alexametrics
28.9 C
Probolinggo
Wednesday, 16 June 2021
Desktop_AP_Top Banner

Misteri Ketupat

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

Oleh: Komala Sutha


TATKALA matahari terik menyengat, Witri tiba di kontrakan. Tanpa duduk, tangan kanannya menaruk di atas meja tamu bungkusan berisi ketupat lima buah. Besar-besar. Pemberian Hajah Minah yang rumahnya di ujung gang. Lebaran baru seminggu berlalu. Witri dan suaminya baru kembali dari kota kelahiran, mereka berdua berlebaran di sana.

Ia beserta suami tercinta telah setahun mengontrak di rumah besar ini. Sejak pagi mereka terbang ke tempat kerja masing-masing. Menjadi guru sekolah lanjutan pertama di tempat yang berbeda.

Pintu yang telah tertutup beberapa menit lalu terkuak. Kepalanya menoleh. Fahri, dengan masih berseragam guru melempar senyum.

“Kok tak denger suara motormu?” tanya Witri.

“Bengkel,” jawab Fahri lalu mendekati Witri yang masih berdiri. Matanya melirik bungkusan di atas meja tamu.

“Ketupat, dari Bu Hajah Minah,” jelas Witri.

“Kau mau makan ketupat ini sekarang?” Fahri menatapnya. Ia hapal istrinya penyuka ketupat. Malah berkenan memakannya hanya dengan sambal seadanya. Witri menggeleng, karena kenyang sudah makan nasi di sekolah. Fahri pun mengatakan hal yang sama.

Kaki Witri yang masih bersepatu masuk ke kamar utama. Fahri mengikuti. Tidak ada lagi yang dilakukan setelah mengganti pakaian dinas mereka. Keduanya sudah solat zuhur di musala sekolah masing-masing. Tak lama, dengkur halus keduanya terdengar. Pulas.

Sudah lima tahun menikah. Witri ngidam anak pertama. Keduanya berasal dari kota lain dan bertemu di kota ini, karena sama-sama tugas. Sebelumnya mereka mengontrak di tempat lain.

“Kenapa tidak cari rumah kontrakan yang kosong? Kan rumah itu ditempati pemiliknya?” kata rekan guru Witri di sekolah.

“Ah, bagiku tak masalah…”

“Masih banyak rumah kontrakan yang lebih bagus dari itu, meskipun tidak luas. Dan terlebih, bisa ditempati berdua saja.”

“Sudah kepalang dibayar dan kami tak ada waktu mencari lagi.”

“Mendingan tinggal berdua agar lebih bebas.”

“Mak Hajah dan Pak Haji juga memberi kebebasan.”

Witri memang tak keberatan harus tinggal di rumah kontrakan meski bersama pemiliknya. Apalagi pemilik rumah meskipun sudah tua, namun tak rewel. Rumah itu bangunan tua, ukurannya terlampau besar. Ditempati berempat saja masih terasa luas.

Lalu setelah itu ada yang suka membicarakan hal yang aneh.

“Eh, Bu Witri apa tak takut tinggal di rumah tua itu? Rumah itu ada penghuninya, lho.”

“Emang ada. Penghuninya Mak Hajah dan Pak Haji,” Witri mengulum senyum.

“Uh,” tampak sedikit kesal orang yang ingin membuat Witri ketakutan. Sebab sepertinya Witri tak mempan ditakut-takuti. Ia sebenarnya mendengar dari obrolan tetangga atau orang-orang yang hobi ngerumpi di warung sekitarnya. Bahwa rumah kontrakan yang ditempatinya itu ada penghuninya dengan kata lain ‘penunggu’ dari bangsa selain manusia.

Ia memang kerap merasakan kehadiran makhluk lain di rumah itu. Ketika malam di atas pukul dua belas, sering terdengar seperti ada yang melempar pasir ke genting rumah. Tetangga yang hobi ngerumpi menjelaskan itu ulah si Gembel, jin penghuni rumah.

