alexametrics
25.8 C
Probolinggo
Tuesday, 24 May 2022

Lelaki Pemakan Kertas

Oleh: Busthomi Dipantara

AKU lupa, entah sudah berapa hari aku tak kerja, mengantar koran. Seminggu? Dua minggu? Aku benar-benar tak mampu mengingatnya. Aku bahkan lupa bagaimana mulanya bisa menjadi pelupa begini. Beberapa hal tiba-tiba menjadi begitu asing, hilang dari ingatanku. Hanya sebagian saja yang masih bisa kuingat. Salah satunya profesiku sebagai loper koran.

Mungkin, para pelanggan koran yang kian berkurang itu mengumpatku, karena koran langganannya tak diantar. Pak Sulaiman apalagi. Ia pasti menyerapahiku, karena para pelanggan berkali-kali meneleponnya, menanyakan mengapa koran tak kuantar entah sejak kapan.

Marni, apalagi. Sejak pagi sudah kudengar ocehannya. Soal apalagi kalau bukan urusan dapur. Dia ngomel tak karuan, karena elpiji habis, minyak goreng hampir asat, dan ia tak bisa berbuat banyak karena utang-utangnya di warung Mbak Yanti belum bisa dilunasi.

“Hari ini kita makan angin. Elpiji habis, minyak goreng habis. Dan aku malu mau ngutang lagi. Kalau kau lapar, rendamlah beras dan makan,” dampratnya.

Ia bilang aku tak lagi memberinya uang belanja, entah sejak kapan. Aku benar-benar tak mampu mengingat sejak kapan itu terjadi. Marni juga bilang, kalung pemberian mertua telah ia gadaikan untuk keperluan sehari-hari, karena sudah lama aku tidak mengantar koran, tapi aku pun lupa sejak kapan. Beberapa hal benar-benar tak bisa kuingat entah kenapa.

*****

 

Malam telah begitu renta ketika hujan menghunjami atap seng dengan suara aneh. Hawa dingin tiba-tiba menelusup dari sela-sela loster dan retakan tembok, membuatku meringkuk di atas kursi rotan warisan Mbah, dan Marni melingkarkan tubuhnya di atas kasur busa. Air hujan meleleh pada lemari peninggalan Mbah, membasahi deretan buku yang tersusun di dalamnya.

Jika tidak salah, sudah lama aku ingin memindahkan buku-buku koleksiku itu ke tempat lain. Namun aku gamang, karena hampir setiap bagian rumah ini tidak aman untuk menyimpan buku-buku itu. Bocoran atap, tikus, rayap bahkan ngengat pasti akan mengancam mereka di mana pun kuletakkan.

Oleh: Busthomi Dipantara

AKU lupa, entah sudah berapa hari aku tak kerja, mengantar koran. Seminggu? Dua minggu? Aku benar-benar tak mampu mengingatnya. Aku bahkan lupa bagaimana mulanya bisa menjadi pelupa begini. Beberapa hal tiba-tiba menjadi begitu asing, hilang dari ingatanku. Hanya sebagian saja yang masih bisa kuingat. Salah satunya profesiku sebagai loper koran.

Mungkin, para pelanggan koran yang kian berkurang itu mengumpatku, karena koran langganannya tak diantar. Pak Sulaiman apalagi. Ia pasti menyerapahiku, karena para pelanggan berkali-kali meneleponnya, menanyakan mengapa koran tak kuantar entah sejak kapan.

Marni, apalagi. Sejak pagi sudah kudengar ocehannya. Soal apalagi kalau bukan urusan dapur. Dia ngomel tak karuan, karena elpiji habis, minyak goreng hampir asat, dan ia tak bisa berbuat banyak karena utang-utangnya di warung Mbak Yanti belum bisa dilunasi.

“Hari ini kita makan angin. Elpiji habis, minyak goreng habis. Dan aku malu mau ngutang lagi. Kalau kau lapar, rendamlah beras dan makan,” dampratnya.

Ia bilang aku tak lagi memberinya uang belanja, entah sejak kapan. Aku benar-benar tak mampu mengingat sejak kapan itu terjadi. Marni juga bilang, kalung pemberian mertua telah ia gadaikan untuk keperluan sehari-hari, karena sudah lama aku tidak mengantar koran, tapi aku pun lupa sejak kapan. Beberapa hal benar-benar tak bisa kuingat entah kenapa.

*****

 

Malam telah begitu renta ketika hujan menghunjami atap seng dengan suara aneh. Hawa dingin tiba-tiba menelusup dari sela-sela loster dan retakan tembok, membuatku meringkuk di atas kursi rotan warisan Mbah, dan Marni melingkarkan tubuhnya di atas kasur busa. Air hujan meleleh pada lemari peninggalan Mbah, membasahi deretan buku yang tersusun di dalamnya.

Jika tidak salah, sudah lama aku ingin memindahkan buku-buku koleksiku itu ke tempat lain. Namun aku gamang, karena hampir setiap bagian rumah ini tidak aman untuk menyimpan buku-buku itu. Bocoran atap, tikus, rayap bahkan ngengat pasti akan mengancam mereka di mana pun kuletakkan.

Previous articleKedua Saudari Tiriku

MOST READ

BERITA TERBARU

/