alexametrics
25 C
Probolinggo
Thursday, 4 March 2021
Desktop_AP_Top Banner

Taplak

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

Oleh: Endang S. Sulistiya


TIBA-TIBA malu mengguyur Dar. Percuma menepi bila telanjur basah. Segera usai jok terguncang oleh bokong besar Sul, Dar melarikan diri secepat laju motornya.

“Dapat tonjok jadah. Putih dan empuk, Pak. Mau dimakan langsung atau digoreng?” tawar Sul sumringah seraya terus mengubek-ubek baskom.

Dua kerucut nasi yang terbungkus dengan daun jati, dua bungkus kecil mie goreng yang dikemas di kertas minyak, seplastik jajanan yang terdiri dari nogosari, jadah, wajik, dan pisang. Semua isi baskom dikeluarkan. Berjejer di atas meja.

“Lain kali, aku ogah mengantar lagi. Berangkatlah jalan kaki bersama yang lain. Jangan sampai tertinggal lagi,” ujar Dar ketus. Tanpa melihat pada Sul ataupun pada jejeran makanan di atas meja.

“Satu lagi. Buang taplak itu! Jangan pernah dipakai untuk apapun lagi.” Sorot mata Dar memukul taplak pembungkus baskom.

Dar berlalu. Walau mulut terkatub, batin Sul menggubris. Dipandangnya punggung suaminya hingga tertelan pintu kamar. Agaknya Sul telah melihat adanya perbedaan. Tidak lagi hanya perubahan.

Sejenak rasa ingin menyusul. Baik untuk menyelesaikan segala sesuatunya di awal. Akan tetapi Sul kemudian tersadar. Kodisi sekarang telah jauh berbeda dari dulu. Jika dulu cukup senyum saja bisa meluruhkan kesal serta jengkel suaminya. Bila dulu dengan peluk dan kecup telah sanggup merobohkan angkuh dan marah Dar. Namun masa lalu semacam itu telah lama menghilang. Bahkan bayangannya saja tak bersisa.

Lemparan bantal, sandal atau bahkan putung rokok adalah yang paling sering Sul dapatkan. Sesekali terpikir oleh Sul, apa ia sudah serongsok itu?

Bobot tubuhnya naik drastis setelah sepuluh tahun menikah dan melahirkan dua anak. Dari 42 kilogram semasa perawan menjadi hampir 80 kilogram. Jangan tanya, seberapa gemuk pipi, perut, paha, dan pinggulnya. Sebab ternyata lemak tak pernah pilih-pilih tempat di tubuhnya.

*

Sebujur bus melamun di pangkalan. Ditinggalkan sopirnya yang tengah mengisi perut. Satu dua orang yang melihat kursi kosong, mengambil kesempatan untuk lekas menumpang. Beberapa calon penumpang yang datang belakangan, memilih menunggu di luar. Mereka telah hafal akan semacam tabiat. Setelah setengah jam lebih, bus itu baru akan beranjak.

“Kerudungmu cantik,” cetus anak laki-laki berseragam SMA yang berdiri dekat pintu. Sebelah tangannya berpegangan pada palang besi lantaran bus sering mengerem mendadak.

“Ini taplak bukan kerudung,” elak anak perempuan berseragam SMP, tersipu malu.

“Tak masalah. Kamu tetap cantik pakai kerudung apapun.” Bocah laki-laki itu semakin tengil karena rayuannya bersambut.

“Gombal.”

“Boleh kenalan?”

Masa putih abu-abu. Ketika lampu-lampu cinta mulai menyala. Bercahaya tapi belum cukup terang. Perlu berhati-hati dan meraba-raba agar tak salah langkah. Karena semu seolah menipu. Temaram hanyalah sementara.

**

“Ini kerudung yang kamu pakai OSPEK dahulu, bukan?” tanya Dar seraya menunjuk taplak meja di depannya.