“Yang penting tidak mengganggu,” begitu tegas Fahri yang diiyakan Witri. Malam-malam dilalui dengan perasaan nyaman saja meski suara si Gembel melempar pasir di atap rumah menjadi rutinitas hampir di saban malam Jumat.

Nyatanya, mereka betah tinggal di rumah ini. Menempati kamar utama yang cukup luas. Di dalamnya ada TV, sehingga bisa menepis rasa suntuk jika hari di luar mulai gelap. Meski, untuk ke kamar mandi harus tetap melewati ruang tamu, lalu ruang tengah yang luas, setelah itu ruang belakang yang sama luas, baru tiba di kamar mandi yang bersebelahan dengan dapur juga gudang.

Memang, terkadang Witri merasa takut juga. Terlebih jika melewati gudang yang selalu tertutup. Sementara pemilik rumah menempati kamar kesekian, mereka berdua pun jarang bersua Witri dan Fahri.

Witri terbangun dari tidur siang tepat pukul empat. Tubuhnya segera bangkit, udara di dalam kamar terasa panas. Dilihatnya Fahri masih tergolek. Witri membangunkanny,a namun lelaki itu nampak masih enggan membuka matanya. Ia lalu keluar kamar bermaksud ke kamar mandi mengambil air wudu. Lalu tiba-tiba ingatannya pada, ketupat!

Matanya mengarah pada meja tamu. Namun, bungkusan itu tak ada. Kepalanya memutar, rasanya ia tak lupa tadi menaruhnya di situ.

“Kau cari tas hitam berisi ketupat?” tiba-tiba Fahri sudah berdiri di dekatnya.

“Kau yang memindah? Tadi ada di meja.”

“Tidak. Bukankah kita sama-sama masuk kamar, lalu tidur dan baru sekarang rbangun?”

“Di mana ya plastik ketupat?

“Kau tanya Mak Hajah atau Pak Haji.”

“Mereka jarang ke ruang tamu. Jika ada keperluan ke luar rumah pun, selalu memakai pintu samping atau belakang rumah. Bahkan tak pernah lewat sini. Mereka sangat menghargai kita dan tak mau mengusik ketenangan kita. Aku paham watak mereka.”

“Sebaiknya kau tanyakan dulu demi membuat rasa penasaranmu terjawab. Jika tidak, abaikan saja.”

Witri bergegas ke ruang belakang. Di ruang TV, pemilik rumah tersenyum. Lalu Witri menanyakan perihal palstik hitam berisi ketupat. Mereka berdua mengatakan tidak tahu dan menegaskan sudah lama tidak masuk ke ruang tamu.

Selepas salat asar, Witri terus memikirkannya. Jika ada yang memindah, siapa pelakunya? Dicari di dalam kulkas pribadi juga tak ada. Ia bersikeras menaruhnya di atas meja tamu.

“Sudahlan, jangan dipikirin terus. Mau aku belikan?” Fahri membujuk Witri, meski ia pun tak yakin menemukan penjual ketupat setelah lebaran. Namun, Witri menggeleng. Bukan perkara hilangnya, namun bingung mengapa tidak ada di tempat. Sementara pemilik rumah mengaku tidak pernah melihat, apalagi sampai memindah dari posisi semula.

“Atau mungkin ada cucu-cucu Mak Hajah main kemari sewaktu kita tidur siang. Lalu mereka mengambil ketupat itu dan memakannya,” Fahri berseloroh, namun Witri tak tersenyum.

Semua cucu pemilik rumah tinggal di tempat jauh. Jika sesekali pun berkunjung, tak pernah masuk ke ruang tamu. Lagipula sudah jelas, hari tadi tak ada yang berkunjung ke rumah besar ini.

Berhari-hari ketupat yang raib masih mengganggu pikiran Witri. Fahri sudah berusaha membujuk dan menghibur, bahkan membawakan sepuluh buah ketupat untuk istrinya yang ngidam. Namun, tak membuat Witri tertarik.

