alexametrics
27C
Probolinggo
Friday, 23 April 2021
Desktop_AP_Top Banner

Setengah Hantu

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

Oleh: Ken Hanggara


Umur tiga tahun aku sudah bisa bercakap-cakap dan duduk mencangkung di depan kios rokok tetanggaku. Aku sudah tahu perbedaan uang seribu dan lima puluh ribu. Aku dibilang pintar oleh Ibu, tetapi orang-orang menyebutku anak terkutuk. Aku tidak punya teman sampai umurku enam. Semua orang menyuruh anak mereka kabur kalau bertemu denganku di jalan; memang aku kadang suka memukul kepala mereka, karena itu cukup menyenangkan. Biasanya aku duduk di pinggir lapangan jika tidak pergi ke warung atau menendang-nendang bola ke badan seekor sapi. Bola itu terpental dan menggelinding. Kutendang lagi, terpental lagi. Tendang lagi, tergelinding lagi. Begitu seterusnya. Tidak ada yang tahu ulahku, jadi aku sering melakukan sampai suatu saat si sapi mengamuk dan lari mengitari pohon tempat dia diikat. Aku tak mau diseruduk sapi, jadi kuhentikan itu. Aku tahu aku bisa mati kena seruduk sapi. Kalau aku mati aku dikubur dan tidak bisa membeli jajan dan bermain lagi.

Aku mencangkung dan merokok di hari-hari biasa, lalu teman-teman kakakku yang sudah dewasa, mendatangiku dan bilang kalau mereka suka gayaku. Katanya, aku keren dan mereka ingin punya anak sepertiku suatu hari nanti.

“Aku juga ingin punya anak,” kataku, “yang bisa disuruh-suruh, karena kadang Ibu menyuruhku pergi daripada bikin pusing.”

Umurku enam tahun dan aku bisa membaca dan menulis. Suatu hari aku diberi majalah-majalah misteri oleh teman-teman Kakak dan aku tahu kisah hantu dari banyak negara. Aku juga tahu bendera beberapa negara.

Kata Mudakir, teman kakakku, “Kamu itu setengah hantu, setengah orang!”

Aku tidak suka disebut hantu, tapi mereka bilang tidak ada yang mengajariku. Aku tidak tahu kenapa bisa sangat pintar, dan bisa membaca walau belum disuruh ke sekolah. Ibu senang dan mengatakan kalau aku bisa langsung kerja. Aku tidak mau kerja, tapi Ibu tidak marah.

Ya, kamu memang masih kecil, kata Ibu sebelum tidur suatu malam. Nanti kalau sudah besar baru kerja. Sekarang baca dulu majalah-majalah biar pintar.

Setiap hari aku baca majalah misteri, tapi tidak sambil mencangkung di kios rokok. Kalau di situ terus, nanti semua orang curiga. Aku masih enam tahun, tapi paham kalau semua tetangga melihatku dan punya rencana jahat untukku. Aku baca semua majalah itu di lapangan dan melihat sapi yang biasa kuganggu. Sekarang si sapi tak ingat siapa aku dan mungkin saja kapan-kapan aku bisa menendang bola ke perutnya seperti dulu. Dan kalau si sapi sudah mengamuk, aku akan pergi kira-kira selama dua bulan sampai dia lupa lagi pada wajahku dan aku bisa balik lagi ke lapangan untuk menendang bola lagi ke perut sapi sialan itu. Aku senang main bola, tapi aku tidak mau mati diseruduk sapi.

Di majalah itu kutemukan iklan penumbuh jenggot. Ada gambar orang mirip bapak dengan jenggot tebal dan hitam. Bapak mati empat tahun lalu, kata Ibu. Mati di rel dan badannya terbelah jadi empat dan ususnya keluar semua. Ada yang bilang ususnya tertinggal dan dicolong anjing liar. Petugas puskesmas tidak peduli tentang itu. Aku tahu bapakku penjahat busuk, jadi aku tak sedih meski ususnya dimakan anjing.

