28.7 C
Probolinggo
Monday, February 6, 2023

Ibuk

Oleh: Windy Estiningrum


MATAHARI belum juga menampakkan wajahnya, tapi perempuan di akhir 30 tahunan itu sudah sibuk di dapur rumah kontrakannya. Rumah kecil di ujung gang yang dekat dengan emplasemen pabrik tebu.

Telur dadar yang dicampur tepung terigu sudah tersaji di piring meja makan usang pemberian kerabat saat pindahan. Sedang Bapak, suaminya sedang memindahkan nasi yang masih mengepulkan asap dari dandang ke bakul.

Saat semburat merah di langit timur, Ibuk, perempuan itu biasa disapa, mengambil kelor di samping dapurnya. Lalu, pepaya muda, dan kemangi yang dijadikan pagar dekat dapur. Dengan campuran bawang merah, bawang putih, dan kunci, sayur mayur yang dipetiknya berubah menjadi panganan enak dan menyehatkan.

Baca Juga:  Penyesalan Doa

Setelah nasi, sayur, dan lauk tersaji di meja makan, Ibuk membangunkan empat penghuni rumah lainnya. Si kecil yang tidur di kamar belakang dan Si Sulung serta dua sepupu lelakinya yang tidur di kamar depan.

Ya, anak Ibuk cuma dua. Si Sulung, lelaki berusia 11 tahun dan Si Bungsu, perempuan berusia 9 tahun. Sedangkan dua keponakannya, Dikhar, remaja lelaki yang baru masuk SMA dan Masyud, si gempal yang baru masuk SMP.

Bangun tidur, keempat bocah itu sudah tahu tugas masing-masing. Menyapu rumah, bersih-bersih kamar, menyapu halaman, menimba air untuk mandi dan cuci piring, atau hanya sekadar menyiapkan piring untuk sarapan penghuni rumah. Tidak ada yang iri, semua sudah jadi kesepakatan di awal.

Baca Juga:  Mitos Kematian Tujuh Orang

Selesai mandi dan rapi dengan seragam masing-masing, keempatnya mulai menyantap sarapannya di ruang tamu. Duduk di sofa kuning penuh lubang yang hanya terlihat sponnya, sofa yang Ibuk beli dari pasar loak.

Oleh: Windy Estiningrum


MATAHARI belum juga menampakkan wajahnya, tapi perempuan di akhir 30 tahunan itu sudah sibuk di dapur rumah kontrakannya. Rumah kecil di ujung gang yang dekat dengan emplasemen pabrik tebu.

Telur dadar yang dicampur tepung terigu sudah tersaji di piring meja makan usang pemberian kerabat saat pindahan. Sedang Bapak, suaminya sedang memindahkan nasi yang masih mengepulkan asap dari dandang ke bakul.

Saat semburat merah di langit timur, Ibuk, perempuan itu biasa disapa, mengambil kelor di samping dapurnya. Lalu, pepaya muda, dan kemangi yang dijadikan pagar dekat dapur. Dengan campuran bawang merah, bawang putih, dan kunci, sayur mayur yang dipetiknya berubah menjadi panganan enak dan menyehatkan.

Baca Juga:  Mitos Kematian Tujuh Orang

Setelah nasi, sayur, dan lauk tersaji di meja makan, Ibuk membangunkan empat penghuni rumah lainnya. Si kecil yang tidur di kamar belakang dan Si Sulung serta dua sepupu lelakinya yang tidur di kamar depan.

Ya, anak Ibuk cuma dua. Si Sulung, lelaki berusia 11 tahun dan Si Bungsu, perempuan berusia 9 tahun. Sedangkan dua keponakannya, Dikhar, remaja lelaki yang baru masuk SMA dan Masyud, si gempal yang baru masuk SMP.

Bangun tidur, keempat bocah itu sudah tahu tugas masing-masing. Menyapu rumah, bersih-bersih kamar, menyapu halaman, menimba air untuk mandi dan cuci piring, atau hanya sekadar menyiapkan piring untuk sarapan penghuni rumah. Tidak ada yang iri, semua sudah jadi kesepakatan di awal.

Baca Juga:  Warung Tetangga

Selesai mandi dan rapi dengan seragam masing-masing, keempatnya mulai menyantap sarapannya di ruang tamu. Duduk di sofa kuning penuh lubang yang hanya terlihat sponnya, sofa yang Ibuk beli dari pasar loak.

Artikel Terkait

Mengaduk Dendam di Waduk Bade

Sejarah Kelam

Kedua Saudari Tiriku

Mitos Kematian Tujuh Orang

Warung Tetangga

Most Read

Artikel Terbaru