alexametrics
25.1 C
Probolinggo
Thursday, 11 August 2022

Dua SPBU Khusus Nelayan Tunggu Rekomendasi Penjualan Solar

KRATON, Radar Bromo – Para nelayan di Kecamatan Kraton dan Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan, tak bisa mendapatkan solar dari Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN). Sejak Mei lalu, dua SPBN yang berada di daerah mereka tidak menjual solar lagi.

Pemerintah Pusat menyetop distribusi solar ke dua SPBN tersebut. Kini, Dinas Perikanan kabupaten Pasuruan sudah mengajuan kembali penjualan solar ke Kementerian ESDM. Namun, sejauh ini rekomendasi dari Pemerinntah Pusat itu belum turun.

Kepala Bidang Kenelayanan Dinas Perikanan Kabupaten Pasuruan Alamsyah Supriadi mengatakan, sejak Mei lalu dua SPBN di Kabupaten Pasuruan tidak menjual solar bersubsidi kepada nelayan. “Informasinya memang kebijakan dari Pusat, untuk sementara waktu menyetop distribusi solar bersubsidi ke SPBN di daerah,” ujarnya.

Karenanya, sudah sekitar tiga bulan nelayan harus membeli solar ke SPBU. Sehingga, nelayan harus merogoh kocek lebih dalam untuk biaya transportasi. Sebab, para nelayan harus menuju SPBU di jalan raya besar. Sedangkan jika membeli kepada pedagang eceran, harganya lebih mahal.

“Mau tidak mau, beli di SPBU. Memang secara harga sama untuk solar bersubsidi di SPBN ataupun di SPBU, tapi karena SPBU biasanya di jalan raya, sehingga ada biaya transport lagi,” ujar Alamsyah.

Ia mengaku, pihaknya sudah mengajukan surat permintaan penjualan solar bersubsidi di dua SPBN Kabupaten Pasuruan. Tapi, sejauh ini belum ada jawaban. “Kami menunggu rekomendasi dari Kementerian ESDM yang mendistribusikan solar agar SPBN kembali berjualan solar bersubsidi,” ujarnya.

Di Kabupaten Pasuruan, ada dua SPBN yang selama ini banyak dimanfaatkan nelayan. Masing-masing di Desa Kalirejo, Kecamatan Kraton dan di Desa Jatirejo, Kecamatan Lekok.

Dua SPBN ini selama ini membutuhkan solar bersubsidi rata-rata 16 ribu liter per hari. SPBN dimanfaatkan nelayan di pesisir Kraton dan Lekok untuk mendapatkan solar untuk melaut. Sejak awal Mei lalu, dua SPBN ini tidak beroperasi karena tidak mendapatkan pasokan solar. (eka/fun)

KRATON, Radar Bromo – Para nelayan di Kecamatan Kraton dan Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan, tak bisa mendapatkan solar dari Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN). Sejak Mei lalu, dua SPBN yang berada di daerah mereka tidak menjual solar lagi.

Pemerintah Pusat menyetop distribusi solar ke dua SPBN tersebut. Kini, Dinas Perikanan kabupaten Pasuruan sudah mengajuan kembali penjualan solar ke Kementerian ESDM. Namun, sejauh ini rekomendasi dari Pemerinntah Pusat itu belum turun.

Kepala Bidang Kenelayanan Dinas Perikanan Kabupaten Pasuruan Alamsyah Supriadi mengatakan, sejak Mei lalu dua SPBN di Kabupaten Pasuruan tidak menjual solar bersubsidi kepada nelayan. “Informasinya memang kebijakan dari Pusat, untuk sementara waktu menyetop distribusi solar bersubsidi ke SPBN di daerah,” ujarnya.

Karenanya, sudah sekitar tiga bulan nelayan harus membeli solar ke SPBU. Sehingga, nelayan harus merogoh kocek lebih dalam untuk biaya transportasi. Sebab, para nelayan harus menuju SPBU di jalan raya besar. Sedangkan jika membeli kepada pedagang eceran, harganya lebih mahal.

“Mau tidak mau, beli di SPBU. Memang secara harga sama untuk solar bersubsidi di SPBN ataupun di SPBU, tapi karena SPBU biasanya di jalan raya, sehingga ada biaya transport lagi,” ujar Alamsyah.

Ia mengaku, pihaknya sudah mengajukan surat permintaan penjualan solar bersubsidi di dua SPBN Kabupaten Pasuruan. Tapi, sejauh ini belum ada jawaban. “Kami menunggu rekomendasi dari Kementerian ESDM yang mendistribusikan solar agar SPBN kembali berjualan solar bersubsidi,” ujarnya.

Di Kabupaten Pasuruan, ada dua SPBN yang selama ini banyak dimanfaatkan nelayan. Masing-masing di Desa Kalirejo, Kecamatan Kraton dan di Desa Jatirejo, Kecamatan Lekok.

Dua SPBN ini selama ini membutuhkan solar bersubsidi rata-rata 16 ribu liter per hari. SPBN dimanfaatkan nelayan di pesisir Kraton dan Lekok untuk mendapatkan solar untuk melaut. Sejak awal Mei lalu, dua SPBN ini tidak beroperasi karena tidak mendapatkan pasokan solar. (eka/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/