Hingga suatu pagi di hari Minggu, Mak Hajah dan Pak Haji membuka gudang dekat dapur. Gudang yang selalu tertutup dan terkunci. Di dalamnya berisi perabotan lama. Kotor dan berdebu, karena tak pernah dirawat. Bahkan dibuka kuncinya, setahun sekali pun tidak.

Pagi itu tidak biasanya kedua pemilik rumah ingin bersih-bersih. Lalu berteriak memanggil Witri dan Fahri yang tengah bersantai menonton TV di kamar. Teriakan yang samar-samar tertangkap ke ruang depan.

Sontak keduanya setengah berlari menuju ruang belakang. Mak Hajah meminta mengikutinya masuk ke gudang. Hidung Witri bersin-bersin kena debu yang memuakkan.

Ruangan itu terang, karena Mak Hajah menghidupkan lampu sejak awal bersih-bersih. Tangan perempuan tua itu menarik lengan Witri menuju meja panjang tua yang terbuat dari kayu jati kualitas nomor satu.

Witri terkesiap mendapati apa yang berada di meja itu. Satu, dua, tiga, empat, hingga lima. Berjajar. Ketupat, berbalut daun kelapa. Entah siapa yang mengatur jaraknya, sehingga bisa sedemikian rapi. Plastik hitam pembungkusnya entah kemana dan Witri yakin ketupat yang dilihatnya sekarang itu pernah ditaruhnya di atas meja tamu tempo hari.

Mendadak bulu kuduknya berdiri pagi itu. Terbayang pelakunya yang juga sering melempar pasir di atas atap rumah.***

Bandung Barat, 16 Juli 2020

*) Lahir di Bandung, 12 Juli 1974, menulis dalam bahasa Sunda, Jawa dan Indonesia. Tulisannya dimuat dalam banyak koran dan majalah.

Mobile_AP_Rectangle 1

Oleh: Komala Sutha


TATKALA matahari terik menyengat, Witri tiba di kontrakan. Tanpa duduk, tangan kanannya menaruk di atas meja tamu bungkusan berisi ketupat lima buah. Besar-besar. Pemberian Hajah Minah yang rumahnya di ujung gang. Lebaran baru seminggu berlalu. Witri dan suaminya baru kembali dari kota kelahiran, mereka berdua berlebaran di sana.

Ia beserta suami tercinta telah setahun mengontrak di rumah besar ini. Sejak pagi mereka terbang ke tempat kerja masing-masing. Menjadi guru sekolah lanjutan pertama di tempat yang berbeda.

Mobile_AP_Half Page

Pintu yang telah tertutup beberapa menit lalu terkuak. Kepalanya menoleh. Fahri, dengan masih berseragam guru melempar senyum.

“Kok tak denger suara motormu?” tanya Witri.

“Bengkel,” jawab Fahri lalu mendekati Witri yang masih berdiri. Matanya melirik bungkusan di atas meja tamu.

“Ketupat, dari Bu Hajah Minah,” jelas Witri.

“Kau mau makan ketupat ini sekarang?” Fahri menatapnya. Ia hapal istrinya penyuka ketupat. Malah berkenan memakannya hanya dengan sambal seadanya. Witri menggeleng, karena kenyang sudah makan nasi di sekolah. Fahri pun mengatakan hal yang sama.

Kaki Witri yang masih bersepatu masuk ke kamar utama. Fahri mengikuti. Tidak ada lagi yang dilakukan setelah mengganti pakaian dinas mereka. Keduanya sudah solat zuhur di musala sekolah masing-masing. Tak lama, dengkur halus keduanya terdengar. Pulas.

Sudah lima tahun menikah. Witri ngidam anak pertama. Keduanya berasal dari kota lain dan bertemu di kota ini, karena sama-sama tugas. Sebelumnya mereka mengontrak di tempat lain.

