alexametrics
25 C
Probolinggo
Thursday, 4 March 2021
Desktop_AP_Top Banner

Mbah Pereng dan Kenangannya

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

Oleh: Achmad Al Hafidz


HASYIM masih duduk di beranda kafé mencermati setiap butir kopi. Menelaah kembali masa lalunya di bawah remang lampu. Hari ini adalah hari hujan. Di mana setiap orang pasti merayakannya atau orang-orang justru menyibukkan diri membersihkan setiap rumahnya yang banjir. Terkadang orang harus melihat hujan sebagai rahmat daripada menyelami hujan sebagai musibah.

Sementara Aji merayakan hujan dengan caranya sendiri. Ia mulai dengan mengunjungi warung Bu Sri yang berada di hilir gang keluar masuk komplek kosnya. Ia berjalan melalui setiap gang dengan rintik hujan di bawah payung hitam kelam miliknya yang bertuliskan “Jangan gangu aku, maaf sedang menikmati kesendirian”.

Panggil saja saya Bagyo. Manusia paling takut, jika malam datang dan bulan menjadi lawan ketika ruang-runag hitam di sela pohon menjadi terang akibatnya. Kata dokter saya mengidap salenophobia.

Hari semakin berlalu tetapi, saya masih mencari cara agar hantu pria tua perokok itu pergi dari kos saya. Setelah menempuh perjalanan satu jam dari kos Aji untuk pulang. Saya merasa lelah karena harus menempuh perjalanan berkelok dan naik turun gunung lalu sampai di ujung barat kota ini.

Sungguh menyebalkan jika seseorang kuliah di kampus sama tetapi terpisah sebab hal yang tak pernah saya ketahui. Saya lebih menyukai lewat jalan di gunung walaupun jauh daripada harus melewati kota dengan segala perihal menyebalkan. Mulai dari debu, jalan berlubang yang sering menelan korban, tukang ojek online yang selalu menatap handphonenya, atau penjual koran yang sadar bahwa mereka menjual ketidakpastian. Sebab era digital akan menggerus hal konvensional seperti koran dan berita akan dijejali hal yang tidak penting untuk dibaca. Sebab, jurnalis terlalu nyaman untuk keluar mencari objektivitas.

“Tok-Tok,” seseorang memanggil.

Lagi-lagi suara nafas berat. Kali ini dia sedang berdiri di beranda depan dengan bau tembakau yang menyengat.

“Bagyo, kamu tahu maksud saya datang lagi.” Pria itu semakin menyeramkan dengan berdiri di beranda. Sepertinya Ia berbicara tanpa menghadap ke arahku.

“Kali ini aku tidak akan takut”, diam-diam aku sudah mempersenjatai diri dengan kalung bawang putih bertali Indomie. Belum sempat aku membuka pintu dari balik pintu terdengar ia seperti membisikkan sesuatu.

Ia menyebut nama “fengshui…fengshui…” dengan ciri khas nafas berat seseorang yang terkena pneumonia. Ketika aku sudah membuka pintu ia sudah hilang hanya meninggalkan tegesan rokok.

“Sepertinya jimat saya berhasil.”

“Akhirnya saya bisa tenang”

Keesokan hari saya sudah berada di atas kasur empuk saya, hanya saja terasa basah. Ternyata atap kamar saya bocor dan rintik hujan merembes dari celah genting. Mengapa saya bermimpi aneh? Apakah pria ini telah masuk di alam bawah sadar saya?

Saya sadar hari ini adalah hari hujan setiap orang pasti merayakan. Tapi apakah dunia alam bawah sadar saya juga ingin berhari raya atau sosok itu yang sedang berhari raya di dalam otak.

Kembali teringat Hasyim sang barista kafé yang sedang merayakan hujan bersama berjibun butiran kopi. Mungkin Hasyim tahu alasan saya dihantui sosok ini.

Malam kemudian, Saya mulai berangkat menuju kafe. Melewati beberapa gang sebelum sampai di jalan raya dimana kafe tersebut berada. Hujan masih begitu deras seirama dengan kicau angin yang tak begitu kencang tapi berderu kencang di telinga.

“Mas Hasyimnya ada?”

“Ya Mas, orang masih di belakang.” Kata seorang pelayan yang masih membereskan meja dan kursi kafe.

“Sedang apa?”

“Biasa Mas, Ia masih membuat ramuan. Tunggu sebentar saja Mas biasanya ia akan segera selesai”

Hasyim datang dengan muka semerawut seperti habis mengerjakan skripsi yang ia kerjakan dua bulan lalu dan sekarang ia mengisi waktu luangnya sambil menunggu wisuda di bulan Maret. Meneruskan usaha kafe sepeningal kakaknya yang merantau di luar Jawa.