Kataku, “Bu, aku tidak mau jadi penjahat busuk seperti bapak. Kalau sudah besar, mending jadi pejabat negara.”

Umurku enam tahun, dan aku tak suka kalau ada yang memberiku lima ribu. Lima ribu cukup buat beli es sirup dan tahu petis. Lima puluh ribu, aku bisa beli majalah bekas dua buah dan es sirup segelas. Aku bisa berhitung. Aku terbiasa membantu Ibu menghitung di warung, tetapi kadang aku ingin mengambil sedikit uang. Tapi aku takut dosa. Jadi, itu cuma di pikiran. Lagian aku diberi uang oleh ibuku dan teman-teman kakakku memberi majalah padaku.

Sebenarnya aku tidak peduli kalau ada yang bilang aku terkutuk atau aku setengah orang setengah hantu. Aku tidak peduli, karena membaca itu enak. Aku disukai teman kakakku, yang kadang suka memberi tahu kalau ada cewek cantik di dekat pasar, dan mungkin aku bisa pacaran. Aku belum besar dan belum pacaran, apalagi memberikan pacarku anak seperti orang-orang dewasa. Mereka tertawa. Waktu Ibu tahu hal ini, Ibu melempari mereka dengan balok kayu, dan sejak itu aku tidak punya teman.

Aku sendirian membaca majalah yang itu-itu juga. Ada empat belas majalah yang semua sudah kubaca. Aku bosan dan ingin membaca majalah-majalah lain. Di tukang sampah aku dapatkan majalah-majalah berisi gambar anak-anak. Mereka mungkin sama denganku, tapi semua punya teman. Mereka disukai dan aku dibenci. Aku ingin seperti mereka dan aku kesal. Kulempar majalah itu ke si sapi yang makan rumput. Tetapi sapi itu tidak mengamuk. Dia sering lupa dan si sapi itu mungkin tidak tahu kalau dulu dia pernah mau menyerudukku sampai mati dan dikubur agar tidak bisa jajan dan bermain lagi.

Aku bosan karena cuma Ibu yang mengajakku ngobrol di rumah. Tidak ada orang lain yang mengajakku ngobrol. Lama-lama teman-teman kakakku balik lagi dan bilang kalau mereka kehilangan aku.

Kubilang, “Aku tidak punya teman dan aku mau jadi orang dewasa!”

Lalu mereka menyuruhku jadi dewasa.

Aku dibelikan obat penumbuh jenggot yang dipajang di iklan majalah kapan hari. Aku dibelikan kacamata berwarna hitam dan disuruh merokok sebungkus tiap hari. Aku suka rokok, tapi biasanya cuma dua rokok sehari, dan itu kalau Ibu tidak tahu. Ibu tidak suka aku merokok, tapi aku senang daripada disuruh makan permen.

Aku gatal setelah pakai obat itu. Aku harus mandi. Aku pergi ke kamar mandi dan berpikir semua ini menjengkelkan. Aku ingin jadi orang dewasa dan bukan gatal-gatal. Mungkin besok tumbuh jenggot, dan kalau itu terjadi, aku pergi dari rumah dan mencari istri dan hidup bahagia selamanya.

Aku akan pamit kepada Ibu dan minta uang jajan lima puluh ribu sebagai modal untuk jadi orang dewasa. Lima puluh ribu terakhir sebelum aku menjadi dewasa yang semoga tidak bikin Ibu keberatan. Semoga Ibu tidak marah. Semoga ibuku juga tidak melempar siapa pun dengan balok kayu. Semoga istriku juga cantik sehingga hati Ibu luluh dan membiarkan anaknya ini menjadi seperti apa yang dia mau. (*)

 

Gempol, 2017-2021

Lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, dan skenario. Karyanya terbit di berbagai media. Novelnya Negeri yang Dilanda Huru-hara (Basabasi, 2018). Segera terbit kumpulan cerita pendeknya, Pengetahuan Baru Umat Manusia.

