alexametrics
31.7 C
Probolinggo
Monday, 8 August 2022

Anggarkan Dana Siap Pakai untuk Bencana Senilai Rp 60 Juta

MAYANGAN – Tahun 2018 ini, Pemkot Probolinggo menyiapkan dana siap pakai untuk bencana alam. Besarnya mencapai Rp 60 juta.

Prijo Djatmiko, kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Probolinggo menjelaskan, pemkot memang punya anggaran untuk bencana. Jenisnya ada dua. Yaitu, dana siap pakai dan biaya tak terduga.

“Kedua anggaran ini bisa digunakan jika wali kota menetapkan Kota Probolinggo dalam status siaga bencana,” ujar Prijo.

Untuk dana siap pakai menurutnya, dianggarkan Rp 60 juta di tahun 2018. “Dana siap pakai ini untuk pembuatan posko bencana. Biasanya setiap musim hujan BNPB membangun posko di Taman Lansia. Anggarannya dari sana,” ujarnya.

Sementara anggaran tidak terduga, masuk di Badan Pengelolaan, Pendapatan, Keuangan dan Aset (BPPKA). “Jika terjadi bencana alam, kemudian wali kota menetapkan masa tanggap darurat bencana, biaya tak terduga ini bisa digunakan,” ujarnya.

Untuk menetapkan adanya masa tanggap darurat bencana, harus berdasarkan informasi dari BMKG mengenai situasi kondisi di wilayah tersebut. “Serta, ada-tidaknya korban yang harus segera dievakuasi karena peristiwa bencana tersebut,” jelasnya.

Menurutnya, Kota Probolinggo pernah menetapkan masa tanggap darurat bencana karena adanya lahar dingin Gunung Bromo. “Sekitar tahun 2011 ada banjir lahar dingin yang sampai merusak saluran air dan permukiman warga dan sawah. Masa tanggap darurat itu selama 3 hari dan bisa diperpanjang,” ujarnya. (put/hn)

MAYANGAN – Tahun 2018 ini, Pemkot Probolinggo menyiapkan dana siap pakai untuk bencana alam. Besarnya mencapai Rp 60 juta.

Prijo Djatmiko, kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Probolinggo menjelaskan, pemkot memang punya anggaran untuk bencana. Jenisnya ada dua. Yaitu, dana siap pakai dan biaya tak terduga.

“Kedua anggaran ini bisa digunakan jika wali kota menetapkan Kota Probolinggo dalam status siaga bencana,” ujar Prijo.

Untuk dana siap pakai menurutnya, dianggarkan Rp 60 juta di tahun 2018. “Dana siap pakai ini untuk pembuatan posko bencana. Biasanya setiap musim hujan BNPB membangun posko di Taman Lansia. Anggarannya dari sana,” ujarnya.

Sementara anggaran tidak terduga, masuk di Badan Pengelolaan, Pendapatan, Keuangan dan Aset (BPPKA). “Jika terjadi bencana alam, kemudian wali kota menetapkan masa tanggap darurat bencana, biaya tak terduga ini bisa digunakan,” ujarnya.

Untuk menetapkan adanya masa tanggap darurat bencana, harus berdasarkan informasi dari BMKG mengenai situasi kondisi di wilayah tersebut. “Serta, ada-tidaknya korban yang harus segera dievakuasi karena peristiwa bencana tersebut,” jelasnya.

Menurutnya, Kota Probolinggo pernah menetapkan masa tanggap darurat bencana karena adanya lahar dingin Gunung Bromo. “Sekitar tahun 2011 ada banjir lahar dingin yang sampai merusak saluran air dan permukiman warga dan sawah. Masa tanggap darurat itu selama 3 hari dan bisa diperpanjang,” ujarnya. (put/hn)

MOST READ

BERITA TERBARU

/