“Kenapa tidak cari rumah kontrakan yang kosong? Kan rumah itu ditempati pemiliknya?” kata rekan guru Witri di sekolah.

“Ah, bagiku tak masalah…”

“Masih banyak rumah kontrakan yang lebih bagus dari itu, meskipun tidak luas. Dan terlebih, bisa ditempati berdua saja.”

“Sudah kepalang dibayar dan kami tak ada waktu mencari lagi.”

“Mendingan tinggal berdua agar lebih bebas.”

“Mak Hajah dan Pak Haji juga memberi kebebasan.”

Witri memang tak keberatan harus tinggal di rumah kontrakan meski bersama pemiliknya. Apalagi pemilik rumah meskipun sudah tua, namun tak rewel. Rumah itu bangunan tua, ukurannya terlampau besar. Ditempati berempat saja masih terasa luas.

Lalu setelah itu ada yang suka membicarakan hal yang aneh.

“Eh, Bu Witri apa tak takut tinggal di rumah tua itu? Rumah itu ada penghuninya, lho.”

“Emang ada. Penghuninya Mak Hajah dan Pak Haji,” Witri mengulum senyum.

“Uh,” tampak sedikit kesal orang yang ingin membuat Witri ketakutan. Sebab sepertinya Witri tak mempan ditakut-takuti. Ia sebenarnya mendengar dari obrolan tetangga atau orang-orang yang hobi ngerumpi di warung sekitarnya. Bahwa rumah kontrakan yang ditempatinya itu ada penghuninya dengan kata lain ‘penunggu’ dari bangsa selain manusia.

Ia memang kerap merasakan kehadiran makhluk lain di rumah itu. Ketika malam di atas pukul dua belas, sering terdengar seperti ada yang melempar pasir ke genting rumah. Tetangga yang hobi ngerumpi menjelaskan itu ulah si Gembel, jin penghuni rumah.

“Yang penting tidak mengganggu,” begitu tegas Fahri yang diiyakan Witri. Malam-malam dilalui dengan perasaan nyaman saja meski suara si Gembel melempar pasir di atap rumah menjadi rutinitas hampir di saban malam Jumat.

Nyatanya, mereka betah tinggal di rumah ini. Menempati kamar utama yang cukup luas. Di dalamnya ada TV, sehingga bisa menepis rasa suntuk jika hari di luar mulai gelap. Meski, untuk ke kamar mandi harus tetap melewati ruang tamu, lalu ruang tengah yang luas, setelah itu ruang belakang yang sama luas, baru tiba di kamar mandi yang bersebelahan dengan dapur juga gudang.

Memang, terkadang Witri merasa takut juga. Terlebih jika melewati gudang yang selalu tertutup. Sementara pemilik rumah menempati kamar kesekian, mereka berdua pun jarang bersua Witri dan Fahri.

Witri terbangun dari tidur siang tepat pukul empat. Tubuhnya segera bangkit, udara di dalam kamar terasa panas. Dilihatnya Fahri masih tergolek. Witri membangunkanny,a namun lelaki itu nampak masih enggan membuka matanya. Ia lalu keluar kamar bermaksud ke kamar mandi mengambil air wudu. Lalu tiba-tiba ingatannya pada, ketupat!

Matanya mengarah pada meja tamu. Namun, bungkusan itu tak ada. Kepalanya memutar, rasanya ia tak lupa tadi menaruhnya di situ.

“Kau cari tas hitam berisi ketupat?” tiba-tiba Fahri sudah berdiri di dekatnya.

“Kau yang memindah? Tadi ada di meja.”

“Tidak. Bukankah kita sama-sama masuk kamar, lalu tidur dan baru sekarang rbangun?”

“Di mana ya plastik ketupat?

“Kau tanya Mak Hajah atau Pak Haji.”