Mobile_AP_Rectangle 1

Oleh: Ken Hanggara


Umur tiga tahun aku sudah bisa bercakap-cakap dan duduk mencangkung di depan kios rokok tetanggaku. Aku sudah tahu perbedaan uang seribu dan lima puluh ribu. Aku dibilang pintar oleh Ibu, tetapi orang-orang menyebutku anak terkutuk. Aku tidak punya teman sampai umurku enam. Semua orang menyuruh anak mereka kabur kalau bertemu denganku di jalan; memang aku kadang suka memukul kepala mereka, karena itu cukup menyenangkan. Biasanya aku duduk di pinggir lapangan jika tidak pergi ke warung atau menendang-nendang bola ke badan seekor sapi. Bola itu terpental dan menggelinding. Kutendang lagi, terpental lagi. Tendang lagi, tergelinding lagi. Begitu seterusnya. Tidak ada yang tahu ulahku, jadi aku sering melakukan sampai suatu saat si sapi mengamuk dan lari mengitari pohon tempat dia diikat. Aku tak mau diseruduk sapi, jadi kuhentikan itu. Aku tahu aku bisa mati kena seruduk sapi. Kalau aku mati aku dikubur dan tidak bisa membeli jajan dan bermain lagi.

Aku mencangkung dan merokok di hari-hari biasa, lalu teman-teman kakakku yang sudah dewasa, mendatangiku dan bilang kalau mereka suka gayaku. Katanya, aku keren dan mereka ingin punya anak sepertiku suatu hari nanti.

Mobile_AP_Half Page

“Aku juga ingin punya anak,” kataku, “yang bisa disuruh-suruh, karena kadang Ibu menyuruhku pergi daripada bikin pusing.”

Umurku enam tahun dan aku bisa membaca dan menulis. Suatu hari aku diberi majalah-majalah misteri oleh teman-teman Kakak dan aku tahu kisah hantu dari banyak negara. Aku juga tahu bendera beberapa negara.

Kata Mudakir, teman kakakku, “Kamu itu setengah hantu, setengah orang!”

Aku tidak suka disebut hantu, tapi mereka bilang tidak ada yang mengajariku. Aku tidak tahu kenapa bisa sangat pintar, dan bisa membaca walau belum disuruh ke sekolah. Ibu senang dan mengatakan kalau aku bisa langsung kerja. Aku tidak mau kerja, tapi Ibu tidak marah.

Ya, kamu memang masih kecil, kata Ibu sebelum tidur suatu malam. Nanti kalau sudah besar baru kerja. Sekarang baca dulu majalah-majalah biar pintar.

Setiap hari aku baca majalah misteri, tapi tidak sambil mencangkung di kios rokok. Kalau di situ terus, nanti semua orang curiga. Aku masih enam tahun, tapi paham kalau semua tetangga melihatku dan punya rencana jahat untukku. Aku baca semua majalah itu di lapangan dan melihat sapi yang biasa kuganggu. Sekarang si sapi tak ingat siapa aku dan mungkin saja kapan-kapan aku bisa menendang bola ke perutnya seperti dulu. Dan kalau si sapi sudah mengamuk, aku akan pergi kira-kira selama dua bulan sampai dia lupa lagi pada wajahku dan aku bisa balik lagi ke lapangan untuk menendang bola lagi ke perut sapi sialan itu. Aku senang main bola, tapi aku tidak mau mati diseruduk sapi.

Di majalah itu kutemukan iklan penumbuh jenggot. Ada gambar orang mirip bapak dengan jenggot tebal dan hitam. Bapak mati empat tahun lalu, kata Ibu. Mati di rel dan badannya terbelah jadi empat dan ususnya keluar semua. Ada yang bilang ususnya tertinggal dan dicolong anjing liar. Petugas puskesmas tidak peduli tentang itu. Aku tahu bapakku penjahat busuk, jadi aku tak sedih meski ususnya dimakan anjing.