“Sudah sering kubilang. Ini taplak, bukan kerudung,” tandas Sul, gemas.

“Iya, memang taplak. Namun setiap melihat ini, aku selalu teringat dengan perjumpaan kita di bus dulu. Kamu begitu cantik saat berkerudung taplak ini,” tukas Dar dengan kerlingan mata menggoda.

“Coba kamu sesekali pakai taplak ini sebagai kerudung lagi. Pasti, cintaku akan terus bersemi. Tumbuh subur dan bermekaran,” imbuh Dar, mulai melancarkan rayuan.

“Idih, malas banget. Masa iya aku harus pakai taplak meja untuk kerudung. Lagian, kerudungku yang lebih bagus ada banyak.”

“Mengapa tidak? Ayolah sekali saja lagi,” pinta Dar dengan nada merajuk. Jemarinya turut usil menjelajah. Keintiman ala sepasang pengantin baru tak terhindarkan lagi.

***

“Mengapa harus pakai itu?” protes Dar, sesaat sebelum menyalakan motor untuk mengantar Sul.

“Apa?”

“Taplak itu. Apa tidak ada taplak lain lagi? Lihatlah, taplak itu sudah kumal dan kusam.” Dar menunjuk pada taplak penutup baskom sumbangan.

“Kalau pakai yang baru, pasti hilang atau tertukar. Sayang sekali, bukan? Makanya biar aman, aku sengaja pakai taplak jelek.”

“Terserah kamu saja, kalau memang kamu tidak malu.”

****

Maghrib telah mengintip. Sul beringsut dari ranjang. Genap sepuluh hari sudah, ia melakukan diet. Tersiksa sebenarnya. Badannya terasa lemas. Acapkali kepalanya pusing. Perutnya terus saja melilit.

Tertatih, Sul mencapai meja rias. Lama, ia mengamati pantulan dirinya di cermin. Ada perubahan meski belum tampak perbedaan. Bagaimana lagi, menjadi langsing kembali butuh proses panjang. Kecuali punya uang untuk sedot lemak.

Selang menit, mata Sul tertabrak pada barisan alat kosmetik yang berbaris rapi. Meraih bedak, Sul memulaskannya secara merata ke seluruh wajah. Polesan lipstik mendapatkan giliran berikutnya. Terakhir, ia sapukan pensil alis demi membentuk alis palsu di atas alis tipisnya.

Hari ini Dar akan pulang setelah sebulan lamanya bekerja di Surabaya. Sul hendak memberi kejutan. Namun entah, apakah usahanya selama sepuluh hari terakhir akan berhasil mengejutkan suaminya atau tidak.

Mungkin Dar dalam beberapa menit lagi akan sampai rumah. Sul masih berperang dengan pikirannya. Mencari cara lain yang akan membuatnya tampak berbeda. Ia ingin sekali melihat, suaminya memandangnya sebagaimana dahulu kala mereka bertemu untuk pertama kalinya di bus.

Tiba-tiba Sul mendapat ilham. Buru-buru seolah mendapat kekuatan magis, di bukanya lemari. Ia tersenyum puas saat menemukan benda yang dicari. Cepat-cepat dikenakannya benda itu.

Ketukan di pintu, menerbangkan kaki Sul. Disiapkannya wajah tercerah demi menyambut kepulangan suaminya yang telah ditunggu-tunggunya. Alih-alih keterpesonaan yang didapatnya, Dar justru kesetanan menghajar sembari mengumpatnya.

Tubuh Sul didorong hingga terjengkang. Perut Sul ditendang. Wajah Sul tak luput dari tamparan. Hingga taplak yang mengerudungi Sul ditarik paksa dan akhirnya kepala Sul terbentur ke tembok. Sul pingsan.

