alexametrics
30.3 C
Probolinggo
Friday, 27 May 2022

Kuota Premium untuk Kota Probolinggo Tersisa 8.000 Kl

MAYANGAN, Radar Bromo – PT Pertamina ternyata sengaja membatasi kiriman premium untuk SPBU di Kota Probolinggo. Alasannya, karena pemakaian premium tahun ini sudah melebihi kuota. Mestinya sampai Agustus 2019 hanya 34.290 kiloliter, namun sudah mencapai 43.500 kiloliter.

Karenanya, pengiriman ke SPBU di Kota Probolinggo per hari dibatasi 8.000 liter. Pengurangan ini berdampak pada SPBU yang sering kehabisan stok premium. Sebab, jatah 8.000 liter per hari itu kadang ludes hanya dalam waktu 4 jam.

Adanya kelebihan pemakaian itu dijelaskan Unit Manager Communication, Relations, & CSR-Pertamina MOR V Rustam Aji. Kamis (18/10), Rustam mengatakan, saat ini Pertamina melakukan pengendalian penyaluran premium bersubsidi. Sebab, di Probolinggo pemakaian premium bersubsidi melebihi kuota.

Menurutnya, tahun ini Kota Probolinggo dijatah 51.500 kiloliter premium. Namun, hingga Agustus premium yang disalurkan sudah mencapai 43.500 kiloliter. “Seharusnya hingga Agustus baru 34.290 kiloliter. Namun, ini sudah capai 43.500 kiloliter,” ujarnya. Bila kuota ini sampai habis, maka tidak akan ada pengiriman premium sampai tutup tahun.

Meski premium dibatasi, pihaknya tetap menyediakan alternatif. Berupa bahan bakar minyak (BBM) perta-series, seperti pertalite, pertamax, dan pertamax turbo. Katanya, BBM ini memiliki kualitas lebih baik dan lebih sesuai spesifikasi kendaraan.

Rustam mengatakan, kendaraan-kendaraan roda dua sekarang ini sesuai kompresi mesinnya, minimal memerlukan bensin octane 90 seperti pertalite. Begitu juga dengan kendaraan roda empat. “Sesuai spesifikasi dan regulasi, mobil-mobil LCGC (mobil murah atau standar), seharusnya menggunakan BBM dengan octane minimal 90,” ujarnya.

Dengan berbagai sosialisasi penggunaan perta-series, menurut Rustam, di Jawa Timur juga naik. Saat ini di Jawa Timur, proporsi konsumsi perta-series di angka 65 persen, sedangkan premium di angka 35 persen.

“Jika berbicara masalah kebutuhan kompresi mesin yang memerlukan octane 90, seharusnya ke perta-series. Namun, bukan berarti kami tidak menyediakan premium subsidi. Kami juga tetap sediakan premium subsidi. Hanya saja dengan berbagai pertimbangan pusat, setiap daerah memiliki kuota. Kebetulan di Probolinggo kelebihan, sehingga dilakukan pengaturan,” ujarnya. (rpd/rud)

MAYANGAN, Radar Bromo – PT Pertamina ternyata sengaja membatasi kiriman premium untuk SPBU di Kota Probolinggo. Alasannya, karena pemakaian premium tahun ini sudah melebihi kuota. Mestinya sampai Agustus 2019 hanya 34.290 kiloliter, namun sudah mencapai 43.500 kiloliter.

Karenanya, pengiriman ke SPBU di Kota Probolinggo per hari dibatasi 8.000 liter. Pengurangan ini berdampak pada SPBU yang sering kehabisan stok premium. Sebab, jatah 8.000 liter per hari itu kadang ludes hanya dalam waktu 4 jam.

Adanya kelebihan pemakaian itu dijelaskan Unit Manager Communication, Relations, & CSR-Pertamina MOR V Rustam Aji. Kamis (18/10), Rustam mengatakan, saat ini Pertamina melakukan pengendalian penyaluran premium bersubsidi. Sebab, di Probolinggo pemakaian premium bersubsidi melebihi kuota.

Menurutnya, tahun ini Kota Probolinggo dijatah 51.500 kiloliter premium. Namun, hingga Agustus premium yang disalurkan sudah mencapai 43.500 kiloliter. “Seharusnya hingga Agustus baru 34.290 kiloliter. Namun, ini sudah capai 43.500 kiloliter,” ujarnya. Bila kuota ini sampai habis, maka tidak akan ada pengiriman premium sampai tutup tahun.

Meski premium dibatasi, pihaknya tetap menyediakan alternatif. Berupa bahan bakar minyak (BBM) perta-series, seperti pertalite, pertamax, dan pertamax turbo. Katanya, BBM ini memiliki kualitas lebih baik dan lebih sesuai spesifikasi kendaraan.

Rustam mengatakan, kendaraan-kendaraan roda dua sekarang ini sesuai kompresi mesinnya, minimal memerlukan bensin octane 90 seperti pertalite. Begitu juga dengan kendaraan roda empat. “Sesuai spesifikasi dan regulasi, mobil-mobil LCGC (mobil murah atau standar), seharusnya menggunakan BBM dengan octane minimal 90,” ujarnya.

Dengan berbagai sosialisasi penggunaan perta-series, menurut Rustam, di Jawa Timur juga naik. Saat ini di Jawa Timur, proporsi konsumsi perta-series di angka 65 persen, sedangkan premium di angka 35 persen.

“Jika berbicara masalah kebutuhan kompresi mesin yang memerlukan octane 90, seharusnya ke perta-series. Namun, bukan berarti kami tidak menyediakan premium subsidi. Kami juga tetap sediakan premium subsidi. Hanya saja dengan berbagai pertimbangan pusat, setiap daerah memiliki kuota. Kebetulan di Probolinggo kelebihan, sehingga dilakukan pengaturan,” ujarnya. (rpd/rud)

MOST READ

BERITA TERBARU

/