alexametrics
27C
Probolinggo
Friday, 23 April 2021
Desktop_AP_Top Banner

Di Samping Rel Kereta

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

Oleh: Windy Estiningrum


MATA lelaki itu seperti ingin keluar, dia meneliti pakaian yang digunakan perempuan di depannya. Perempuan yang setiap hari dilihat berpakaian tertutup dan anggun itu, kini hanya memakai kemben dari kain jarit yang terjulur mulai bawah ketiak hingga di atas lutut.

Dia ingin tidak mempercayai penglihatannya, tapi nyatanya indranya seperti meyakinkan apa yang dilihatnya. Perempuan anggun yang ia hormati, nyatanya ia temukan di sini. Di tenda di samping rel kereta.

Kecewa, pasti. Tapi dia pun tahu perempuan itu juga sangat kecewa padanya. Dia tahu, perempuan cantik di depannya yang sama terkejutnya dengannya lebih kecewa terhadapnya. Dia ingin marah pada perempuan yang sudah membohonginya ini, tapi apa haknya saat dia juga sama saja bermain-main di tempat ini.

Perempuan yang sering dipanggil Astri itu seperti menggigil menemukan lelaki jantung hatinya di tempat ini. kakinya tiba-tiba melemas saat tatapan mata mereka bertemu di tenda dekil di samping rel kereta.

Tangis Astri teredam oleh bisingnya suara kereta yang lalu lalang di depan tenda. Tangannya mencekram erat pakaian yang hanya menyisakan kain jarit. Di depannya, seorang pemuda duduk dengan menekuk lutut sambil menenggelamkan wajah pada kedua tangannya.

“Kamu sering ke sini?” tanya Astri di sela tangisnya. Namun lelaki di depannya tak kunjung menjawab. Seperti tak ingin memperlihatkan wajahnya, lelaki itu semakin menunduk menyembunyikan wajahnya.

“Jawab, sering kamu ke sini?” suara Astri menyaratkan keterlukaan yang sangat dalam. Lelaki di depannya hanya sanggup mengangguk tanpa melepaskan tangan dari wajahnya.

“Kenapa?” air mata yang tadi mulai berhenti, kini mengalir lagi hingga beranak pinak. Astri tergugu, hatinya terluka dalam. Ini jauh lebih sakit dari saat dia harus menjual harga dirinya di tempat ini, rasanya dunia Astri saat ini berhenti, apa yang dibangga-banggakannya hancur di hadapannya. Apa yang menjadi harapannya, seakan musnah tak tersisa.

Sedang lelaki di depannya menangis tanpa suara, bahunya bergetar, tapi wajahnya tak juga terangkat dari sana.

“Maaf,” suara lelaki itu terdengar lirih karena teredam lipatan tangannya.

Penyesalan, kekecewaan, sakit, dan terluka menumpuk semua di hati Astri. Lelaki belahan jiwanya tega mengecewakannya sedalam ini. Lelaki yang selalu dia puja, nyatanya melukainya sedalam ini.

Pelan Astri memakai kembali kebayanya. Hasratnya untuk bekerja malam ini sudah hilang. Lelaki yang ada di hadapannya ini menghilangkan semuanya. Menghilangkan kepercayaannya, menghilangkan masa depannya, dan saat ini menghilangkan hasratnya untuk bekerja.

Iya, Astri di sini bekerja. Bekerja melayani pelanggannya yang mampir ke tenda-tenda di samping rel kerata. Hanya satu yang tak pernah ada dalam bayangan Astri, lelaki yang ada di depannya ini akan menjadi pelanggannya. Kecewa, sangat. Semua yang dia bangun baik-baik harus hancur hari ini, di depan lelaki muda itu, lelakinya.

“Sejak kapan kerja di sini?” kepala lelaki itu terangkat sepenuhnya, tapi pandangannya tidak lagi ke Astri, tapi ke ujung tenda dekat pintu masuk. Dia juga kecewa mengetahui orang dihormatinya adalah perempuan malam yang menjajakan tubuhnya di tenda samping rel kereta.

***

Asap mengepul dari tenda warung kopi di samping rel kereta, seorang wanita paro baya menghisap gulungan tembakau penuh khidmat. Astri duduk di depannya membenarkan riasan di wajahnya. Di sampingnya, Sri yang merapikan kebayanya sembari menikmati kopi hitam yang tersaji hangat di dalam cangkir.

“Kemarin kamu kok gak datang, Tri?” tanya Tumini sambil ngudut.

“Aku kemarin nyambangi Mas Eep di penjara, Yu. Biasa, jadwal kunjungan,” jawab Astri sambil memakai pensil alis pada alis sebelah kiri.

“Suamimu iku dipenjara perkara apa tho, Tri?” tanya Sri penasaran.

Mbajing,” jawab Astri enteng sambil membenarkan alis sebelah kanannya.

“Dipenjara berapa tahun?” Sri belum puas mengorek informasi dari Astri. Di antara mereka bertiga, Sri memang yang baru gabung. Sedangkan Astri dan Tumini sudah lama bekerja di sana.

