alexametrics
25C
Probolinggo
Sunday, 17 January 2021

Hikayat Hipokrit

Oleh: Mufa Rizal

Pada suatu masa hiduplah seorang pendakwah bernama Riskan. Ia selalu memakai baju putih ke manapun, tidak ada warna lain di lemari bajunya. Bahkan, ketika salah satu tetangga meninggal, Riskan tidak perlu repot mencari kemeja hitam. Ia cukup mengirim doa dari rumah untuk si mati. Tak perlu orang satu kampung demi mengarak keranda. Kematian tidak layak dirayakan.

Ketika orang-orang menggelar kenduri dan mendoakan mendiang, biasanya dari pihak keluarga selepas acara mengirim berkat ke rumah Riskan. Ia jarang berada di kampung, jadwalnya padat mengisi selamatan di kota sebelah. Meski begitu warga tetap mengundang lelaki muda itu saat hajatan guna memberi wejangan. Mereka terlalu sungkan mencari misionaris lain lantaran cemas kata-kata Riskan seumpama ucapan pahit lidah.

“Jadi, manusia itu harus tolong-menolong. Dengan tetangga jangan menutup mulut, tegur walaupun hanya ucapan salam. Bapak ibu tidak berjalan ke kuburan sendiri,” ucap Riksan sambil memasang wajah serius.

Para hadirin mengangguk takzim seolah mengerti. Dari lurah, camat, polisi hingga tentara menyaksikan Riskan memberi nasihat bagi mereka yang perlu tuntunan.

Sebelum pulang ia terbiasa dijamu oleh pemilik rumah. Laki-laki itu tak malu untuk meminta hidangan lezat, seorang juru masak lekas memanggang daging sapi. Bau harum meneror setiap perut lapar.

Datanglah seorang pemulung dengan kail di tangan kanan, ia membawa karung di belakang punggung. Sisa gelas air mineral menjadi buruan laki-laki paruh baya itu. Mukanya seperti jelaga pantat panci, menyisakan kumis putih jarang-jarang. Bajunya sobek di bagian ketiak, dari sana keluar aroma khas pembuangan akhir. Ibu-ibu yang menjamu para tamu berbisik-bisik dan bertanya ke mana perginya linmas serta polisi.

Pemulung itu tidak peduli dengan tamu undangan yang kehilangan selera makan. Ia fokus memilah sampah yang bisa dijual untuk makan sehari-hari. Riskan masih mengunyah daging panggang dan melihat orang-orang meninggalkan tempat duduk. Ia mencari ke mana tuan rumah, waktunya terbatas ada acara lain yang harus dihadiri. Riskan tak sanggup menunggu dan melimpahkan kekesalan pada lelaki itu.

“Sudah izin belum? Kok, seenaknya mengambil sampah,” cecarnya.

“Semua yang sudah dibuang berarti tidak diharapkan oleh pemiliknya. Kenapa saya harus meminta izin?”

“Kalau logikanya begitu, Tuhan membuang manusia dari surga karena tidak menginginkan mereka,” jawabnya lagi.

“Sepertinya bapak senang membawa Tuhan untuk urusan remeh. Saya hanya seorang pemulung, Pak. Kehidupan sudah memberi makan saya dengan nasehat sampai kenyang.”

Terdengar suara gaduh dari perut si pemulung. Ia memutuskan pergi menemui kerabat tuan rumah yang duduk sambil merokok. Setandan pisang hijau yang tidak habis bisa jadi teman untuk malam ini, batinnya.

***

Hari minggu pagi adalah waktu bagi Riskan untuk menyandarkan punggung di kursi. Menonton acara tinju luar negeri sambil menyesap kopi hitam pahit buatan istrinya. Ia mendengar suara tetangga sedang membersihkan selokan. Mereka tertawa sesekali melempar candaan, membicarakan kembang desa yang belum juga menikah serta janda muda yang baru saja cerai.

Riskan merasa terganggu dengan kebisingan itu dan mematikan televisi, ke kamar untuk mengecek gawai. Ia memeriksa jadwal hari ini, lokasi acara, jam serta materi yang akan dia sampaikan ke pengikutnya. Asih datang dari balik pintu dengan tatapan khawatir, sejurus kemudian merangkulkan lengan ke perut suaminya.

“Mas, tidak pergi kerja bakti? Pak RT barusan datang mengajak beserta warga lain,” ucapnya lirih.

