alexametrics
28 C
Probolinggo
Sunday, 16 May 2021
Desktop_AP_Top Banner

Warung Tetangga

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

Oleh: Sulistiyo Suparno


ADA lima warung di kampung saya. Warung paling besar milik Mbak Vera di RT 04. Letaknya persis di timur rumah saya.

Warung Mbak Vera berukuran 6 x 6 meter, terletak di samping rumahnya. Dibangun dari hasil menjual belasan pohon sengon, sekira setahun yang lalu.

Warung Mbak Vera selalu ramai. Banyak orang suka ke sana, berbelanja sembako dan kebutuhan harian lainnya.

Usia Mbak Vera sebaya dengan saya, anaknya juga dua seperti saya, suaminya juga bukan orang kantoran. Karena merasa senasib, saya dan Mbak Vera jadi akrab.

Setelah membereskan urusan-urusan domestik sebagai ibu rumah tangga, sekira pukul 10 pagi saya selalu ke warung Mbak Vera. Bercengkerama, berbincang tentang banyak hal yang postif dan inspiratif, terutama tentang resep masakan.

Kami sama-sama cerewet. Bedanya, saya mampu menjaga rahasia. Sedangkan Mbak Vera suka bocor mulut. Entah sedang kesal atau memang sudah tabiatnya begitu, Mbak Vera suka membocorkan rahasia para pelanggan warungnya. Kadang ia memperlihatkan pada saya sebuah buku kecil berisi daftar utang para pelanggannya.

“Ya beginilah risiko punya warung, harus siap diutangi,” kata Mbak Vera.

“Tapi saya nggak pernah utang kan Mbak?” sahut saya.

“Mbak Menik sih pelanggan terbaik saya. Enak ya punya suami pengarang novel, uang tinggal ambil di ATM.”

“Amin,” sahut saya.

Malam menjelang tidur, saya suka menceritakan ulang cerita-cerita dari Mbak Vera pada suami saya.

“Kamu gali terus cerita-cerita darinya. Biar aku yang menulisnya menjadi novel,” kata suami saya.

Tak terasa sudah satu tahun usaha warung Mbak Vera berlangsung. Selama satu tahun itu, saya seperti atasan yang menerima laporan dari Mbak Vera tentang perkembangan warungnya.

Akhir-akhir ini Mbak Vera sering mengeluh warungnya mulai goyah. Barang dagangannya tidak lagi penuh seperti dulu. Saya membesarkan hatinya bahwa hidup itu kadang manis, kadang pahit, dan memintanya untuk bersabar.

Suatu pagi, saya bergegas dari dapur menuju ruang tamu, mengintip dari kaca nako. Tampak di depan warungnya, Mbak Vera beradu mulut dengan Bu Septi. Sumpah serapah keluar dari mulut dua wanita bertetangga itu. Entah apa yang mereka ributkan, saya hanya menduga-duga karena sempat mendengar kata “utang” yang diucapkan beberapa kali oleh Mbak Vera.

“Saya doakan warungmu cepat bangkrut!” kata Bu Septi lalu pergi dengan langkah marah.

Saya menduga, Bu Septi akan utang tetapi Mbak Vera menolak karena masih pukul 7 pagi. Ada kepercayaan di kalangan pedagang di daerah saya, kalau ada pembeli utang pada pagi hari itu hal yang tabu, tidak boleh. Karena bisa bikin bangkrut si pedagang.

Ketika saya bertandang ke warungnya, saya tidak berani bertanya pada Mbak Vera tentang pertengkaran tadi pagi. Tetapi, Mbak Vera sendiri yang mulai bercerita.

“Bukan masalah utang di pagi, siang, atau malam, tetapi ini masalah ketidakadilan. Kalau tanggal muda, saat banyak uang, Bu Septi belanja di minimarket. Giliran tanggal tua seperti sekarang ini, Bu Septi utang belanjaan di warung saya. Apa ini adil?” kata Mbak Vera.

Saya hanya mengangguk-angguk, tak tahu harus berkata apa.

“Kalau begini terus, bisa bangkrut warung saya. Sudah modal kecil, diutangi terus, bagaimana bisa maju usaha saya?” lanjut Mbak Vera dengan napas tersengal menahan marah.

“Sabar ya Mbak. Sifat orang kan berbeda-beda,” kata saya menyentuh bahunya.

Mata Mbak Vera berkaca-kaca, ia tampak galau sekali.

“Terima kasih Mbak Menik. Maaf saya mau tidur saja. Saya pusing,” kata Mbak Vera lalu bersiap menutup warungnya.

