alexametrics
24.8 C
Probolinggo
Wednesday, 25 May 2022

Ribuan Santri Genggong Gelar Tahlilan untuk Alm BJ Habibie

PAJARAKAN, Radar Bromo– Meninggalnya Presiden RI ke-3, BJ. Habibie mendapat belasungkawa dari berbagai pihak. Tak terkecuali di lingkungan pesantren. Pesantren Zainul Hasan Genggong, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo, menggelar tahlilan bersama santri, Kamis (12/9). Bentuk duka juga ditunjukkan dengan memasang bendera merah putih setengah tiang di halaman pesatren.

Tahlil digelar di Masjid Jamik Al Barokah, Pesantren Genggong dengan diikuti ribuan santri putra. Tahlil digelar sekitar pukul 18.15 atau usai salat Magrib, bertepatan dengan malam Jumat Manis.

Moh. Hasan Mutawakkil Alallah, pengasuh Pesantren Zainul Hasan Genggong memimpin tahlilan ini. Usai mengelar tahlil, Kiai Mutawakkil berkisah, dirinya memiliki banyak kenangan bersama almarhum Bj. Habibie. Salah satunya saat berkunjung di pesantren setempat dalam acara berskala nasional, beberapa tahun lalu. Saat itu almarhum masih menjabat sebagai wakil presiden.

“Kala itu, beliau hadir ke sini dan bersilaturahmi. Beliau mengatakan kepada saya bahwa kekayaan yang dimiliki Indonesia ini bukan hanya keluasan wilayah, jumlah penduduk, dan sumber daya alamnya. Namun, Indonesia memiliki sumber daya manusia yang memiliki integritas dan kecerdasan dengan didasari kekayaan spiritualitas. Dan itu, ada di pondok pesantren,” katanya.

Habibie menurutnya, juga mengatakan, sangat bersyukur di Indonesia ada pesantren. Sebab, pesantren bukan hanya syiar dan mercusuar agama, termasuk lembaga pendidikan. Tapi, merupakan situs sejarah yang tidak terlepas dari masa perjuangan kemerdekaan.

“Menurut beliau, tidak ada lembaga pendidikan semacam pesantren di negara-negara lain,” imbuhnya.

Menurutnya, ada sebuah pernyataan Habibie yang membuatnya terkesima kala itu. Habibie mengatakan, bahwa setelah ia mempelajari disiplin ilmu, termasuk sains dan teknologi, tidak ada ilmu yang melebihi ilmu agama. “Semua ilmu itu sumbernya dari agama, begitu kata beliau,” ujar Mutawakkil.

Mutawakkil juga mengaku, banyak membaca sejarah Habibie. Terutama cerita Habibie dengan istrinya juga keharmonisan dan kesetiaan mereka yang dibawa sampai mati.

“Tidak semua laki-laki seperti beliau. Figur Pak Habibie ini panutan untuk pemimpin kelompok manusia, Negara, maupun pemimpin rumah tangga. Mudahan-mudahan beliau husnul khotimah,” katanya.  (uno/hn)

 

PAJARAKAN, Radar Bromo– Meninggalnya Presiden RI ke-3, BJ. Habibie mendapat belasungkawa dari berbagai pihak. Tak terkecuali di lingkungan pesantren. Pesantren Zainul Hasan Genggong, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo, menggelar tahlilan bersama santri, Kamis (12/9). Bentuk duka juga ditunjukkan dengan memasang bendera merah putih setengah tiang di halaman pesatren.

Tahlil digelar di Masjid Jamik Al Barokah, Pesantren Genggong dengan diikuti ribuan santri putra. Tahlil digelar sekitar pukul 18.15 atau usai salat Magrib, bertepatan dengan malam Jumat Manis.

Moh. Hasan Mutawakkil Alallah, pengasuh Pesantren Zainul Hasan Genggong memimpin tahlilan ini. Usai mengelar tahlil, Kiai Mutawakkil berkisah, dirinya memiliki banyak kenangan bersama almarhum Bj. Habibie. Salah satunya saat berkunjung di pesantren setempat dalam acara berskala nasional, beberapa tahun lalu. Saat itu almarhum masih menjabat sebagai wakil presiden.

“Kala itu, beliau hadir ke sini dan bersilaturahmi. Beliau mengatakan kepada saya bahwa kekayaan yang dimiliki Indonesia ini bukan hanya keluasan wilayah, jumlah penduduk, dan sumber daya alamnya. Namun, Indonesia memiliki sumber daya manusia yang memiliki integritas dan kecerdasan dengan didasari kekayaan spiritualitas. Dan itu, ada di pondok pesantren,” katanya.

Habibie menurutnya, juga mengatakan, sangat bersyukur di Indonesia ada pesantren. Sebab, pesantren bukan hanya syiar dan mercusuar agama, termasuk lembaga pendidikan. Tapi, merupakan situs sejarah yang tidak terlepas dari masa perjuangan kemerdekaan.

“Menurut beliau, tidak ada lembaga pendidikan semacam pesantren di negara-negara lain,” imbuhnya.

Menurutnya, ada sebuah pernyataan Habibie yang membuatnya terkesima kala itu. Habibie mengatakan, bahwa setelah ia mempelajari disiplin ilmu, termasuk sains dan teknologi, tidak ada ilmu yang melebihi ilmu agama. “Semua ilmu itu sumbernya dari agama, begitu kata beliau,” ujar Mutawakkil.

Mutawakkil juga mengaku, banyak membaca sejarah Habibie. Terutama cerita Habibie dengan istrinya juga keharmonisan dan kesetiaan mereka yang dibawa sampai mati.

“Tidak semua laki-laki seperti beliau. Figur Pak Habibie ini panutan untuk pemimpin kelompok manusia, Negara, maupun pemimpin rumah tangga. Mudahan-mudahan beliau husnul khotimah,” katanya.  (uno/hn)

 

MOST READ

BERITA TERBARU

/