alexametrics
25 C
Probolinggo
Thursday, 25 February 2021
Desktop_AP_Top Banner

Ampuni Aku, Magdalena

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

(Untuk Magdalena dan Ibra)
Oleh: Abdur Rozaq


Barangkali aku telah syirik, menyekutukan Tuhan karena telah mendewakanmu. Kau adalah sesembahan baruku, meski Tuhan juga masih kusembah. Harus kuakui dirimu tiba-tiba menjadi segala muara dari daya hidupku. Aku tak pernah benar-benar menjadikan Tuhan sebagai tujuan hidup. Namun, kini telah kutemukan alasan untuk berdoa memohon tertundanya kematianku. Baru ku tahu mengapa Tuhan menyebutmu sebagai fitnah.

Namun, setiap kali menatap bening matamu, perasaan berdosa itu selalu timbul. Betapa kami, ayah dan ibumu ini telah menjerumuskanmu dalam sebuah bencana dahsyat. Air nafsuku tumpah di rahim ibumu. Lalu engkau pun perlahan menjelma segumpal darah, segumpal daging, tulang belulang, kulit, dan celaka, ruhmu yang sedang bermain-main di alam keabadian harus dijemput malaikat. Ditiupkan ke rahim ibumu.

Manusia-manusia pilihan ingin selekasnya pergi dari dunia celaka ini setelah menunaikan tugas mereka. Kami malah memanggilmu kemari, bergabung dalam nestapa tanpa batas.

Setiap detik masa di alam rahim, kau lalui dengan keresahan seorang pesakitan yang menunggu waktu eksekusi. Kau, andai mampu menolak kehendak Tuhan, pasti akan memilih keabadaian di alam ruh.

“Bukankah Aku Tuhanmu?” tanya Tuhan padamu.

“Ya. Engkaulah Tuhanku.”

“Apakah kelak engkau akan menyembahKu?”

“Ya, aku akan menyembahMu.” Namun, waktu ibarat pisau yang bergerak pasti mengarah ke jantungmu.

Senja itu, para malaikat membuka pintu rahim, kemudian mendorongmu yang memegang erat dinding-dinding rahim. Kau terus meronta sampai akhirnya Tuhan berfirman padamu:

“Pergilah, telah tiba waktunya engkau mendiami alam baru untuk menyembah-Ku dengan paripurna.” Engkau pun melangkah pelan menuju pintu rahim dengan rela.

Namun tangismu pecah oleh kegelapan dan kengerian yang membentang di hadapan matamu. Sayangnya, kami benar-benar lupa jika tangismu adalah ratapan paling hakiki. Kami malah bersyukur atas kehadiranmu di alam penuh petaka ini.

Maafkan kami, Magdalena! Maafkan kami karena telah memanggil ruhmu ke alam penuh keterpaksaan ini. Kiranya itu sudah menjadi suratan hidup. Sebab jika tidak, kau takkan mengerti makna perjuangan, pengorbanan serta rasa sakit. Jika tidak kami jemput, kau pun takkan bisa mengenal Tuhan dengan paripurna.

Setiap kali kutatap hidung, mata dan bibirmu yang sempurna, aku juga merasa terluka. Kau terlahir sebagai perempuan, dan setiap jengkal tubuhmu begitu indah. Hatiku ciut membayangkan nasib yang hendak kau arungi sepanjang hidupmu kelak.

Kau tahu, perempuan belum juga diperlakukan terhormat, meski peradaban manusia konon telah berkali-kali diperjuangkan oleh para filsuf, pejuang serta pengabdi kemanusiaan. Perempuan, entah sampai kapan tetap dalam bahaya di alam kita ini. Para perempuan yang terlahir dalam keterbatasan, masih saja dihina serta disia-siakan. Dan perempuan yang terlahir sempurna sepertimu, malah lebih terancam oleh berbagai muslihat dan penjarahan.

Perempuan tetap memanggul nasib tragis sejak tragedi Qabil-Habil. Sang Rasul telah membebaskan kalian dari penghinaan sejarah. Namun, kini mereka menghinakan diri sendiri demi entah apa. Di alam maya, semakin sering kusanksikan para perempuan melecehkan harkatnya yang suci.

Magdalena, aku begitu mengkhawatirkanmu karena manusia tak pernah berubah sedikit pun dari tabiat purbanya. Manusia juga tak pernah benar-benar berevolusi menjadi lebih manusiawi. Mereka tetaplah binatang berakal, yang justru akal itulah yang penyebab kebuasan mereka tak mungkin bisa dikendalikan. Manusia tetap saja pemangsa, tak berubah sedikit pun sejak zaman batu.