Dar terpaku mendapati tubuh istrinya terbujur kaku. Dipandanginya tangannya yang telah berbuat aniaya. Harusnya seperti yang sudah direncanakannya, ia langsung berterus terang saja. Akan tetapi pasal taplak meja yang dikenakan Sul telah dengan tak terduga menyulut emosi dari kedalaman dirinya. Sekarang mesti bagaimana bila bayang penjara menari di pelupuk mata? Karena besar kemungkinan dia akan dilaporkannya ke Polisi atas tindak KDRT.

Dar menempelkan jari telunjuknya di bawah hidung Sul. Ia lega. Perempuan itu masih menghembuskan napasnya meski lemah. Sistem android berbasis kebejatan segera bekerja. Seperti taplak yang menjalankan fungsi menutupi dan memanipulasi meja agar tampak lebih indah, langkah itulah yang ditiru Dar. Usai membaui Sul dengan minyak kayu putih, Dar berhasil membuat perempuan malang itu tersadar. Tak menunggu jeda, Dar menghujani perempuan itu dengan bertubi-tubi ciuman dan permintaan maaf.

Masa lalu yang telah lama menghilang itu akhirnya kembali datang berkunjung. Sul menikmati kehangatan tatkala Dar menindihnya dalam gairah. Padahal dalam kepala Dar, ia hanya perlu bersabar sedikit waktu. Hingga akhirnya dapat menceraikan Sul tanpa perkara. Lalu menikahi selingkuhannya di Surabaya. Sementara di benak Sul, ia mencoba meredam gejolak. Sejatinya ia sudah lama tahu bahwasanya Dar selingkuh. Namun seorang istri baginya harus bisa menjadi taplak untuk suaminya. Menutup aib. (*)

 

Tonjok: balasan/kembalian dari sumbangan yang kita berikan di acara pernikahan atau hajatan lainnya. Biasanya berupa makanan jadi seperti nasi, sayur lauk atau kue-kue tradisional.

*) Lulusan Fisipol UNS Tahun 2008. Saat ini berusaha kembali ke dunia tulis menulis setelah sekian lama vakum.

Mobile_AP_Rectangle 1

Oleh: Endang S. Sulistiya


TIBA-TIBA malu mengguyur Dar. Percuma menepi bila telanjur basah. Segera usai jok terguncang oleh bokong besar Sul, Dar melarikan diri secepat laju motornya.

“Dapat tonjok jadah. Putih dan empuk, Pak. Mau dimakan langsung atau digoreng?” tawar Sul sumringah seraya terus mengubek-ubek baskom.

Mobile_AP_Half Page

Dua kerucut nasi yang terbungkus dengan daun jati, dua bungkus kecil mie goreng yang dikemas di kertas minyak, seplastik jajanan yang terdiri dari nogosari, jadah, wajik, dan pisang. Semua isi baskom dikeluarkan. Berjejer di atas meja.

“Lain kali, aku ogah mengantar lagi. Berangkatlah jalan kaki bersama yang lain. Jangan sampai tertinggal lagi,” ujar Dar ketus. Tanpa melihat pada Sul ataupun pada jejeran makanan di atas meja.

“Satu lagi. Buang taplak itu! Jangan pernah dipakai untuk apapun lagi.” Sorot mata Dar memukul taplak pembungkus baskom.

Dar berlalu. Walau mulut terkatub, batin Sul menggubris. Dipandangnya punggung suaminya hingga tertelan pintu kamar. Agaknya Sul telah melihat adanya perbedaan. Tidak lagi hanya perubahan.

Sejenak rasa ingin menyusul. Baik untuk menyelesaikan segala sesuatunya di awal. Akan tetapi Sul kemudian tersadar. Kodisi sekarang telah jauh berbeda dari dulu. Jika dulu cukup senyum saja bisa meluruhkan kesal serta jengkel suaminya. Bila dulu dengan peluk dan kecup telah sanggup merobohkan angkuh dan marah Dar. Namun masa lalu semacam itu telah lama menghilang. Bahkan bayangannya saja tak bersisa.