Ia kenalan saya di UKM Seni Fotografi dan sedikit lebih tua, karena satu tingkat di atas saya. Saya tidak pernah memanggilnya dengan sebutan mas sejak awal. Mungkin karena kami sudah akrab. Dulu ketika masih belum mempunyai kamera, Hasyim adalah teman yang dengan senang hati mau meminjamkannya. Saya sering menganggu ketika dia mengambil beberapa foto saat kami mendaki di beberapa gunung di Jawa Tengah.

“Ada perihal apa kawanku ke sini?”

“Sudah lama tak jumpa, Syim. Bagaimana kabarmu?

“Baik, yah sedikit sibuk. Beberapa hari ini ada seseorang yang menginginkan saya untuk membuat menu baru di kafe. Seseorang ini datang saja tanpa bicara saat saya masih duduk di beranda kafe. Aneh, waktu itu sekitar tengah malam ketika kafe akan tutup. Pria ini duduk dari senja sampai tengah malam tanpa memesan apapun atau memang saya yang tidak memerhatikan. Lalu ketika saya hendak mempersilakan pergi karena sudah terlalu larut, tiba–tiba ia mengatakan sesuatu sebelum  pergi dan meninggalkan sebuah pesan di mejanya serta tegesan rokok”

“Apa yang ia katakan, Syim?”

“Tidak begitu jelas, suaranya terlalu berat serak seperti orang kebanyakan rokok atau sakit pernapasan.” Ia bercerita sambil memegang dagunya.

Sepertinya sosok fengshui ini juga menghampiri Hasyim. Sepertinya ia belum sadar siapa seseorang itu. Lalu saya menanyakannya

“Apa kau tahu nama orang ini, Syim?”

“Tidak, ia hanya menuliskan pesan.” Hasyim kemudian mengeluarkan kertas sobekan yang berisi kalimat. “Buatkan Kopi Hujan, kopimu tidak enak  dan carikan Fengshui!”

Dalam benak, Saya mulai berpikir jika sosok ini bukan fengshui. Dia sosok yang sama menghantui di kamar dan justru mencari fengshui. Nama orang? Jalan? Entahlah belum terungkap. Akhirnya saya memendam niat untuk bercerita tentang sosok yang masih saya anggap fengshui ini.

Malam sudah terlalu larut. Bahkan waktu sudah menjelang subuh. Saya berpamitan pada Hasyim dan berjalan lagi melewati gang basah dengan bau hujan yang khas.

Kini saya melihat fengshui berdiri tepat di bawah tiang listrik dekat pos ronda. Tubuhnya basah merayakan hujan yang mengguyur semalaman. Dia tak berekspresi atau ingin menyampaikan sesuatu. Padahal ada beberapa orang yang sedang berada di pos ronda tak menyadari kehadiran fengshui. Saya tak menggubris kali ini karena, Saya merasa Ia tidak menganggu. Dengan tetap tenang Saya berjalan menuju kos.

Setelah membersihkan kaki dari percikan tanah dari hujan. Saya menuju kamar. Si fengshui yang pandai teleportasi ini sudah sampai saja di meja belajar.

“Apakah kau tidak mengenaliku?”

“Siapa kau?” lidahku gemetar dan kaku menanyakan kata itu.

“Aku adalah orang yang selalu kau tanyakan keberadaanku, rumahku tepat di tepi sungai. Carikan Fengshui!” ia berteriak ketika di akhir ucapannya.

Saat itu juga seseorang tiba-tiba mengetok pintuku. Saya lalu memalingkan wajah ke arah sumber suara dan orang tua itu kembali hilang. Saya bergegas membuka pintu kamar kos.

“Mas, tolong ini kos sudah tiga bulan tidak bayar. Kalau seminggu lagi tidak dibayar resiko di tanggung sendiri!”

“Ya, Bu” ternyata Bu Lastri menagih uang kos. Saya hanya mantuk-mantuk saja. Sudah dihantui tambah sengsara dibayangi tagihan kontrakan.

Tiba- tiba handphone berdering dengan gugup saya menjawab telepon tersebut, ternyata ibu menelpon dari kampung.

“ Le, kakak Simbahmu meninggal dunia.” Sontak tubuhku bergetar.

Memang tidak terduga jika semesta selalu mengirimkan tanda. Baru sadar jika kakek itu adalah Mbah Pereng ahli hitung kitab primbon di kampung dan tinggal di pinggiran sungai. Sosok itu sudah tidak mengganggu lagi, kini ia harus segera pergi melayat ke kampungnya. (*)

 

*) Mahasiswa UNNES jurusan PGSD. Juga menulis di Storial dengan akun @achmad_alhafidz14.

