Kemunculan Hiu Tutul Bisa Jadi Wisata Berbasis Konservasi

TONGAS – Belasan ekor hiu tutul mulai kembali memasuki perairan utara Pulau Jawa, di Desa Bayeman, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo. Sabtu (3/11), kawanan hiu ini terlihat asyik mencari pakan berupa plankton.

Kedatangan hiu tutul ini mengundang perhatian Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI. Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut KKP Andi Rusandi datang ke lokasi melihat langsung kawanan hiu. Serta, menghitung siklus kedatangannya.

Andi Rusandi mengatakan, munculnya hiu tutul di perairan Probolinggo, diharapkan bisa dijadikan wisata dengan memanfaatkan penduduk lokal. “Nanti kami lihat siklusnya. Selain itu, bisa dibuat destinasi wisata berbasis konservasi. Sehingga, bagi mahasiswa ataupun yang hendak meneliti hiu tutul dapat dilakukan di perairan Probolinggo,” ujarnya.

Demi menjaga kelestarian ekosisitem, khususnya hiu tutul yang dilindungi, masyarakat diimbau tidak memburunya. “Hiu tutul ini sudah langka, untuk menjaga kelestarian dan ekosistemnya, kami imbau masyarakat tidak memburu atau menangkapnya,” ujarnya.

Jumat (2/11) siang, terlihat kawanan hiu tutul dalam jumlah kecil. Biasanya hiu tutul ini bisa mencapai puluhan ekor dalam beberapa kelompok bermain dan mencari pakan di perairan utara Pulau Jawa. Kedatangan hiu tutul ini merupakan fenomena tahunan yang terjadi di Kabupaten Probolinggo.

Bagi para nelayan di desa sekitar, kedatangan hiu tutul ini menjadi pertanda datanganya musim ikan di perairan setempat. Apalagi, hiu ini bukan termasuk hewan buas dan mengancam bagi para nelayan yang melaut.

Salah seorang warga Desa Bayeman, Kecamatan Tongas Abdul Hasan, 39, mengatakan, dengan munculnya hiu ini para nelayan cukup terbantu. Sebab, lokasi keberadaan hiu ini sebagai pertanda banyaknya ikan di sekitar munculnya mamalia ini.

“Hiu ini datang setiap tahun. Diperkirakan kedatanganya mulai bulan Juli. Paling bayak biasanya Agustus sampai awal November. Akhir November sampai Desember, mulai berkurang. Para nelayan sudah terbiasa melihat hiu itu. Mereka juga tahu jika hewan itu dilindungi. Tidak ada yang memburunya. Malah kami terbantu untuk menemukan titik keberadaan ikan yang paling banyak,” ujarnya. (rpd/rud)