alexametrics
26C
Probolinggo
Sunday, 17 January 2021

Lelaki Sepi dan Secangkir Kopi

Oleh: Sam Edy Yuswanto*


LELAKI 52 tahun itu kini hidup sebatang kara di kampung kelahirannya. Tepatnya daerah pesisir, ujung selatan kota ini. Saat masih anak-anak, kampung yang ditinggalinya terbilang sepi. Kampung-kampung tetangga juga senada; sama sepinya. Ketika itu penduduknya memang masih bisa dihitung dengan jari. Maklum, kampung-kampung yang berdekatan dengan pantai memang penduduknya tak seramai kampung yang jauh dari lokasi pantai.

Namun kini, kampungnya dan juga kampung-kampung yang bersisian dengannya, terlihat cukup ramai. Semua bermula ketika wisata pantai kini menjadi tempat favorit anak-anak muda menunggu dan menghabiskan senja. Sekaligus tempat memuaskan ekspresi bagi mereka yang menggemari fotografi. Saat hari kian mendekati senja, biasanya pantai lebih ramai oleh muda-mudi yang ingin menyaksikan keindahan matahari menenggelamkan diri.

Selain itu, jalan utama kampung tersebut telah diperlebar hingga tiga kali lipat. Jalan yang telah diaspal dengan sangat mulus tersebut kini menjadi jalan alternatif menuju bandara internasional. Sekarang, warga yang ingin menyeberang jalan tersebut merasa ketar-ketir dan harus berkali-kali tengok kanan kiri. Lengah sedikit saja saat menyeberang, nyawa menjadi taruhannya.

***

Sejak sang istri meninggal dunia beberapa tahun silam, lelaki yang hanya mampu mengenyam pendidikan sekolah dasar dan rumahnya cukup dekat dengan jalan raya itu memiliki aktivitas rutin tiap pagi dan sore hari; duduk di teras rumah sambil menikmati secangkir kopi. Usai salat Subuh biasanya ia segera bergegas menuju dapurnya yang sederhana. Menjerang air. Lalu meracik kopi hasil memanen dari pekarangan yang berada di kanan, kiri, dan belakang rumahnya yang luas. Keseharian lelaki itu selama ini memang berkebun kopi. Sejak kecil ia telah terbiasa membantu sang ayah menanam kopi di pekarangan rumahnya yang luas. Di kampung tersebut, ayahnya dikenal sebagai petani kopi yang cukup telaten dan ketelatenannya kini menurun pada anak lanang semata wayangnya.

Robusta, begitulah orang-orang zaman sekarang menamai jenis tanaman kopi yang tumbuh subur di pekarangan rumah lelaki itu. Dulu, ia tak mengenali jenis kopi yang ia dan ayahnya tanam. Setahu lelaki itu, pohon-pohon berdaun rimbun dengan biji-biji kopinya yang semula kehijauan lalu berubah kemerahan itu namanya hanya sebatas “pohon kopi” yang kelak bila panen tiba akan menghasilkan pundi-pundi rupiah. Tak ada nama lain.

Ia baru tahu beberapa tahun terakhir bahwa pohon kopi yang ia tanam selama ini jenis robusta. Semua bermula ketika serombongan mahasiswa datang ke rumahnya untuk mengadakan penelitian perihal tata cara berkebun kopi yang baik dan benar.

“Kalau ini sih jenis kopi robusta, Pak,” terang salah satu mahasiswa dari Yogyakarta. Lelaki itu hanya manggut-manggut. Nama yang asing. Tapi terdengar keren. Gumam lelaki itu sambil tersenyum. Entah, siapa yang telah menamai pohon kopi dengan nama sekeren itu. Batin lelaki itu kembali bergumam. Ingin sekali ia bertanya, siapa gerangan orang yang telah memberi nama robusta pada pohon kopi miliknya.

***

Sore itu, seperti sore-sore sebelumnya, selepas menunaikan shalat Asar, lelaki itu menuju ke dapur untuk menyeduh kopi. Butuh waktu kurang lebih 20 menit untuk menyiapkan air hingga mendidih dan meracik bubuk kopi hitam ke dalam cangkir putih. Lumayan lama memang. Karena saat menjerang air ia tak mau menggunakan kompor gas ataupun kompor listrik. Sejak dulu hingga kini lelaki itu memang hanya mau menggunakan kayu-kayu kering yang dapat ditemukan dengan mudah di pekarangan rumah. Ketika orang-orang di kampungnya satu per satu meninggalkan kebiasaan lama (memasak dengan menggunakan kayu bakar) dan mulai menggunakan kompor sebagaimana anjuran pemerintah, lelaki itu tetap bersikukuh menggunakan kayu bakar untuk memasak dan menjerang air.

