserta memasuki aula untuk tukar pendapat dan belajar bersama.

Para peserta terlihat antusias. Mereka melontarkan puluhan pertanyaan. Salah satunya disampaikan oleh Intifa’a dari Ponpes Nurul Islam. Dengan semangat wirausahanya, dia mengajukan tujuh pertanyaan sekaligus. Salah satunya tips bagi pemula cara mempertahankan produk.

Semangat yang sama diungkapkan Bahyun dari Ponpes Muta’alimin. Ia menanyakan tips agar potensi mangga di Kota Probolinggo bisa dioptimalkan. Tidak hanya dibuat dodol. “Kalau sudah musim mangga, harganya murah sekali. Bahkan, sampai terlalu matang,” ujarnya.

Menyikapi itu, Luki Budiarti mengatakan, yang paling penting dalam berwirausaha adalah semangat untuk memulai disertai keuletan. Sebab, saat usaha awal pasti ada saja kendalanya. “Untuk produk celup apel saja kami sampai satu tahun baru menemukan takaran yang pas. Awalnya, berubah rasa, cepat rusak, dan sebagainya,” ujar Luki.

Hal senada diungkapkan Eli. Menurutnya, terkait pengolahan keripik apel mengapa rasanya tidak berubah, karena menggunakan alat semacam vacum press. Termasuk menggunakan oven. Karenanya, proses keringnya bagus dan tidak mengubah rasa. “Jika rasa mangganya asam-asam manis, maka ketika dibuat keripik rasanya juga demikian,” ujarnya.

Menyikapi persoalan alat, Kabid Pemberdayaan Usaha Mikro DKUPP Kota Probolinggo Roby Susanto mengatakan mengenai modal dan alat di dinasnya sebetulnya ada. Tinggal seberapa serius wirausaha. Misalnya, untuk mengajukan permohonan bantuan alat dengan melengkapi persyaratannya.

“Misalkan fotokopi identitas, produk yang dibuat, izin usaha dari kelurahan termasuk NPWP. Namun, setelah diproses tidak bisa langsung dapat saat itu juga. Bisa jadi diajukan tahun 2017 baru dapat 2018 atau 2019,” ujarnya. (rpd/rud/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/