Mobile_AP_Rectangle 1

Oleh: Achmad Al Hafidz


HASYIM masih duduk di beranda kafé mencermati setiap butir kopi. Menelaah kembali masa lalunya di bawah remang lampu. Hari ini adalah hari hujan. Di mana setiap orang pasti merayakannya atau orang-orang justru menyibukkan diri membersihkan setiap rumahnya yang banjir. Terkadang orang harus melihat hujan sebagai rahmat daripada menyelami hujan sebagai musibah.

Sementara Aji merayakan hujan dengan caranya sendiri. Ia mulai dengan mengunjungi warung Bu Sri yang berada di hilir gang keluar masuk komplek kosnya. Ia berjalan melalui setiap gang dengan rintik hujan di bawah payung hitam kelam miliknya yang bertuliskan “Jangan gangu aku, maaf sedang menikmati kesendirian”.

Mobile_AP_Half Page

Panggil saja saya Bagyo. Manusia paling takut, jika malam datang dan bulan menjadi lawan ketika ruang-runag hitam di sela pohon menjadi terang akibatnya. Kata dokter saya mengidap salenophobia.

Hari semakin berlalu tetapi, saya masih mencari cara agar hantu pria tua perokok itu pergi dari kos saya. Setelah menempuh perjalanan satu jam dari kos Aji untuk pulang. Saya merasa lelah karena harus menempuh perjalanan berkelok dan naik turun gunung lalu sampai di ujung barat kota ini.

Sungguh menyebalkan jika seseorang kuliah di kampus sama tetapi terpisah sebab hal yang tak pernah saya ketahui. Saya lebih menyukai lewat jalan di gunung walaupun jauh daripada harus melewati kota dengan segala perihal menyebalkan. Mulai dari debu, jalan berlubang yang sering menelan korban, tukang ojek online yang selalu menatap handphonenya, atau penjual koran yang sadar bahwa mereka menjual ketidakpastian. Sebab era digital akan menggerus hal konvensional seperti koran dan berita akan dijejali hal yang tidak penting untuk dibaca. Sebab, jurnalis terlalu nyaman untuk keluar mencari objektivitas.

“Tok-Tok,” seseorang memanggil.

Lagi-lagi suara nafas berat. Kali ini dia sedang berdiri di beranda depan dengan bau tembakau yang menyengat.

“Bagyo, kamu tahu maksud saya datang lagi.” Pria itu semakin menyeramkan dengan berdiri di beranda. Sepertinya Ia berbicara tanpa menghadap ke arahku.

“Kali ini aku tidak akan takut”, diam-diam aku sudah mempersenjatai diri dengan kalung bawang putih bertali Indomie. Belum sempat aku membuka pintu dari balik pintu terdengar ia seperti membisikkan sesuatu.

Ia menyebut nama “fengshui…fengshui…” dengan ciri khas nafas berat seseorang yang terkena pneumonia. Ketika aku sudah membuka pintu ia sudah hilang hanya meninggalkan tegesan rokok.

“Sepertinya jimat saya berhasil.”

“Akhirnya saya bisa tenang”

Keesokan hari saya sudah berada di atas kasur empuk saya, hanya saja terasa basah. Ternyata atap kamar saya bocor dan rintik hujan merembes dari celah genting. Mengapa saya bermimpi aneh? Apakah pria ini telah masuk di alam bawah sadar saya?

Saya sadar hari ini adalah hari hujan setiap orang pasti merayakan. Tapi apakah dunia alam bawah sadar saya juga ingin berhari raya atau sosok itu yang sedang berhari raya di dalam otak.

Kembali teringat Hasyim sang barista kafé yang sedang merayakan hujan bersama berjibun butiran kopi. Mungkin Hasyim tahu alasan saya dihantui sosok ini.

Malam kemudian, Saya mulai berangkat menuju kafe. Melewati beberapa gang sebelum sampai di jalan raya dimana kafe tersebut berada. Hujan masih begitu deras seirama dengan kicau angin yang tak begitu kencang tapi berderu kencang di telinga.

“Mas Hasyimnya ada?”

“Ya Mas, orang masih di belakang.” Kata seorang pelayan yang masih membereskan meja dan kursi kafe.

“Sedang apa?”

“Biasa Mas, Ia masih membuat ramuan. Tunggu sebentar saja Mas biasanya ia akan segera selesai”

Hasyim datang dengan muka semerawut seperti habis mengerjakan skripsi yang ia kerjakan dua bulan lalu dan sekarang ia mengisi waktu luangnya sambil menunggu wisuda di bulan Maret. Meneruskan usaha kafe sepeningal kakaknya yang merantau di luar Jawa.