Kataku, “Bu, aku tidak mau jadi penjahat busuk seperti bapak. Kalau sudah besar, mending jadi pejabat negara.”

Umurku enam tahun, dan aku tak suka kalau ada yang memberiku lima ribu. Lima ribu cukup buat beli es sirup dan tahu petis. Lima puluh ribu, aku bisa beli majalah bekas dua buah dan es sirup segelas. Aku bisa berhitung. Aku terbiasa membantu Ibu menghitung di warung, tetapi kadang aku ingin mengambil sedikit uang. Tapi aku takut dosa. Jadi, itu cuma di pikiran. Lagian aku diberi uang oleh ibuku dan teman-teman kakakku memberi majalah padaku.

Sebenarnya aku tidak peduli kalau ada yang bilang aku terkutuk atau aku setengah orang setengah hantu. Aku tidak peduli, karena membaca itu enak. Aku disukai teman kakakku, yang kadang suka memberi tahu kalau ada cewek cantik di dekat pasar, dan mungkin aku bisa pacaran. Aku belum besar dan belum pacaran, apalagi memberikan pacarku anak seperti orang-orang dewasa. Mereka tertawa. Waktu Ibu tahu hal ini, Ibu melempari mereka dengan balok kayu, dan sejak itu aku tidak punya teman.

Aku sendirian membaca majalah yang itu-itu juga. Ada empat belas majalah yang semua sudah kubaca. Aku bosan dan ingin membaca majalah-majalah lain. Di tukang sampah aku dapatkan majalah-majalah berisi gambar anak-anak. Mereka mungkin sama denganku, tapi semua punya teman. Mereka disukai dan aku dibenci. Aku ingin seperti mereka dan aku kesal. Kulempar majalah itu ke si sapi yang makan rumput. Tetapi sapi itu tidak mengamuk. Dia sering lupa dan si sapi itu mungkin tidak tahu kalau dulu dia pernah mau menyerudukku sampai mati dan dikubur agar tidak bisa jajan dan bermain lagi.

Aku bosan karena cuma Ibu yang mengajakku ngobrol di rumah. Tidak ada orang lain yang mengajakku ngobrol. Lama-lama teman-teman kakakku balik lagi dan bilang kalau mereka kehilangan aku.

Kubilang, “Aku tidak punya teman dan aku mau jadi orang dewasa!”

Lalu mereka menyuruhku jadi dewasa.

Aku dibelikan obat penumbuh jenggot yang dipajang di iklan majalah kapan hari. Aku dibelikan kacamata berwarna hitam dan disuruh merokok sebungkus tiap hari. Aku suka rokok, tapi biasanya cuma dua rokok sehari, dan itu kalau Ibu tidak tahu. Ibu tidak suka aku merokok, tapi aku senang daripada disuruh makan permen.

Aku gatal setelah pakai obat itu. Aku harus mandi. Aku pergi ke kamar mandi dan berpikir semua ini menjengkelkan. Aku ingin jadi orang dewasa dan bukan gatal-gatal. Mungkin besok tumbuh jenggot, dan kalau itu terjadi, aku pergi dari rumah dan mencari istri dan hidup bahagia selamanya.

Aku akan pamit kepada Ibu dan minta uang jajan lima puluh ribu sebagai modal untuk jadi orang dewasa. Lima puluh ribu terakhir sebelum aku menjadi dewasa yang semoga tidak bikin Ibu keberatan. Semoga Ibu tidak marah. Semoga ibuku juga tidak melempar siapa pun dengan balok kayu. Semoga istriku juga cantik sehingga hati Ibu luluh dan membiarkan anaknya ini menjadi seperti apa yang dia mau. (*)

 

Gempol, 2017-2021

Lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, dan skenario. Karyanya terbit di berbagai media. Novelnya Negeri yang Dilanda Huru-hara (Basabasi, 2018). Segera terbit kumpulan cerita pendeknya, Pengetahuan Baru Umat Manusia.

Mobile_AP_Rectangle 2
Previous articleDi Samping Rel Kereta
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2