“Sepuluh tahun, Yu,” kini Astri memakai gincu merah di bibirnya.

Oalah, Lama ya, Tri,” Astri hanya tersenyum menjawab pertanyaan Sri itu.

“Romi masih mondok, Tri?” kini Tumini menanyakan anak lelaki semata wayang Astri.

“Masih, Yu. Aku takut seperti bapake, jadi tak modokno,” Astri sibuk memasukkan peralatan riasnya ke dalam tas kecil.

“Romi wis gede ya, Tri?” Tumini menerawang membayangkan anak Astri yang sudah dewasa. Dia berteman dengan Astri sejak perempuan itu tersesat di tenda ini lima tahun lalu.

“Wis 17 tahun, Yu,” Astri berdiri merapikan kebaya yang digunakannya.

“Anakmu wis gede, Tri? Padahal kamu masih muda,” Sri memperhatikan penampilan Astri yang lebih muda darinya.

Lha aku kawin umur 16, Yu. Punya anak Romi umur 18,” Astri mengecek hape jadulnya, lalu beranjak pergi meninggalkan dua temannya. “Aku dulu ya, Yuk. Sudah ada tamu di tenda Cak Dikin,” pamit Astri pada dua wanita yang kini sibuk merapikan diri.

***

Astri memasuki tenda yang sudah disiapkan Cak Dikin. Tenda kecil berukuran 2 kali 2 meter dengan alas karton bekas dan selimut kumal sudah tergelar di sana. Astri membuka kebayanya, menyisakan kemben dari jarit.

Sambil menunggu tamu yang sudah order ke Cak Dikin, Astri sesekali merapikan dandannya, menyemprot parfum andalannya ke seluruh tubuh, dan merapikan kembennya. Sebelum tamunya datang, Astri menyempatkan mengirim pesan untuk anaknya yang di pondok. Dia berharap anaknya baik-baik saja di dalam pondok.

Tiga puluh menit telah berlalu, tamu yang ditunggu Astri pun membuka pintu tenda. Seorang laki-laki tampan yang masih muda mematung di sana. Pandangannya bertubrukan dengan Astri.

“Romi,” mata Astri membesar seakan memastikan lelaki di depannya.

“E…mak,” Romi bergetar mengetahui wanita yang di dalam tenda itu adalah ibunya.

 

Jatiroto, 5 Maret 2021

Penikmat Sastra

Mobile_AP_Rectangle 1

Oleh: Windy Estiningrum


MATA lelaki itu seperti ingin keluar, dia meneliti pakaian yang digunakan perempuan di depannya. Perempuan yang setiap hari dilihat berpakaian tertutup dan anggun itu, kini hanya memakai kemben dari kain jarit yang terjulur mulai bawah ketiak hingga di atas lutut.

Dia ingin tidak mempercayai penglihatannya, tapi nyatanya indranya seperti meyakinkan apa yang dilihatnya. Perempuan anggun yang ia hormati, nyatanya ia temukan di sini. Di tenda di samping rel kereta.

Mobile_AP_Half Page

Kecewa, pasti. Tapi dia pun tahu perempuan itu juga sangat kecewa padanya. Dia tahu, perempuan cantik di depannya yang sama terkejutnya dengannya lebih kecewa terhadapnya. Dia ingin marah pada perempuan yang sudah membohonginya ini, tapi apa haknya saat dia juga sama saja bermain-main di tempat ini.

Perempuan yang sering dipanggil Astri itu seperti menggigil menemukan lelaki jantung hatinya di tempat ini. kakinya tiba-tiba melemas saat tatapan mata mereka bertemu di tenda dekil di samping rel kereta.

Tangis Astri teredam oleh bisingnya suara kereta yang lalu lalang di depan tenda. Tangannya mencekram erat pakaian yang hanya menyisakan kain jarit. Di depannya, seorang pemuda duduk dengan menekuk lutut sambil menenggelamkan wajah pada kedua tangannya.

“Kamu sering ke sini?” tanya Astri di sela tangisnya. Namun lelaki di depannya tak kunjung menjawab. Seperti tak ingin memperlihatkan wajahnya, lelaki itu semakin menunduk menyembunyikan wajahnya.

“Jawab, sering kamu ke sini?” suara Astri menyaratkan keterlukaan yang sangat dalam. Lelaki di depannya hanya sanggup mengangguk tanpa melepaskan tangan dari wajahnya.

“Kenapa?” air mata yang tadi mulai berhenti, kini mengalir lagi hingga beranak pinak. Astri tergugu, hatinya terluka dalam. Ini jauh lebih sakit dari saat dia harus menjual harga dirinya di tempat ini, rasanya dunia Astri saat ini berhenti, apa yang dibangga-banggakannya hancur di hadapannya. Apa yang menjadi harapannya, seakan musnah tak tersisa.

Sedang lelaki di depannya menangis tanpa suara, bahunya bergetar, tapi wajahnya tak juga terangkat dari sana.