Lemparan bantal, sandal atau bahkan putung rokok adalah yang paling sering Sul dapatkan. Sesekali terpikir oleh Sul, apa ia sudah serongsok itu?

Bobot tubuhnya naik drastis setelah sepuluh tahun menikah dan melahirkan dua anak. Dari 42 kilogram semasa perawan menjadi hampir 80 kilogram. Jangan tanya, seberapa gemuk pipi, perut, paha, dan pinggulnya. Sebab ternyata lemak tak pernah pilih-pilih tempat di tubuhnya.

*

Sebujur bus melamun di pangkalan. Ditinggalkan sopirnya yang tengah mengisi perut. Satu dua orang yang melihat kursi kosong, mengambil kesempatan untuk lekas menumpang. Beberapa calon penumpang yang datang belakangan, memilih menunggu di luar. Mereka telah hafal akan semacam tabiat. Setelah setengah jam lebih, bus itu baru akan beranjak.

“Kerudungmu cantik,” cetus anak laki-laki berseragam SMA yang berdiri dekat pintu. Sebelah tangannya berpegangan pada palang besi lantaran bus sering mengerem mendadak.

“Ini taplak bukan kerudung,” elak anak perempuan berseragam SMP, tersipu malu.

“Tak masalah. Kamu tetap cantik pakai kerudung apapun.” Bocah laki-laki itu semakin tengil karena rayuannya bersambut.

“Gombal.”

“Boleh kenalan?”

Masa putih abu-abu. Ketika lampu-lampu cinta mulai menyala. Bercahaya tapi belum cukup terang. Perlu berhati-hati dan meraba-raba agar tak salah langkah. Karena semu seolah menipu. Temaram hanyalah sementara.

**

“Ini kerudung yang kamu pakai OSPEK dahulu, bukan?” tanya Dar seraya menunjuk taplak meja di depannya.

“Sudah sering kubilang. Ini taplak, bukan kerudung,” tandas Sul, gemas.

“Iya, memang taplak. Namun setiap melihat ini, aku selalu teringat dengan perjumpaan kita di bus dulu. Kamu begitu cantik saat berkerudung taplak ini,” tukas Dar dengan kerlingan mata menggoda.

“Coba kamu sesekali pakai taplak ini sebagai kerudung lagi. Pasti, cintaku akan terus bersemi. Tumbuh subur dan bermekaran,” imbuh Dar, mulai melancarkan rayuan.

“Idih, malas banget. Masa iya aku harus pakai taplak meja untuk kerudung. Lagian, kerudungku yang lebih bagus ada banyak.”

“Mengapa tidak? Ayolah sekali saja lagi,” pinta Dar dengan nada merajuk. Jemarinya turut usil menjelajah. Keintiman ala sepasang pengantin baru tak terhindarkan lagi.

***

“Mengapa harus pakai itu?” protes Dar, sesaat sebelum menyalakan motor untuk mengantar Sul.

“Apa?”

“Taplak itu. Apa tidak ada taplak lain lagi? Lihatlah, taplak itu sudah kumal dan kusam.” Dar menunjuk pada taplak penutup baskom sumbangan.

“Kalau pakai yang baru, pasti hilang atau tertukar. Sayang sekali, bukan? Makanya biar aman, aku sengaja pakai taplak jelek.”

“Terserah kamu saja, kalau memang kamu tidak malu.”

****

Maghrib telah mengintip. Sul beringsut dari ranjang. Genap sepuluh hari sudah, ia melakukan diet. Tersiksa sebenarnya. Badannya terasa lemas. Acapkali kepalanya pusing. Perutnya terus saja melilit.

Tertatih, Sul mencapai meja rias. Lama, ia mengamati pantulan dirinya di cermin. Ada perubahan meski belum tampak perbedaan. Bagaimana lagi, menjadi langsing kembali butuh proses panjang. Kecuali punya uang untuk sedot lemak.