“Aku capek, lagipula tidak semua warga kampung ikut. Mereka yang tidak punya kesibukan bolehlah diajak. Lihat saja Pak Jono, selepas dari luar pulau untuk menjaga perbatasan, apa pernah ikut kegiatan. Pak Sobirin yang biasanya patroli menjaga wilayah dari begal, selalu dimaklumi jika tidak menyetor muka. Masak mereka tidak paham betapa letihnya tugas pemberi wejangan?” jelasnya tanpa basa-basi.

Kalau sudah begitu Asih tidak banyak berkata lagi. Ia kembali ke dapur mengerjakan tugas sebagai istri. Matanya sedikit berkedut, tanda ada air mata mau mengalir. Hatinya bergetar seolah ada suara geledek baru menyambar. Ia lalu ingat pesan ibunya bahwa seorang perempuan harus manut apa kata pemimpin rumah tangga. Jika mengingat hal itu Asih ingin pergi saja dari rumah.

Harusnya ia menolak perjodohan mereka, batinnya. Orangtuanya terlanjur menyukai kemampuan Riskan dalam menjual omongan. Ia selalu membuang muka pada Riskan, sejak kedatangannya untuk melamar.

***

Kabar Riskan yang jatuh di kamar mandi tersiar cepat layaknya kedipan mata. Orang-orang desa tidak terlalu peduli, mereka tidak tahu bahan apalagi untuk dibicarakan.

Ada yang turut gembira mendengar warta tersebut dan menganggap ia pantas mendapat hukuman dari Tuhan. Ada yang tidak tahu yang mana Riskan sangking tidak pernah keluar dari rumah. Kalaupun melintasi jalan kampung ia selalu memasang pandangan ke depan. Tak sekalipun ia menyapa para tetangga,

Asih mendorong kursi roda suaminya sepulang dari rumah sakit. Ia merasa lega juga cemas dengan nasib mereka ke depan. Laki-laki itu seperti mayat hidup, suara erangan terdengar dari mulutnya yang seperti gua kosong melompong. Air liur kerap kali menetes beberapa kali. Istrinya terpaksa mengelap bibir kehitaman tersebut.

Ia merasa tidak berguna, tubuhnya lumpuh setengah. Tak bisa berbuat apa-apa, layaknya bayi yang musti disuapi ibunya. Riskan ingin mati ketimbang menjadi beban untuk orang lain. Masyarakat tidak lagi memujanya dan memandang Riskan sebagai buangan.

Perasaan yang sama pernah ia rasakan saat ayahnya mengguyur seluruh tubuh riskan dengan air. Malam keparat itu ia mabuk dengan teman-teman dusun, tahun baru merupakan awal dari perayaan. Mereka memanggang ayam milik peternak dekat sawah. Cukrik yang dibawa Joko membuat kepalanya berputar. Ia tidak sadarkan diri, tahu-tahu muka murka milik bapaknya sudah di hadapan.

“Masih hidup kau anak celaka?” ancamnya.

“Sudah, Pak. Jangan teriak-teriak malu didengar tetangga.” bujuk istrinya dengan raut takut.

“Biar, masih untung anak ini hidup. Tidak menyusul teman-temannya modar.”

Belakangan Riskan baru mendapat berita jika teman minumnya dikubur setelah pesta itu. Mereka meregang nyawa usai menenggak miras oplosan lotion nyamuk, juga minuman penambah energi. Ia tidak sempat mengantarkan jasad Joko ke peristirahatan. Ia hanya menaburkan kembang tujuh rupa di atas gundukan tanah basah itu. Ia lupa cara mengirim doa.

Ia kemudian dikirim ke kota sebelah untuk mendalami ilmu agama.

 

****

Tidak terlihat wajah Asih di rumah duka. Bendera kuning terpasang di tiang listrik berbagi tempat dengan poster sedot WC. Satu-dua warga datang usai dibujuk Pak RT, ia tak mau jenazah mendiang terlantar dan mengeluarkan bau.

Di halaman rumah Riskan berserakan sampah minuman dari pelayat. Pemulung tua datang membawa kait pencapit dan memasukan gelas plastik ke karung. Baru kali ini ia rasakan kematian demikian sunyi. (*)

 

*) Grati, 16/12/2020; Penulis asal Mojokerto

MOST READ

BERITA TERBARU