Ning Dini Pesiar, Program Puskesmas Ngempit untuk Waspadai Preeklamsia Sejak Dini

KRATON, Radar Bromo – Ibu yang tengah program maupun sedang hamil, harus mengenali gejala preeklamsia maupun eklamsia. Seorang ibu hamil atau yang tengah memprogram kehamilan, perlu hati-hati dan mewaspadai tanda preeklamsia yang merupakan sebuah komplikasi pada kehamilan, dan bahkan bisa berujung kematian.

Gejala itu di antaranya tekanan darah tinggi (hipertensi) 160/100 dan tanda-tanda kerusakan organ, misalnya kerusakan ginjal yang ditujukan oleh tingginya kadar protein pada urine (proteinuria). Gejala preeklamsia akan muncul di kisaran usia kehamilan memasuki minggu ke-20 atau lebih.

Sedangkan eklamsia adalah kondisi serius akibat preeklamsia pada ibu hamil yang ditandai adanya kejang. Kejang eklamsia dibagi menjadi 2 fase. Fase pertama adalah kejang sekitar 15-20 detik yang ditandai kedutan di sekitar wajah. Setelah fase pertama, akan masuk fase kedua yang ditandai dengan kejang otot di sekitar rahang, otot mata, dan akhirnya menyebar ke seluruh tubuh selama sekitar 60 detik.

“Karena bahaya yang ditimbulkan oleh preeklamsia dan eklamsia, maka Puskesmas Ngempit, membuat program inovasi ‘Ning Dini Pesiar’. Program screening dini preeklamsia selamatkan ibu dan anak rek,” terang Kepala UPTD Kesehatan Puskesmas Ngempit, dr. Pantja Kentjana

Program ini bertujuan agar ibu hamil mau memeriksakan kehamilannya secara rutin, untuk mencegah dan mengantisipasi timbulnya preeklamsia. Program Ning Dini Pesiar muncul dikarenakan banyaknya bumil yang pada saat periksa kandungan terkena preeklamsia dan eklamsia.

Inovasi ini berjalan bersama dengan program KIA-KB dan Promosi Kesehatan. Ketika ada ibu hamil, mereka diberi pengertian dan diminta rutin memeriksakan kehamilan di puskesmas, klinik dan bidan desa. “Penyuluhan dilakukan secara rutin dan bertahap untuk mengubah pola pikir masyarakat. Penyuluhan tersebut melalui kegiatan kelas ibu hamil, ANC Terpadu dan P4K bumil,” beber Pantja lagi.

Terkadang, lanjut Pantja, ibu hamil tidak mengetahui tentang bahaya yang mungkin terjadi dan menganggapnya remeh. Masyarakat juga biasa menganggap kejang pada ibu hamil sebagai gangguan yang diakibatkan oleh makhluk halus. Kejang dan pembengkakan pada saat ibu hamil bisa disebabkan oleh tingginya tekanan darah dan penyerta lainnya. Hal inilah yang membuat preeklamsia dan eklamsia menjadi bahaya bagi ibu hamil, bila penanganan yang diberikan terlambat.

“Padahal preeklamsia dan eklamsia bisa dicegah dan ditekan seminimal mungkin dengan cara ibu hamil rutin memeriksakan kehamilan dan berkonsultasi dengan dokter atau bidan. Dengan begitu apabila ada indikasi atau gejala preeklamsia bisa segera ditangani agar tidak menjadi eklamsia dan membahayakan ibu dan bayi,” pungkas Pantja. (one/fun)