Selang menit, mata Sul tertabrak pada barisan alat kosmetik yang berbaris rapi. Meraih bedak, Sul memulaskannya secara merata ke seluruh wajah. Polesan lipstik mendapatkan giliran berikutnya. Terakhir, ia sapukan pensil alis demi membentuk alis palsu di atas alis tipisnya.

Hari ini Dar akan pulang setelah sebulan lamanya bekerja di Surabaya. Sul hendak memberi kejutan. Namun entah, apakah usahanya selama sepuluh hari terakhir akan berhasil mengejutkan suaminya atau tidak.

Mungkin Dar dalam beberapa menit lagi akan sampai rumah. Sul masih berperang dengan pikirannya. Mencari cara lain yang akan membuatnya tampak berbeda. Ia ingin sekali melihat, suaminya memandangnya sebagaimana dahulu kala mereka bertemu untuk pertama kalinya di bus.

Tiba-tiba Sul mendapat ilham. Buru-buru seolah mendapat kekuatan magis, di bukanya lemari. Ia tersenyum puas saat menemukan benda yang dicari. Cepat-cepat dikenakannya benda itu.

Ketukan di pintu, menerbangkan kaki Sul. Disiapkannya wajah tercerah demi menyambut kepulangan suaminya yang telah ditunggu-tunggunya. Alih-alih keterpesonaan yang didapatnya, Dar justru kesetanan menghajar sembari mengumpatnya.

Tubuh Sul didorong hingga terjengkang. Perut Sul ditendang. Wajah Sul tak luput dari tamparan. Hingga taplak yang mengerudungi Sul ditarik paksa dan akhirnya kepala Sul terbentur ke tembok. Sul pingsan.

Dar terpaku mendapati tubuh istrinya terbujur kaku. Dipandanginya tangannya yang telah berbuat aniaya. Harusnya seperti yang sudah direncanakannya, ia langsung berterus terang saja. Akan tetapi pasal taplak meja yang dikenakan Sul telah dengan tak terduga menyulut emosi dari kedalaman dirinya. Sekarang mesti bagaimana bila bayang penjara menari di pelupuk mata? Karena besar kemungkinan dia akan dilaporkannya ke Polisi atas tindak KDRT.

Dar menempelkan jari telunjuknya di bawah hidung Sul. Ia lega. Perempuan itu masih menghembuskan napasnya meski lemah. Sistem android berbasis kebejatan segera bekerja. Seperti taplak yang menjalankan fungsi menutupi dan memanipulasi meja agar tampak lebih indah, langkah itulah yang ditiru Dar. Usai membaui Sul dengan minyak kayu putih, Dar berhasil membuat perempuan malang itu tersadar. Tak menunggu jeda, Dar menghujani perempuan itu dengan bertubi-tubi ciuman dan permintaan maaf.

Masa lalu yang telah lama menghilang itu akhirnya kembali datang berkunjung. Sul menikmati kehangatan tatkala Dar menindihnya dalam gairah. Padahal dalam kepala Dar, ia hanya perlu bersabar sedikit waktu. Hingga akhirnya dapat menceraikan Sul tanpa perkara. Lalu menikahi selingkuhannya di Surabaya. Sementara di benak Sul, ia mencoba meredam gejolak. Sejatinya ia sudah lama tahu bahwasanya Dar selingkuh. Namun seorang istri baginya harus bisa menjadi taplak untuk suaminya. Menutup aib. (*)

 

Tonjok: balasan/kembalian dari sumbangan yang kita berikan di acara pernikahan atau hajatan lainnya. Biasanya berupa makanan jadi seperti nasi, sayur lauk atau kue-kue tradisional.

*) Lulusan Fisipol UNS Tahun 2008. Saat ini berusaha kembali ke dunia tulis menulis setelah sekian lama vakum.

Mobile_AP_Rectangle 2
Previous articlePenyesalan Doa
Next articleMbah Pereng dan Kenangannya
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2