25.6 C
Probolinggo
Tuesday, October 4, 2022

Sejarah Kelam

DUNIA tidak pernah adil. Gadis itu tumbuh dewasa tanpa kasih sayang, seorang diri mengarungi kegelapan. Ditolak masyarakat meski memiliki wajah cantik, rambutnya terurai panjang sepunggung. Hal itu tidak menutupi fakta bahwa dia buta.

Seolah dihadapkan dengan ujung pedang yang siap menusuk dalam hitungan detik. Bau amis tercium besama cairan lengket memeluk kulit. Tawa iblis menggema di telinga, seolah terbiasa ditindas dengan cara beragam. Dalam hati ia meneriakkan nama bunda, bunda yang hilang bertahun-tahun.

Tawa itu masih terdengar dari kejauhan. Meninggalkan sesosok mayat hidup di belakang sekolah. Sekolah sialan yang membiarkan peristiwa keji. Ia terpaksa bolos pelajaran ketiga, seluruh dunia seperti neraka bagi remaja sepertinya. Sebagaimana tunanetra lain, ia ingin bisa melihat pelangi atau senja. Tanpa bantuan tongkat rapuh yang sudah seperti kekasihnya sendiri.

Tangan kurusnya mengobrak-abrik tong, mencari sampah yang masih bisa dimakan dan menemukan roti yang sudah tergigit. Dia hendak memasukkan makanan itu ke mulut tapi tiba-tiba terdengar suara tua memanggil.

“Jangan makan itu, makanlah ini.”

Tangan keriput itu menjulurkan sebuah apel. Memungut roti busuk yang masih utuh di tangan si gadis. Ia pamit, meninggalkan gadis yang masih terpaku. Gadis itu tahu hari masih siang saat terdengar azan dan kepalanya merasa pusing, sepertinya matahari berada di posisi puncak.

Ia berkeliling tanpa tujuan, bahkan saat hujan deras melanda. Bukan karena tak punya rumah melainkan tak tahu apa itu rumah. Sampailah ia di sebuah tempat penyeberangan. Sepasang kaki kurusnya memberanikan diri melewati zebra cross. Sebuah mobil mengklakson dengan kasar, tiba-tiba seseorang mendorong dari belakang. Seorang lelaki membantunya berdiri.

“Tidak semua hal bisa kamu lakukan sendiri. Ingat masih ada orang lain.”

DUNIA tidak pernah adil. Gadis itu tumbuh dewasa tanpa kasih sayang, seorang diri mengarungi kegelapan. Ditolak masyarakat meski memiliki wajah cantik, rambutnya terurai panjang sepunggung. Hal itu tidak menutupi fakta bahwa dia buta.

Seolah dihadapkan dengan ujung pedang yang siap menusuk dalam hitungan detik. Bau amis tercium besama cairan lengket memeluk kulit. Tawa iblis menggema di telinga, seolah terbiasa ditindas dengan cara beragam. Dalam hati ia meneriakkan nama bunda, bunda yang hilang bertahun-tahun.

Tawa itu masih terdengar dari kejauhan. Meninggalkan sesosok mayat hidup di belakang sekolah. Sekolah sialan yang membiarkan peristiwa keji. Ia terpaksa bolos pelajaran ketiga, seluruh dunia seperti neraka bagi remaja sepertinya. Sebagaimana tunanetra lain, ia ingin bisa melihat pelangi atau senja. Tanpa bantuan tongkat rapuh yang sudah seperti kekasihnya sendiri.

Tangan kurusnya mengobrak-abrik tong, mencari sampah yang masih bisa dimakan dan menemukan roti yang sudah tergigit. Dia hendak memasukkan makanan itu ke mulut tapi tiba-tiba terdengar suara tua memanggil.

“Jangan makan itu, makanlah ini.”

Tangan keriput itu menjulurkan sebuah apel. Memungut roti busuk yang masih utuh di tangan si gadis. Ia pamit, meninggalkan gadis yang masih terpaku. Gadis itu tahu hari masih siang saat terdengar azan dan kepalanya merasa pusing, sepertinya matahari berada di posisi puncak.

Ia berkeliling tanpa tujuan, bahkan saat hujan deras melanda. Bukan karena tak punya rumah melainkan tak tahu apa itu rumah. Sampailah ia di sebuah tempat penyeberangan. Sepasang kaki kurusnya memberanikan diri melewati zebra cross. Sebuah mobil mengklakson dengan kasar, tiba-tiba seseorang mendorong dari belakang. Seorang lelaki membantunya berdiri.

“Tidak semua hal bisa kamu lakukan sendiri. Ingat masih ada orang lain.”

Artikel Terkait

Kedua Saudari Tiriku

Mitos Kematian Tujuh Orang

Ibuk

Warung Tetangga

Setengah Hantu

Most Read

Artikel Terbaru

/