Dinsos Minta Dana Operasional Rp 300 Juta untuk Rumah Singgah Bina Hati

DIKIRIM KE RUMAH SINGGAH: Gelandangan dan pengemis yang dirazia pada Juli 2018. Mereka dikirim ke Rumah Singgah Dinas Sosial Kabupaten Pasuruan untuk dirawat dan dipulangkan kepada keluarganya. (Dok Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

PASURUAN – Tahun depan Rumah Singgah Bina Hati Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Pasuruan dipastikan tidak bisa mendapatkan dana operasional dari Kementerian Sosial RI. Karenanya, Dinsos Kabupaten Pasuruan mengajukan anggaran dalam Rancangan APBD 2019. Besarnya sama dengan tahun ini, Rp 300 juta.

Plt Kepala Dinsos Kabupaten Pasuruan Gunawan Wicaksono mengatakan, sejatinya pihaknya sudah berupaya mendapatkan dana operasional rumah singgah dari Kementerian Sosial RI. Namun, karena harus antre, dipastikan tahun depan pihaknya belum bisa mendapatkannya.

“Kami sudah mengusulkan untuk mendapatkan dana Sistem Layanan Terpadu (SLT) yang diberikan untuk operasional rumah singgah yang baru berdiri. Dana ini tidak hanya untuk operasional, tapi juga tenaga profesional sampai psikolog,” ujarnya.

Namun, karena tahun depan sudah dipastikan belum dapat, pihaknya kembali mengusulkan dana operasional Rumah Singgah Bina Hati ke APBD 2019 Pemkab Pasuruan. Besarnya sama seperti operasional tahun ini, Rp 300 juta.

Gunawan menjelaskan, untuk operasional rumah singgah memang tidak besar. Karena biaya listrik dan air sudah ikut operasional kantor Dinsos. “Rp 300 juta itu untuk biaya makan jika ada anjal (anak jalanan), gelandangan, pengemis, sampai PSK yang dibawa ke rumah singgah sebelum dipulangkan,” ujarnya.

Anggaran rumah singgah itu juga untuk biaya pemulangan anjal dan lain-lain. Seperti, sewa mobil jika memulangkan anjal sampai ke luar daerah. “Tapi, ada juga yang tiket dibebankan ke PSK atau dibebankan ke dana pembinaan Provinsi Jawa Timur,” ujar Gunawan.

Gunawan memastikan, anggaran Rp 300 juta itu cukup untuk operasional rumah singgah. Meski jumlah PMKS yang masuk rumah singgah tidak dapat diprediksi. “Kadang cukup banyak juga, kadang sedikit, tergantung permasalahan sosial di masyarakat,” ujarnya. (eka/fun)