alexametrics
28.1 C
Probolinggo
Wednesday, 17 August 2022

Humor Gus Dur: Dilarang Saling Melempar

GUS DUR seperti tidak pernah kehabisan cerita. Khususnya yang bernada sindiran politik. Menurut dia, ada kejadian menarik di masa pemerintah Orde Baru.

Suatu kali Presiden Soeharto berangkat ke Mekkah untuk berhaji. Karena yang pergi seorang presiden, tentu sejumlah menteri harus ikut mendampingi. Salah satunya “peminta petunjuk” yang paling rajin, Menteri Penerangan Harmoko.

Setelah melewati beberapa ritual haji, rombongan Soeharto melaksanakan jumrah. Yakni, simbol untuk mengusir setan dengan cara melempar batu ke sebuah tiang mirip patung. Disinilah muncul masalah, terutama bagi Harmoko.

Beberapa kali batu yang dilemparkannya selalu berbalik menghantam jidatnya. “Wah kenapa jadi begini ya?” cerita Gus Dur menuturkan pernyataan Harmoko yang saat itu tampak gemetar karena takut.

Lalu, Harmoko pindah posisi. Hasilnya sama saja. Batu yang dilemparnya seperti ada yang melempar balik ke arah dirinya. Setelah tujuh kali lemparan hasilnya selalu sama, Harmoko pun menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari-cari posisi presiden untuk “minta petunjuk.” Setelah ketemu, dengan lega ia tergopoh-gopoh menghampiri Bapak Presiden.

Namun, sebelum sampai di hadapan Soeharto, ia turut mendengar bisikan; “Hai manusia, sesama setan jangan saling lempar.” (*)

 

Dinukilkan dari rubrik humor di www.gusdur.net

GUS DUR seperti tidak pernah kehabisan cerita. Khususnya yang bernada sindiran politik. Menurut dia, ada kejadian menarik di masa pemerintah Orde Baru.

Suatu kali Presiden Soeharto berangkat ke Mekkah untuk berhaji. Karena yang pergi seorang presiden, tentu sejumlah menteri harus ikut mendampingi. Salah satunya “peminta petunjuk” yang paling rajin, Menteri Penerangan Harmoko.

Setelah melewati beberapa ritual haji, rombongan Soeharto melaksanakan jumrah. Yakni, simbol untuk mengusir setan dengan cara melempar batu ke sebuah tiang mirip patung. Disinilah muncul masalah, terutama bagi Harmoko.

Beberapa kali batu yang dilemparkannya selalu berbalik menghantam jidatnya. “Wah kenapa jadi begini ya?” cerita Gus Dur menuturkan pernyataan Harmoko yang saat itu tampak gemetar karena takut.

Lalu, Harmoko pindah posisi. Hasilnya sama saja. Batu yang dilemparnya seperti ada yang melempar balik ke arah dirinya. Setelah tujuh kali lemparan hasilnya selalu sama, Harmoko pun menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari-cari posisi presiden untuk “minta petunjuk.” Setelah ketemu, dengan lega ia tergopoh-gopoh menghampiri Bapak Presiden.

Namun, sebelum sampai di hadapan Soeharto, ia turut mendengar bisikan; “Hai manusia, sesama setan jangan saling lempar.” (*)

 

Dinukilkan dari rubrik humor di www.gusdur.net

MOST READ

BERITA TERBARU

/