“Maaf,” suara lelaki itu terdengar lirih karena teredam lipatan tangannya.

Penyesalan, kekecewaan, sakit, dan terluka menumpuk semua di hati Astri. Lelaki belahan jiwanya tega mengecewakannya sedalam ini. Lelaki yang selalu dia puja, nyatanya melukainya sedalam ini.

Pelan Astri memakai kembali kebayanya. Hasratnya untuk bekerja malam ini sudah hilang. Lelaki yang ada di hadapannya ini menghilangkan semuanya. Menghilangkan kepercayaannya, menghilangkan masa depannya, dan saat ini menghilangkan hasratnya untuk bekerja.

Iya, Astri di sini bekerja. Bekerja melayani pelanggannya yang mampir ke tenda-tenda di samping rel kerata. Hanya satu yang tak pernah ada dalam bayangan Astri, lelaki yang ada di depannya ini akan menjadi pelanggannya. Kecewa, sangat. Semua yang dia bangun baik-baik harus hancur hari ini, di depan lelaki muda itu, lelakinya.

“Sejak kapan kerja di sini?” kepala lelaki itu terangkat sepenuhnya, tapi pandangannya tidak lagi ke Astri, tapi ke ujung tenda dekat pintu masuk. Dia juga kecewa mengetahui orang dihormatinya adalah perempuan malam yang menjajakan tubuhnya di tenda samping rel kereta.

***

Asap mengepul dari tenda warung kopi di samping rel kereta, seorang wanita paro baya menghisap gulungan tembakau penuh khidmat. Astri duduk di depannya membenarkan riasan di wajahnya. Di sampingnya, Sri yang merapikan kebayanya sembari menikmati kopi hitam yang tersaji hangat di dalam cangkir.

“Kemarin kamu kok gak datang, Tri?” tanya Tumini sambil ngudut.

“Aku kemarin nyambangi Mas Eep di penjara, Yu. Biasa, jadwal kunjungan,” jawab Astri sambil memakai pensil alis pada alis sebelah kiri.

“Suamimu iku dipenjara perkara apa tho, Tri?” tanya Sri penasaran.

Mbajing,” jawab Astri enteng sambil membenarkan alis sebelah kanannya.

“Dipenjara berapa tahun?” Sri belum puas mengorek informasi dari Astri. Di antara mereka bertiga, Sri memang yang baru gabung. Sedangkan Astri dan Tumini sudah lama bekerja di sana.

“Sepuluh tahun, Yu,” kini Astri memakai gincu merah di bibirnya.

Oalah, Lama ya, Tri,” Astri hanya tersenyum menjawab pertanyaan Sri itu.

“Romi masih mondok, Tri?” kini Tumini menanyakan anak lelaki semata wayang Astri.

“Masih, Yu. Aku takut seperti bapake, jadi tak modokno,” Astri sibuk memasukkan peralatan riasnya ke dalam tas kecil.

“Romi wis gede ya, Tri?” Tumini menerawang membayangkan anak Astri yang sudah dewasa. Dia berteman dengan Astri sejak perempuan itu tersesat di tenda ini lima tahun lalu.

“Wis 17 tahun, Yu,” Astri berdiri merapikan kebaya yang digunakannya.

“Anakmu wis gede, Tri? Padahal kamu masih muda,” Sri memperhatikan penampilan Astri yang lebih muda darinya.

Lha aku kawin umur 16, Yu. Punya anak Romi umur 18,” Astri mengecek hape jadulnya, lalu beranjak pergi meninggalkan dua temannya. “Aku dulu ya, Yuk. Sudah ada tamu di tenda Cak Dikin,” pamit Astri pada dua wanita yang kini sibuk merapikan diri.

***

Astri memasuki tenda yang sudah disiapkan Cak Dikin. Tenda kecil berukuran 2 kali 2 meter dengan alas karton bekas dan selimut kumal sudah tergelar di sana. Astri membuka kebayanya, menyisakan kemben dari jarit.

Sambil menunggu tamu yang sudah order ke Cak Dikin, Astri sesekali merapikan dandannya, menyemprot parfum andalannya ke seluruh tubuh, dan merapikan kembennya. Sebelum tamunya datang, Astri menyempatkan mengirim pesan untuk anaknya yang di pondok. Dia berharap anaknya baik-baik saja di dalam pondok.

Tiga puluh menit telah berlalu, tamu yang ditunggu Astri pun membuka pintu tenda. Seorang laki-laki tampan yang masih muda mematung di sana. Pandangannya bertubrukan dengan Astri.

“Romi,” mata Astri membesar seakan memastikan lelaki di depannya.

“E…mak,” Romi bergetar mengetahui wanita yang di dalam tenda itu adalah ibunya.

 

Jatiroto, 5 Maret 2021

Penikmat Sastra

Mobile_AP_Rectangle 2
Previous articleMbah Pereng dan Kenangannya
Next articleSetengah Hantu
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2