Bukankah kematian adalah jalan menuju kebahagiaan, tapi mengapa sejumlah orang menghadapinya dengan perasaan penuh kengerian? Lebih tepatnya menunda-nunda jalan kebahagiaan itu?
*****
Usiaku sudah mendekati masa tua. Rambut yang dulunya hitam kemilau nan panjang, satu persatu berubah keperakan. Meski awalnya tak sampai kelihatan mata oleh anak, keponakan, dan tetangga yang biasa berkunjung ke rumah. Hingga kemudian sampai menjalari kepala lalu mencabutnya sembari bercerita.
Di halaman rumah yang panjangnya kira-kira 2 meter dan lebarnya 6 atau 7 meter, lantai keramik tua berwarna keemasan. Hampir setiap malam, aku, keponakan, dan tetangga yang biasa kami panggil Mbak Ati yang rumahnya berhadapan dengan rumahku berkumpul di sini. Lelakinya sama dengan lelakiku yang tua, seorang nelayan yang tak kenal baca dan tulis.
Malam ini kami kembali berkumpul, seperti rutinitas saja selepas isya. Di halaman rumah yang juga turut menua bersama kepulangan orang tuaku, kakak sulungku, serta di malam yang sakral ini, tiga tetangga berpulang keharibaan-Nya.
Yang pertama di selatan rumah, lelaki paruh baya yang tinggal bersama ibunya, yang ditinggal pulang kekasihnya bertahun yang lalu. Ia turut berpulang kini, barangkali menemui si bapak bercerita tentang hal-hal yang belum pernah ia tahu.
Lalu di timur, cukup dekat dengan rumahku. Dari lorong gang, melewati enam rumah, juga meninggal perempuan tua dengan 3 anak serta 5 cucu.
Dan terakhir di daerah utara rumahku, cukup jauh dari kedua tempat duka itu. Perempuan yang lama menahan derita karena seakan tidak menemukan obatnya. Usianya sebaya denganku, beranak dua dan cucunya laki-laki yang tampak aneh dibanding teman-teman sebayanya. Menurut tetangga sekitar, anak itu adalah anak pilihan.
Kepulangan ketiga tetangga yang nyaris bersamaan itu, hanya berbeda hitungan waktu, kembali membuka sebuah dugaan. "Masih ada empat orang lagi..." kata Mbak Ati membuka mitos masa silam yang berkepanjangan sampai detik ini.
"Iya. Kamu, aku, Har, dan lelakimu," balasku. "Lengkap sudah tujuh orang." Mbak Ati menolak, lalu menandaskan percakapan soal kematian.
Entah dari mana asal-muasal mitos ini. Kami tinggal di desa Ngaikali, desa yang mayoritas penduduknya adalah nelayan yang masih lekat dengan kepercayaan masa silam.
Bila penduduk desa mendengar kabar kematian, secara otomatis mereka meyakini besoknya akan terulang kedua, ketiga sampai orang ketujuh meninggal, meski tidak dalam keadaan yang sama. Kemudian desa kembali aman dari berita kematian.
Aku masih teramat muda waktu itu. Orang tuaku juga sama dengan keadaan sekarang yang kami bicarakan, soal mitos kematian sampai tujuh orang. Aku pernah menghadapinya, tapi tidak terlalu percaya.
Aku biarkan berlalu seperti tidak terjadi apa-apa. Barulah ketika Bapak meninggal, lalu disusul Ibu enam hari kemudian. Aku sempat menghitungnya. Sialnya di hari ketujuh, aku lupa, karena terlalu meratapi kepergian orang tua sampai aku ingin menjadi orang ketujuh dalam mitos itu.
Berselang 10 tahun, kakak sulungku turut berpulang. Barangkali menemui Bapak dan Ibu di alam yang entah apa namanya. Kesedihanku semakin merebak. Kami sisa bertiga dengan adik laki-laki dan perempuan.