Menurut lelaki itu, nasi yang dimasak dengan kayu bakar rasanya lebih nikmat daripada nasi yang dimasak dengan kompor gas atau kompor listrik. Begitu pula, air yang dijerang (untuk menyeduh kopi) dengan kayu bakar lebih nikmat dan mantap ketimbang air yang dijerang dengan kompor. Selain itu, memasak dengan kayu bakar juga menjadi cara untuk berhemat. Menurut lelaki itu, sayang sekali bila ranting-ranting pepohonan yang telah kering dan berjatuhan di pekarangan rumahnya tak dimanfaatkan sebagai kayu bakar.

***

Seusai menyeduh kopi dengan campuran sedikit gula merah, lelaki itu lantas mengangkat cangkir kopi tersebut dan membawanya ke teras rumah. Di sanalah ia menikmati kopi tersebut sambil merenungkan banyak hal. Sesekali kedua bola matanya yang masih bisa melihat dengan tajam itu menyapu ke jalan raya, menyaksikan kendaraan lalu-lalang, silih berganti, seolah tiada pernah ada habisnya.

“Seandainya aku dikaruniai anak, tentu aku tidak akan merasa kesepian seperti ini,” gumam batin lelaki itu usai menyesap tepian cangkir kopinya yang masih penuh dan mengepulkan asap. Bukan kali ini saja ia melamunkan hadirnya seorang anak dalam kehidupannya. Bahkan, sejak istrinya masih hidup, mereka berdua tiada pernah lelah berikhtiar agar bisa segera mendapat momongan.

Namun, takdir Tuhan memang tak ada yang bisa menebak. Lelaki itu, berdasarkan keterangan dokter, divonis gabuk alias mandul. Beruntung istri lelaki itu mau menerima kondisi suaminya. Pernah suatu hari lelaki itu menyilakan sang istri untuk meninggalkan dirinya dan mencari suami baru yang bisa memberikan keturunan kepadanya. Namun sang istri menggeleng keras. Ia menyayangi lelaki itu apapun kondisinya.

Tentu saja lelaki itu merasa sangat terharu dan bersyukur memiliki pasangan hidup yang setia dan mau menerima segala kekurangannya. Namun, lagi-lagi, takdir Tuhan tak ada yang bisa menebak. Jatah umur istrinya di dunia ini ternyata lebih singkat ketimbang dirinya. Ia meninggal dunia tujuh tahun silam usai memanen kopi bersama lelaki itu.

Lelaki itu kembali menyesap tepian cangkirnya. Tiba-tiba ingatannya tertuju pada kejadian dua hari lalu. Tepatnya saat ada dua lelaki muda berpakaian necis mengenakan sepatu hitam mengkilat bertandang ke rumahnya. Kedatangan mereka untuk membeli seluruh tanah pekarangan lelaki itu, termasuk rumahnya. Jadi rencananya, rumah serta pekarangan lelaki itu akan dijadikan pom bensin. Mereka menawarkan harga yang sangat tinggi kepada lelaki itu. Bukan ratusan juta, tapi mencapai Rp 1,5 miliar.

Tentu saja lelaki itu menolak keras. Buat apa memiliki uang banyak tapi harus terusir dari tanah kelahirannya sendiri, tempat ia dilahirkan dan dibesarkan oleh orangtuanya? Tempat yang memiliki banyak kenangan dan sejarah tak terlupakan baginya. Untuk apa memiliki uang miliaran tapi hanya hidup seorang diri berteman sepi?

Memang, ia bisa saja mencari perempuan lain untuk dijadikan sebagai istri. Tapi buat apa? Toh saat ini usianya sudah kian menua. Pula ia sudah tak begitu bernafsu untuk bercinta dengan perempuan. Ditambah ia dulu pernah divonis mandul oleh dokter, jadi percuma bila ia menikah lagi tapi tak ada harapan dikaruniai buah hati. Akhirnya, kedua lelaki muda itu pun pergi dengan raut kecewa.

“Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah sudi menjual tanah kelahiranku,” gumam lelaki itu sambil meraih cangkir kopi dan kembali menyesapnya pelan.

***

Puring Kebumen, 5 Maret 2020.

 

—————————————————-

Sam Edy Yuswanto*

*Lahir dan berdomisili di kota Kebumen. Ratusan tulisannya tersiar di berbagai media massa seperti: Jawa Pos, Republika, Koran Sindo, Kompas Anak, Suara Merdeka, Radar Surabaya, Riau Pos, Kedaulatan Rakyat, dll. Tiga buku kumpulan cerpennya yang telah terbit antara lain: Percakapan Kunang-Kunang, Kiai Amplop, dan Impian Maya.

Previous articleHikayat Hipokrit
Next articleKancil dan Jalan Rusak

MOST READ

BERITA TERBARU