Adaptasi, Cara Manusia Lawan Korona

SALAH satu keistimewaan manusia adalah mampu beradaptasi. Menyesuaikan diri dengan lingkungan. Adaptasi bisa menjadi senjata andalan untuk bertahan. Sekaligus untuk “menyerang”.

Ketika Covid 19 sudah merajalela seperti sekarang ini, saatnya manusia beradaptasi.

Adaptasi bisa diartikan hidup berdamai dengan virus korona. Bukan menyerah dengan serangan virus. Tapi, bertahan dan “menyerang” virus korona dengan senjata adaptasi.

Adaptasi dengan cara hidup sehat. Kebiasaan hidup sehat secara cepat harus dilaksanakan setiap hari. Kalau dulu cuci tangan ketika mau makan saja, sekarang dan ke depan, lebih sering lagi cuci tangan. Tidak hanya pakai air, tapi sering cuci tangan dengan sabun dan air mengalir.

Tidak itu saja, setiap saat akan pakai masker, menjaga jarak antarsesama, membawa dan menyemprotkan hand sanitizer ke tangan. Menyemprot tempat duduk dan meja dengan disinfektan sebelum makan di warung. Makan bergizi dengan banyak buah dan sayur, minum vitamin, dan berolahraga.

Bahkan, kita akan memakai dua pakaian. Pakaian outdoor atau pakaian untuk keluar rumah dan pakaian di dalam rumah atau di kantor. Semacam jas hujan ketika musim hujan.

Kebiasaan baru selama ada korona itu nanti akan menjadi hal biasa dan lumrah.

Kita tidak bisa lagi isolasi diri, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sampai berbulan-bulan. Kita tentu tidak bakal kuat isolasi diri terus menerus.

Selain bakal jenuh dan stres, isolasi diri juga butuh biaya hidup yang tidak sedikit. Warga Amerika Serikat yang secara ekonomi lebih maju, sudah tak kuat isolasi, lockdown atau PSBB. Apalagi warga negara kita tercinta.

Salah satu yang sangat mungkin dan akan menjadi praktik yang lumrah adalah adaptasi dengan virus korona. Kita boleh berharap virus korona lenyap dari muka bumi. Namun, sulit sekali virus korona hilang sama sekali. Yang sangat mungkin adalah beradaptasi dengan adanya virus korona di muka bumi. Seperti halnya virus influenza. Virus flu itu, dulu juga mematikan. Ratusan ribu nyawa melayang karena influenza. Namun, tak kunjung hilang virusnya.

Akhirnya, manusia beradaptasi atau berdamai dengan influenza. Selanjutnya ditemukan obatnya. Pereda flu, pilek, sakit kepada, dan seterusnya.

Virus korona juga demikian. Lama-lama manusia akan beradaptasi dengan virus korona. Bisa dengan cara tubuh kita akan menjadi kebal atau imun. Yang dikenal dengan herd immunity. Bisa juga kita akan berhati-hati dengan menerapkan standar hidup “baru” dan beradaptasi.

Dengan biasa bekerja di rumah dan kantor yang bersih dan steril, belajar jarak jauh atau dalam jaringan (online) akan lebih sering. Makan tidak di warung lagi. Atau bila ingin ke warung, bawa disinfektan dan pakaian antivirus. Berangkat kerja tidak lagi naik angkutan umum, tapi gowes. Dan seterusnya.

Syukur Alhamdulillah kalau obat korona bisa segera ditemukan dan diproduksi masal. Termasuk vaksinnya. Korona tak akan lagi jadi momok menakutkan. Kita akan terbiasa dan bisa mengatasi bila ada serangan korona. Bahkan, kita serang balik korona biar termehek-mehek. (*)