Beberapa saat setelah itu, kau rewel oleh entah apa. Barangkali oleh rasa nyeri pada tali pusar, tusukan jutaan setan yang berebut menembus setiap pori-pori kulitmu, atau hawa gerah tak lumrah ini. Jangankan engkau wahai anakku, kami pun, kini merasa tak nyaman tinggal di atas bumi ini.

Matahari sebenarnya tetap di cakrawala sana, namun terasa menjerang karena ozon telah berlubang-lubang. Udara yang kita hidup, air yang kita teguk bahkan apapun di atas bumi sudah beracun.

Anakku, maafkan kami karena memanggil ruhmu ke alam renta ini. Maka, kelak jangan syok jika alam begitu kejam memperlakukanmu. Segala macam bencana, wabah, peperangan dan kehancuran harus sebisa mungkin kau akrabi. Paling tidak, kau harus mengerti jika itu semua tak mungkin bisa dihandari. Kau harus belajar menghadapi kenyataan, jika kita sedang dihukum. Bukan atas dosa-dosa semata, namun sebagai ujian kehambaan kita.

Magdalena, anakku, membayangkanmu tumbuh, aku juga resah. Bukan hanya atas nafkah halal yang kian tak mungkin kucari, namun juga kontaminasi jiwa dan ruhanimu. Jika ajal belum menjemput, aku juga tak yakin akan mampu menyelamatkanmu dari racun peradaban.

Konon ilmu pengetahuan semakin paripurna, namun kejahiliyahan manusia malah kian nyata. Tidak seperti binatang, manusia bahkan bisa memanipulasi akalnya sebagai alat untuk membinasakan diri sendiri.

Agama sebagai satu-satunya jalan selamat pun, kini dijadikan alat pembunuh paling mematikan. Iblis telah membisikkan entah apa di dada kami. Atas nama ayat suci kami menggelorakan kerusakan, padahal kau tahu, Tuhan sangat membenci kaum perusak.

Jauh sebelum engkau lahir, orang telah menjadi beringas mengasah kemarahan atas nama Tuhan. Darah tumpah hampir di seluruh bagian bumi, seakan Tuhan menginginkan itu semua. Padahal seperti kau tahu, alangkah welas asihnya Tuhan, bahkan kepada para hambaNya yang berkhianat.

Kelak, jangan kau tangisi jika darah tumpah dan nyawa manusia tak lagi berharga. Kau harus terbiasa dengan kehilangan dan kematian, karena anak-anak iblis memang telah lama menumbalkan kita demi hiburan serta pembalasan dendam mereka.

Dan, yang kutangisi sejak sel telur ibumu berkembang menjadi dirimu, adalah masa paling celaka dalam sejarah manusia. Danau Tiberias telah mengering anakku. Air tanah dikuras manusia demi mengisi kolam-kolam renang yang airnya berbau amis sperma. Gunung-gunung dan hutan dilumat dan dimakan manusia, seakan mereka itulah Yakjuj-Makjuj.

Manusia membakar bumi tanpa berhenti sejenak pun, menjadi musabab kekeringan dan kematian apapun di atas bumi. Dan pada puncaknya, langit tak memiliki setetes pun air hujan, bumi sekarat, tak mampu menumbuhkan sehelai lumut pun. Teori evolusi berlaku, bumi hanya menyisakan manusia, mahluk paling cerdas menyiasati apapun. Namun, mereka haus –lapar dan saling membantai. Saat itulah, ia akan datang, sebagai fitnah maha fitnah.

Anakku, aku memberimu nama Magdalena sebagai doa. Dengan nama itu, kami berdoa agar kau seperti Maryam, ibunda Isa. Semoga kau menjadi perempuan pilihan, dan kelak jika panggung dunia masih digelar, kau melahirkan para manusia pilihan. Bumi telah dipadati keturunan iblis dan siluman, dan sang Mesias harus tetap terlahir sebagai penyeimbang. Demikian, makna doa dalam namamu wahai Maryam kecilku.

Magdalena, kampung halamanmu bukan di alam celaka ini. Negeri hakiki kita adalah sebagaimana yang pernah kita tinggali, sebelum tersesat di sini. Wadag kita memang akan menjadi debu, tapi kita mesti kembali ke muasal. Jika kelak kami lebih dulu menjadi abu, carilah Sang Pemegang Suluh untuk mengantarmu ke pelukan Tuhan.

Menatap mata beningmu aku terluka wahai Magdalena. Betapa segenap derita akan merubungmu laksana kawanan haina mencium aroma bangkai. Maka, ampuni aku yang telah menjemput ruhmu, sedang kelak ruh itu akan tercerabut dengan kepedihan tiada tara. Sedangkan iblis, takkan tinggal diam untuk merampok cahaya keyakinan di dadamu.

