Mulai Benahi-Relokasi Infrastruktur Pasca Bencana Banjir Bandang di Andungbiru

RUSAK BERAT: Banjir bandang yang menghantam Tiris, pertengahan Desember tahun lalu. Setelah bencana itu, pemkab mulai membenahi infrastruktur yang rusak. (Dok. Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

KRAKSAAN – Perlahan tapi pasti, Pemkab Probolinggo mulai membenahi infrastruktur yang rusak akibat terimbas banjir bandang di Desa Andungbiru, Kecamatan Tiris. Setelah berhasil membangun jembatan penghubung di Dusun Kedaton, pemkab juga menyiapkan perbaikan infrastruktur lain.

Bahkan pemkab melalui Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo akan segera merelokasi SD dan SMP di Desa Andungbiru. Relokasi itu itu dilakukan guna menghindari kembali sekolah yang sebelumnya terkena bencana banjir bandang didaerah itu untuk yang kedua kalinya.

Untuk merelokasi dua bangunan itu Dispendik telah menyiapkan anggaran sebesar Rp 330 juta. Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Dewi Korina. Dia mengatakan, dana Rp 330 juta itu dibagi menjadi dua. Yaitu Rp 180 juta untuk bangunan SD dan Rp 150 juta untuk bangunan SMP.

“Untuk yang gedung SMP itu sebenarnya tidak terimbas. Tetapi, gedung itu saat ini digunakan untuk sekolah SD yang gedungnya rusak karena banjir bandang waktu itu. Dan murid SMP nantinya di relokasi ke SMP Andungsari,” katanya.

Usai kejadian banjir bandang itu, sekolah sempat diliburkan karena bangunan sekolahnya rusak parah. “Itu faktor alam yang tidak bisa dihindari. Kami melakukan yang terbait untuk mempercepat aktifitas sekolah kembali normal kembali. Yaitu dengan melakukan relokasi sekolah. Karena gedung SD Andungbiru yang awal sudah sebagian terkikis banjir, dan semakin dekat dengan sungai. Kalau diperbaiki, khawatir ada banjir lagi dan rusak membahayakan para murid,” jelas wanita yang pernah menjadi Kepala Dinas Lingkungan Hidup itu.

Dewi sapaan akrab kadipendik itu mengatakan, gedung SMP yang digunakan belajar mengajar siswa SD itu saat ini dilakukan penyekatan. Hal itu, tentunya karena SMP hanya mempunyai tiga kelas. Sedangkan untuk SD ada enam kelas.

“Itu untuk sementara waktu saja. Sambil menunggu lahan untuk relokasi,” ungkapnya.

Rencananya, kata Dewi, SMP Andungbiru dalam waktu dekat akan direlokasi juga ke SMP Andungsari. Namun menajamen dan pembelajarannya tetap dibedakan. Itu sebagai alternatif sementara, sampai pihaknya menemukan lahan baru untuk pembangunan SMP Andungbiru.

Untuk relokasi antar dua lembaga itu akan dilakukan dipertegahan bulan Februari ini. Hal itu tak lain untuk memberikan kenyamanan bagi siswa yang melakukan kegiatan belajar mengajar. “Kami upayakan secepatnya, karena itu untuk menunjang kenyamanan belajar mengajar siswa,” jelasnya. (sid/fun)