Keduanya memilih meninggalkan desa ke desa seberang. Dan satunya lagi, menurut kabar terakhir kali bercakap lewat telepon, dia berada di Banten. Adikku laki-laki memilih merantau setelah cerai mati dan meninggalkan anak perempuan yang kini tinggal bersamaku.
Sementara aku sendiri, sebagai yang tertua setelah kepergian keluarga, tetap tinggal di desa Ngaikali di rumah peninggalan orang tua dan kenangan bersama keluarga yang tak lagi selengkap dulu. Aku memiliki tiga anak. Keduanya sudah berumah tangga, tinggal seorang lelaki yang berusia 20 tahunan.
Namanya Anam, mulai kuliah di kota santri Situbondo. Aku menitipkan dia tinggal dengan seorang lelaki tua saudara dari orang tuaku. Enam bulan sekali ia pasti pulang.
Di rumah peninggalan orang tua inilah aku tinggal bersama lelakiku dan keponakan dari adikku yang laki-laki. Di halaman rumah inilah kami suka membicarakan segalanya. Di mana kematian menjadi langkah kengerian, termasuk aku sendiri yang tak mampu menyiapkan bekal ke jalan yang sejatinya adalah kebahagian.
Di hadapan Mbak Ati dan ponakanku, aku menertawakan maut. Tapi di belakang mereka, menjelang pejam hanya semalam seperti hari yang lalu, bila mendengar kabar kematian dari corong rumah Tuhan. Doa kerap aku lambungkan ke angkasa, menerabas langit-langit kamar, berharap esok hari masih dapat menjalani hidup sebagaimana biasa.
Dan malam ini kami telah membicarakannya. Maut dan kenangan masa silam menjadi camilan. Sebagai orang tertua, aku berusaha setegar mungkin di hadapan mereka. Mengolah maut setawar mungkin, lalu mencampuradukkan kenangan seasin mungkin. Aku rasa beginilah rasa yang pas kami bicarakan malam ini, pun suatu hari nanti kita tetap akan membicarakannya.
"Besok bakal lebih ngeri lagi". Aku berujar tanpa sadar, pandangan mata mulai mengabur, "Bukan tiga orang. Lima, enam, bahkah melebihi 10 orang".
Mulutku terus membaca, seperti mengucapkan kata-kata yang tidak dapat kuhentikan lajunya. Dalam pandangan setengah mengabur, aku melihat Mbak Ati beranjak coba mendekati tubuhku yang mulai tak dapat dikontrol geraknya.
Pandangan mata semakin mengabur, sampai kurasakan kelopak mata terus merekah. Susah untuk aku katupkan sebagaimana saat kami baru terjaga dari pejam semalam.
Suara-suara dari Mbak Ati serta keponakanku tak dapat ditangkap dengan jelas. Mereka seperti berteriak. Lalu, aku? Aku kian membeku. Kemudian pelan-pelan aku seperti dibawa ke alam yang entah di mana. Pandangan mulai gelap, pekat, dan hilang.
Sejurus kemudian aku telentang di pembaringan. Aku selamat dari mitos kematian tujuh orang. Sebelum aku tersadar, sudah tiga nama tersiar melalui corong rumah Tuhan dan terus berlangsung di masa pandemi.
Pandemi Covid-19 seolah memberi dugaan lain pada mitos yang dipercayai penduduk desa Ngaikali. Dalam keadaan lemah, aku mendapati Mbak Ati berada di sampingku, duduk di dekat kasur yang dihampar di lantai. Anakku Ahmad juga pulang setelah mendapat kabar dari ponakanku. Adik lelakiku yang merantau pun sudah dalam perjalanan untuk kembali ke tanah kelahirannya.
Bukankah kematian adalah jalan menuju kebahagiaan tapi mengapa sejumlah orang termasuk aku menghadapinya dengan perasaan penuh kengerian, lebih tepatnya menunda-nunda jalan kebahagiaan itu? (*)
Kalibuntu, 2021 Editor : Jawanto Arifin