Andai tak melanggar kodrat, semestinya kita menjadi belalang atau anjing saja, anakku. (*)

 

Bakalan, 6 Januari 2021

Mobile_AP_Rectangle 1

(Untuk Magdalena dan Ibra)
Oleh: Abdur Rozaq


Barangkali aku telah syirik, menyekutukan Tuhan karena telah mendewakanmu. Kau adalah sesembahan baruku, meski Tuhan juga masih kusembah. Harus kuakui dirimu tiba-tiba menjadi segala muara dari daya hidupku. Aku tak pernah benar-benar menjadikan Tuhan sebagai tujuan hidup. Namun, kini telah kutemukan alasan untuk berdoa memohon tertundanya kematianku. Baru ku tahu mengapa Tuhan menyebutmu sebagai fitnah.

Namun, setiap kali menatap bening matamu, perasaan berdosa itu selalu timbul. Betapa kami, ayah dan ibumu ini telah menjerumuskanmu dalam sebuah bencana dahsyat. Air nafsuku tumpah di rahim ibumu. Lalu engkau pun perlahan menjelma segumpal darah, segumpal daging, tulang belulang, kulit, dan celaka, ruhmu yang sedang bermain-main di alam keabadian harus dijemput malaikat. Ditiupkan ke rahim ibumu.

Mobile_AP_Half Page

Manusia-manusia pilihan ingin selekasnya pergi dari dunia celaka ini setelah menunaikan tugas mereka. Kami malah memanggilmu kemari, bergabung dalam nestapa tanpa batas.

Setiap detik masa di alam rahim, kau lalui dengan keresahan seorang pesakitan yang menunggu waktu eksekusi. Kau, andai mampu menolak kehendak Tuhan, pasti akan memilih keabadaian di alam ruh.

“Bukankah Aku Tuhanmu?” tanya Tuhan padamu.

“Ya. Engkaulah Tuhanku.”

“Apakah kelak engkau akan menyembahKu?”

“Ya, aku akan menyembahMu.” Namun, waktu ibarat pisau yang bergerak pasti mengarah ke jantungmu.

Senja itu, para malaikat membuka pintu rahim, kemudian mendorongmu yang memegang erat dinding-dinding rahim. Kau terus meronta sampai akhirnya Tuhan berfirman padamu:

“Pergilah, telah tiba waktunya engkau mendiami alam baru untuk menyembah-Ku dengan paripurna.” Engkau pun melangkah pelan menuju pintu rahim dengan rela.

Namun tangismu pecah oleh kegelapan dan kengerian yang membentang di hadapan matamu. Sayangnya, kami benar-benar lupa jika tangismu adalah ratapan paling hakiki. Kami malah bersyukur atas kehadiranmu di alam penuh petaka ini.

Maafkan kami, Magdalena! Maafkan kami karena telah memanggil ruhmu ke alam penuh keterpaksaan ini. Kiranya itu sudah menjadi suratan hidup. Sebab jika tidak, kau takkan mengerti makna perjuangan, pengorbanan serta rasa sakit. Jika tidak kami jemput, kau pun takkan bisa mengenal Tuhan dengan paripurna.

Setiap kali kutatap hidung, mata dan bibirmu yang sempurna, aku juga merasa terluka. Kau terlahir sebagai perempuan, dan setiap jengkal tubuhmu begitu indah. Hatiku ciut membayangkan nasib yang hendak kau arungi sepanjang hidupmu kelak.

Kau tahu, perempuan belum juga diperlakukan terhormat, meski peradaban manusia konon telah berkali-kali diperjuangkan oleh para filsuf, pejuang serta pengabdi kemanusiaan. Perempuan, entah sampai kapan tetap dalam bahaya di alam kita ini. Para perempuan yang terlahir dalam keterbatasan, masih saja dihina serta disia-siakan. Dan perempuan yang terlahir sempurna sepertimu, malah lebih terancam oleh berbagai muslihat dan penjarahan.

Perempuan tetap memanggul nasib tragis sejak tragedi Qabil-Habil. Sang Rasul telah membebaskan kalian dari penghinaan sejarah. Namun, kini mereka menghinakan diri sendiri demi entah apa. Di alam maya, semakin sering kusanksikan para perempuan melecehkan harkatnya yang suci.

Magdalena, aku begitu mengkhawatirkanmu karena manusia tak pernah berubah sedikit pun dari tabiat purbanya. Manusia juga tak pernah benar-benar berevolusi menjadi lebih manusiawi. Mereka tetaplah binatang berakal, yang justru akal itulah yang penyebab kebuasan mereka tak mungkin bisa dikendalikan. Manusia tetap saja pemangsa, tak berubah sedikit pun sejak zaman batu.

Beberapa saat setelah itu, kau rewel oleh entah apa. Barangkali oleh rasa nyeri pada tali pusar, tusukan jutaan setan yang berebut menembus setiap pori-pori kulitmu, atau hawa gerah tak lumrah ini. Jangankan engkau wahai anakku, kami pun, kini merasa tak nyaman tinggal di atas bumi ini.

