3 Sungai di Wilayah Kab Probolinggo Butuh Dinormalisasi

PERLU DIKERUK: Kondisi arus sungai sungai Banyu Biru di Kecamatan Gending Selasa siang (7/1). Sungai ini perlu dinormalisasi lantaran terjadi pendangkalan. (Foto: Agus Faiz Musleh/ Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

KRAKSAAN, Radar Bromo – Ada puluhan sungai milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang ada di Kabupaten Probolinggo. Tiga di antaranya sejauh ini tidak pernah dilakukan normalisasi. Padahal, sungai ini sudah waktunya dikeruk agar tak menjadi penyebab banjir.

Kepala Bidang (Kabid) Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pengerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Probolinggo Umar Sjarif mengatakan, setidaknya ada 3 sungai yang sejak tahun 2014 sudah diajukan untuk dinormalisasi ke Pemprov Jatim. Namun, hingga saat ini masih belum ada jawaban.

“Ketiga sungai itu adalah Sungai Kertosono, Kraksaan; Sungai Banyu Biru di Gending; dan Sungai Kedung Galeng di Dringu. Dari 27 sungai, ketiga sudang itu sudah kami ajukan normalilsasi setiap tahunnya sejak tahun 2014. Namun, hingga saat ini belum ada respons,” ujarnya saat ditemui Selasa (7/1).

Menurutnya, normalisasi di 3 sungai itu sangat penting dilakukan. Khususnya pada muara sungai. Sebab, normalisasi sungai itu bertujuan untuk mencegah terjadinya banjir yang disebabkan sungai yang mulai dangkal. Kendalanya, pemkab tidak mungkin melakukan normalisasi sendiri. Selain sungai-sungai tersebut kewenangannya adalah Pemprov Jatim, butuh dana besar untuk normalisasi

“Yang terpenting normalisasi dilakukan pada muara sungai. Sebab, datangnya banjir bisa dari muara sungai yang tidak normal. Air bisa menggenang dan tidak bisa mengalir ke laut,” ujarnya.

Pihaknya tidak tahu kapan normalisasi akan dilakukan di 3 sungai tersebut. yang jelas, usaha untuk antisipasi banjir, tiap tahun pihaknya menyiapkan sekitar Rp 140 juta untuk anggaran bronjong atau kawat pembungkus batu dan karung berisi pasir dan tanah.

“Kami siapkan, bronjong untuk mengantisipasi terjadinya erosi akibat air yang terjadi di sungai. Tiap tahun pengadaan 300 lembar bronjong dan 7.000 sandbag (karung berisi tanah dan pasir, Red). Untuk mendapatkan bronjong dan karung berisi tanah, bisa melalui pemerintah desa yang nantinya mengirimkan proposal ke pihak kami,” ujarnya. (mg1/fun)