Ia kenalan saya di UKM Seni Fotografi dan sedikit lebih tua, karena satu tingkat di atas saya. Saya tidak pernah memanggilnya dengan sebutan mas sejak awal. Mungkin karena kami sudah akrab. Dulu ketika masih belum mempunyai kamera, Hasyim adalah teman yang dengan senang hati mau meminjamkannya. Saya sering menganggu ketika dia mengambil beberapa foto saat kami mendaki di beberapa gunung di Jawa Tengah.

“Ada perihal apa kawanku ke sini?”

“Sudah lama tak jumpa, Syim. Bagaimana kabarmu?

“Baik, yah sedikit sibuk. Beberapa hari ini ada seseorang yang menginginkan saya untuk membuat menu baru di kafe. Seseorang ini datang saja tanpa bicara saat saya masih duduk di beranda kafe. Aneh, waktu itu sekitar tengah malam ketika kafe akan tutup. Pria ini duduk dari senja sampai tengah malam tanpa memesan apapun atau memang saya yang tidak memerhatikan. Lalu ketika saya hendak mempersilakan pergi karena sudah terlalu larut, tiba–tiba ia mengatakan sesuatu sebelum  pergi dan meninggalkan sebuah pesan di mejanya serta tegesan rokok”

“Apa yang ia katakan, Syim?”

“Tidak begitu jelas, suaranya terlalu berat serak seperti orang kebanyakan rokok atau sakit pernapasan.” Ia bercerita sambil memegang dagunya.

Sepertinya sosok fengshui ini juga menghampiri Hasyim. Sepertinya ia belum sadar siapa seseorang itu. Lalu saya menanyakannya

“Apa kau tahu nama orang ini, Syim?”

“Tidak, ia hanya menuliskan pesan.” Hasyim kemudian mengeluarkan kertas sobekan yang berisi kalimat. “Buatkan Kopi Hujan, kopimu tidak enak  dan carikan Fengshui!”

Dalam benak, Saya mulai berpikir jika sosok ini bukan fengshui. Dia sosok yang sama menghantui di kamar dan justru mencari fengshui. Nama orang? Jalan? Entahlah belum terungkap. Akhirnya saya memendam niat untuk bercerita tentang sosok yang masih saya anggap fengshui ini.

Malam sudah terlalu larut. Bahkan waktu sudah menjelang subuh. Saya berpamitan pada Hasyim dan berjalan lagi melewati gang basah dengan bau hujan yang khas.

Kini saya melihat fengshui berdiri tepat di bawah tiang listrik dekat pos ronda. Tubuhnya basah merayakan hujan yang mengguyur semalaman. Dia tak berekspresi atau ingin menyampaikan sesuatu. Padahal ada beberapa orang yang sedang berada di pos ronda tak menyadari kehadiran fengshui. Saya tak menggubris kali ini karena, Saya merasa Ia tidak menganggu. Dengan tetap tenang Saya berjalan menuju kos.

Setelah membersihkan kaki dari percikan tanah dari hujan. Saya menuju kamar. Si fengshui yang pandai teleportasi ini sudah sampai saja di meja belajar.

“Apakah kau tidak mengenaliku?”

“Siapa kau?” lidahku gemetar dan kaku menanyakan kata itu.

“Aku adalah orang yang selalu kau tanyakan keberadaanku, rumahku tepat di tepi sungai. Carikan Fengshui!” ia berteriak ketika di akhir ucapannya.

Saat itu juga seseorang tiba-tiba mengetok pintuku. Saya lalu memalingkan wajah ke arah sumber suara dan orang tua itu kembali hilang. Saya bergegas membuka pintu kamar kos.

“Mas, tolong ini kos sudah tiga bulan tidak bayar. Kalau seminggu lagi tidak dibayar resiko di tanggung sendiri!”

“Ya, Bu” ternyata Bu Lastri menagih uang kos. Saya hanya mantuk-mantuk saja. Sudah dihantui tambah sengsara dibayangi tagihan kontrakan.

Tiba- tiba handphone berdering dengan gugup saya menjawab telepon tersebut, ternyata ibu menelpon dari kampung.

“ Le, kakak Simbahmu meninggal dunia.” Sontak tubuhku bergetar.

Memang tidak terduga jika semesta selalu mengirimkan tanda. Baru sadar jika kakek itu adalah Mbah Pereng ahli hitung kitab primbon di kampung dan tinggal di pinggiran sungai. Sosok itu sudah tidak mengganggu lagi, kini ia harus segera pergi melayat ke kampungnya. (*)

 

*) Mahasiswa UNNES jurusan PGSD. Juga menulis di Storial dengan akun @achmad_alhafidz14.

Mobile_AP_Rectangle 2
Previous articleTaplak
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2