“Mereka jarang ke ruang tamu. Jika ada keperluan ke luar rumah pun, selalu memakai pintu samping atau belakang rumah. Bahkan tak pernah lewat sini. Mereka sangat menghargai kita dan tak mau mengusik ketenangan kita. Aku paham watak mereka.”

“Sebaiknya kau tanyakan dulu demi membuat rasa penasaranmu terjawab. Jika tidak, abaikan saja.”

Witri bergegas ke ruang belakang. Di ruang TV, pemilik rumah tersenyum. Lalu Witri menanyakan perihal palstik hitam berisi ketupat. Mereka berdua mengatakan tidak tahu dan menegaskan sudah lama tidak masuk ke ruang tamu.

Selepas salat asar, Witri terus memikirkannya. Jika ada yang memindah, siapa pelakunya? Dicari di dalam kulkas pribadi juga tak ada. Ia bersikeras menaruhnya di atas meja tamu.

“Sudahlan, jangan dipikirin terus. Mau aku belikan?” Fahri membujuk Witri, meski ia pun tak yakin menemukan penjual ketupat setelah lebaran. Namun, Witri menggeleng. Bukan perkara hilangnya, namun bingung mengapa tidak ada di tempat. Sementara pemilik rumah mengaku tidak pernah melihat, apalagi sampai memindah dari posisi semula.

“Atau mungkin ada cucu-cucu Mak Hajah main kemari sewaktu kita tidur siang. Lalu mereka mengambil ketupat itu dan memakannya,” Fahri berseloroh, namun Witri tak tersenyum.

Semua cucu pemilik rumah tinggal di tempat jauh. Jika sesekali pun berkunjung, tak pernah masuk ke ruang tamu. Lagipula sudah jelas, hari tadi tak ada yang berkunjung ke rumah besar ini.

Berhari-hari ketupat yang raib masih mengganggu pikiran Witri. Fahri sudah berusaha membujuk dan menghibur, bahkan membawakan sepuluh buah ketupat untuk istrinya yang ngidam. Namun, tak membuat Witri tertarik.

Hingga suatu pagi di hari Minggu, Mak Hajah dan Pak Haji membuka gudang dekat dapur. Gudang yang selalu tertutup dan terkunci. Di dalamnya berisi perabotan lama. Kotor dan berdebu, karena tak pernah dirawat. Bahkan dibuka kuncinya, setahun sekali pun tidak.

Pagi itu tidak biasanya kedua pemilik rumah ingin bersih-bersih. Lalu berteriak memanggil Witri dan Fahri yang tengah bersantai menonton TV di kamar. Teriakan yang samar-samar tertangkap ke ruang depan.

Sontak keduanya setengah berlari menuju ruang belakang. Mak Hajah meminta mengikutinya masuk ke gudang. Hidung Witri bersin-bersin kena debu yang memuakkan.

Ruangan itu terang, karena Mak Hajah menghidupkan lampu sejak awal bersih-bersih. Tangan perempuan tua itu menarik lengan Witri menuju meja panjang tua yang terbuat dari kayu jati kualitas nomor satu.

Witri terkesiap mendapati apa yang berada di meja itu. Satu, dua, tiga, empat, hingga lima. Berjajar. Ketupat, berbalut daun kelapa. Entah siapa yang mengatur jaraknya, sehingga bisa sedemikian rapi. Plastik hitam pembungkusnya entah kemana dan Witri yakin ketupat yang dilihatnya sekarang itu pernah ditaruhnya di atas meja tamu tempo hari.

Mendadak bulu kuduknya berdiri pagi itu. Terbayang pelakunya yang juga sering melempar pasir di atas atap rumah.***

Bandung Barat, 16 Juli 2020

*) Lahir di Bandung, 12 Juli 1974, menulis dalam bahasa Sunda, Jawa dan Indonesia. Tulisannya dimuat dalam banyak koran dan majalah.

Mobile_AP_Rectangle 2
Previous articleWarung Tetangga
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2