Matahari sebenarnya tetap di cakrawala sana, namun terasa menjerang karena ozon telah berlubang-lubang. Udara yang kita hidup, air yang kita teguk bahkan apapun di atas bumi sudah beracun.

Anakku, maafkan kami karena memanggil ruhmu ke alam renta ini. Maka, kelak jangan syok jika alam begitu kejam memperlakukanmu. Segala macam bencana, wabah, peperangan dan kehancuran harus sebisa mungkin kau akrabi. Paling tidak, kau harus mengerti jika itu semua tak mungkin bisa dihandari. Kau harus belajar menghadapi kenyataan, jika kita sedang dihukum. Bukan atas dosa-dosa semata, namun sebagai ujian kehambaan kita.

Magdalena, anakku, membayangkanmu tumbuh, aku juga resah. Bukan hanya atas nafkah halal yang kian tak mungkin kucari, namun juga kontaminasi jiwa dan ruhanimu. Jika ajal belum menjemput, aku juga tak yakin akan mampu menyelamatkanmu dari racun peradaban.

Konon ilmu pengetahuan semakin paripurna, namun kejahiliyahan manusia malah kian nyata. Tidak seperti binatang, manusia bahkan bisa memanipulasi akalnya sebagai alat untuk membinasakan diri sendiri.

Agama sebagai satu-satunya jalan selamat pun, kini dijadikan alat pembunuh paling mematikan. Iblis telah membisikkan entah apa di dada kami. Atas nama ayat suci kami menggelorakan kerusakan, padahal kau tahu, Tuhan sangat membenci kaum perusak.

Jauh sebelum engkau lahir, orang telah menjadi beringas mengasah kemarahan atas nama Tuhan. Darah tumpah hampir di seluruh bagian bumi, seakan Tuhan menginginkan itu semua. Padahal seperti kau tahu, alangkah welas asihnya Tuhan, bahkan kepada para hambaNya yang berkhianat.

Kelak, jangan kau tangisi jika darah tumpah dan nyawa manusia tak lagi berharga. Kau harus terbiasa dengan kehilangan dan kematian, karena anak-anak iblis memang telah lama menumbalkan kita demi hiburan serta pembalasan dendam mereka.

Dan, yang kutangisi sejak sel telur ibumu berkembang menjadi dirimu, adalah masa paling celaka dalam sejarah manusia. Danau Tiberias telah mengering anakku. Air tanah dikuras manusia demi mengisi kolam-kolam renang yang airnya berbau amis sperma. Gunung-gunung dan hutan dilumat dan dimakan manusia, seakan mereka itulah Yakjuj-Makjuj.

Manusia membakar bumi tanpa berhenti sejenak pun, menjadi musabab kekeringan dan kematian apapun di atas bumi. Dan pada puncaknya, langit tak memiliki setetes pun air hujan, bumi sekarat, tak mampu menumbuhkan sehelai lumut pun. Teori evolusi berlaku, bumi hanya menyisakan manusia, mahluk paling cerdas menyiasati apapun. Namun, mereka haus –lapar dan saling membantai. Saat itulah, ia akan datang, sebagai fitnah maha fitnah.

Anakku, aku memberimu nama Magdalena sebagai doa. Dengan nama itu, kami berdoa agar kau seperti Maryam, ibunda Isa. Semoga kau menjadi perempuan pilihan, dan kelak jika panggung dunia masih digelar, kau melahirkan para manusia pilihan. Bumi telah dipadati keturunan iblis dan siluman, dan sang Mesias harus tetap terlahir sebagai penyeimbang. Demikian, makna doa dalam namamu wahai Maryam kecilku.

Magdalena, kampung halamanmu bukan di alam celaka ini. Negeri hakiki kita adalah sebagaimana yang pernah kita tinggali, sebelum tersesat di sini. Wadag kita memang akan menjadi debu, tapi kita mesti kembali ke muasal. Jika kelak kami lebih dulu menjadi abu, carilah Sang Pemegang Suluh untuk mengantarmu ke pelukan Tuhan.

Menatap mata beningmu aku terluka wahai Magdalena. Betapa segenap derita akan merubungmu laksana kawanan haina mencium aroma bangkai. Maka, ampuni aku yang telah menjemput ruhmu, sedang kelak ruh itu akan tercerabut dengan kepedihan tiada tara. Sedangkan iblis, takkan tinggal diam untuk merampok cahaya keyakinan di dadamu.

Andai tak melanggar kodrat, semestinya kita menjadi belalang atau anjing saja, anakku. (*)

 

Bakalan, 6 Januari 2021

Mobile_AP_Rectangle 2
Previous articleKancil dan Jalan Rusak
Next articlePenyesalan Doa
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2