alexametrics
29.7 C
Probolinggo
Thursday, 26 May 2022

Dinkes-Satpol PP Sidak Tiga Apotek, Cari Ranitidine Berbahaya

KRAKSAAN, Radar Bromo – Inspeksi mendadak (sidak) terhadap peredaran obat yang mengandung Ranitidine juga dilakukan Pemkab Probolinggo. Tujuannya, untuk memastikan di Kabupaten Probolinggo tidak ada peredaran obat yang tengah dilarang Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).

Jumat (11/10), sidak dilakukan Dinas Kesehatan (Dinkes) bersama Satpol PP Kabupaten Probolinggo. Ada tiga lokasi yang menjadi sasaran mereka. Di antaranya, sebuah apotek di Desa Sumberlele, Kecamatan Kraksaan; sebuah apotek di Kelurahan Kandangjati Kulon, Kecamatan Kraksaan; dan RSUD Waluyo Jati, Kraksaan.

Namun, tim sidak tidak menemukan apa yang dicari. Kasi Farmasi Dinkes Kabupaten Probolinggo Hajar Setio Papuli mengatakan pihaknya tidak menemukan barang sesuai dengan edaran atau instruksi BPOM. Yaitu, obat dengan campuran Ranitidine. “Ada beberapa yang mengandung Ranitidine. Tetapi, bukan yang dimaksud BPOM,” ujarnya.

Menurutnya, edaran BPOM yang menyatakan Ranitidine bisa mengakibatkan kanker ada lima. Di antaranya, Ranitidine Cairan Injeksi buatan PT Phapros Tbk. Produk ini diperintahkan untuk ditarik. Empat produk lainnya, diperintahkan dilakukan penarikan secara suka rela.

Yakni, Zantac Cairan Injeksi PT Glaxo Wellcome Indonesia; Rinadin Sirup PT Global Multi Pharmalab; Indoran Cairan Injeksi; dan Ranitidine Cairan Injeksi PT Indofarma. “Itu semua yang ada edaran BPOM. Dan itu tidak ada di tiga lokasi yang kami sidak tadi,” ujar Hajar.

Ia menjelaskan, produk obat dan mengandung Ranitidine dari perusahaan lain yang tidak disebutkan BPOM, tetap aman digunakan. Karenanya, pihaknya meminta masyarakat tidak perlu khawatir. Sebab, semua obat-obatan yang dikeluarkan selalu ada sertifikatnya. “Kami imbau warga tidak perlu resah. Kami akan melakukan pemeriksaan secara berkala,” ujarnya. (sid/rud)

KRAKSAAN, Radar Bromo – Inspeksi mendadak (sidak) terhadap peredaran obat yang mengandung Ranitidine juga dilakukan Pemkab Probolinggo. Tujuannya, untuk memastikan di Kabupaten Probolinggo tidak ada peredaran obat yang tengah dilarang Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).

Jumat (11/10), sidak dilakukan Dinas Kesehatan (Dinkes) bersama Satpol PP Kabupaten Probolinggo. Ada tiga lokasi yang menjadi sasaran mereka. Di antaranya, sebuah apotek di Desa Sumberlele, Kecamatan Kraksaan; sebuah apotek di Kelurahan Kandangjati Kulon, Kecamatan Kraksaan; dan RSUD Waluyo Jati, Kraksaan.

Namun, tim sidak tidak menemukan apa yang dicari. Kasi Farmasi Dinkes Kabupaten Probolinggo Hajar Setio Papuli mengatakan pihaknya tidak menemukan barang sesuai dengan edaran atau instruksi BPOM. Yaitu, obat dengan campuran Ranitidine. “Ada beberapa yang mengandung Ranitidine. Tetapi, bukan yang dimaksud BPOM,” ujarnya.

Menurutnya, edaran BPOM yang menyatakan Ranitidine bisa mengakibatkan kanker ada lima. Di antaranya, Ranitidine Cairan Injeksi buatan PT Phapros Tbk. Produk ini diperintahkan untuk ditarik. Empat produk lainnya, diperintahkan dilakukan penarikan secara suka rela.

Yakni, Zantac Cairan Injeksi PT Glaxo Wellcome Indonesia; Rinadin Sirup PT Global Multi Pharmalab; Indoran Cairan Injeksi; dan Ranitidine Cairan Injeksi PT Indofarma. “Itu semua yang ada edaran BPOM. Dan itu tidak ada di tiga lokasi yang kami sidak tadi,” ujar Hajar.

Ia menjelaskan, produk obat dan mengandung Ranitidine dari perusahaan lain yang tidak disebutkan BPOM, tetap aman digunakan. Karenanya, pihaknya meminta masyarakat tidak perlu khawatir. Sebab, semua obat-obatan yang dikeluarkan selalu ada sertifikatnya. “Kami imbau warga tidak perlu resah. Kami akan melakukan pemeriksaan secara berkala,” ujarnya. (sid/rud)

MOST READ

BERITA TERBARU

/