Pada suatu sore ketika akan membelikan kopi instan untuk suami saya, tampak sebuah mobil boks di depan warung Mbak Vera. Mungkin ada salesman datang mengantarkan barang. Tetapi, mengapa Mbak Vera dan suaminya dibantu seorang lelaki asing memasukkan barang-barang dari warung ke mobil boks itu?

“Ada apa to Mbak?” tanya saya.

“Saya jual semua barang dagangan saya Mbak,” sahut Mbak Vera.

“Lho?”

“Saya berhenti buka warung, Mbak Menik. Bangkrut diutangi melulu.”

Malam hari, rumah Mbak Vera kosong. Mbak Vera bersama suami dan dua anaknya yang masih kecil pindah ke rumah mertua di kota kecamatan. Entah untuk berapa lama.

Melalui WA, Mbak Vera mengabarkan ia akan menjual rumahnya. Ia sudah tidak mau lagi tinggal di kampung kami. Kampung yang penuh dengan orang tidak tahu diri, penuh dengan orang yang suka utang di warung tetangga.

“Tapi Mbak Menik bukan mereka. Mbak Menik adalah pelanggan terbaik warung saya,” tulis Mbak Vera dalam WA-nya.

Saya dan suami merasa kehilangan atas kepergian Mbak Vera. Suami saya kehilangan bahan cerita untuk dijadikan novel. Saya kehilangan teman senasib dan teman bercengkerama yang menyenangkan.

***SELESAI***

Batang, 27 April 2021

 

*) Gemar menulis cerpen sejak SMA. Karyanya tersebar di media lokal dan nasional.

Mobile_AP_Rectangle 1

Oleh: Sulistiyo Suparno


ADA lima warung di kampung saya. Warung paling besar milik Mbak Vera di RT 04. Letaknya persis di timur rumah saya.

Warung Mbak Vera berukuran 6 x 6 meter, terletak di samping rumahnya. Dibangun dari hasil menjual belasan pohon sengon, sekira setahun yang lalu.

Mobile_AP_Half Page

Warung Mbak Vera selalu ramai. Banyak orang suka ke sana, berbelanja sembako dan kebutuhan harian lainnya.

Usia Mbak Vera sebaya dengan saya, anaknya juga dua seperti saya, suaminya juga bukan orang kantoran. Karena merasa senasib, saya dan Mbak Vera jadi akrab.

Setelah membereskan urusan-urusan domestik sebagai ibu rumah tangga, sekira pukul 10 pagi saya selalu ke warung Mbak Vera. Bercengkerama, berbincang tentang banyak hal yang postif dan inspiratif, terutama tentang resep masakan.

Kami sama-sama cerewet. Bedanya, saya mampu menjaga rahasia. Sedangkan Mbak Vera suka bocor mulut. Entah sedang kesal atau memang sudah tabiatnya begitu, Mbak Vera suka membocorkan rahasia para pelanggan warungnya. Kadang ia memperlihatkan pada saya sebuah buku kecil berisi daftar utang para pelanggannya.

“Ya beginilah risiko punya warung, harus siap diutangi,” kata Mbak Vera.

“Tapi saya nggak pernah utang kan Mbak?” sahut saya.

“Mbak Menik sih pelanggan terbaik saya. Enak ya punya suami pengarang novel, uang tinggal ambil di ATM.”

“Amin,” sahut saya.

Malam menjelang tidur, saya suka menceritakan ulang cerita-cerita dari Mbak Vera pada suami saya.

“Kamu gali terus cerita-cerita darinya. Biar aku yang menulisnya menjadi novel,” kata suami saya.

Tak terasa sudah satu tahun usaha warung Mbak Vera berlangsung. Selama satu tahun itu, saya seperti atasan yang menerima laporan dari Mbak Vera tentang perkembangan warungnya.

Akhir-akhir ini Mbak Vera sering mengeluh warungnya mulai goyah. Barang dagangannya tidak lagi penuh seperti dulu. Saya membesarkan hatinya bahwa hidup itu kadang manis, kadang pahit, dan memintanya untuk bersabar.

Suatu pagi, saya bergegas dari dapur menuju ruang tamu, mengintip dari kaca nako. Tampak di depan warungnya, Mbak Vera beradu mulut dengan Bu Septi. Sumpah serapah keluar dari mulut dua wanita bertetangga itu. Entah apa yang mereka ributkan, saya hanya menduga-duga karena sempat mendengar kata “utang” yang diucapkan beberapa kali oleh Mbak Vera.

“Saya doakan warungmu cepat bangkrut!” kata Bu Septi lalu pergi dengan langkah marah.

Saya menduga, Bu Septi akan utang tetapi Mbak Vera menolak karena masih pukul 7 pagi. Ada kepercayaan di kalangan pedagang di daerah saya, kalau ada pembeli utang pada pagi hari itu hal yang tabu, tidak boleh. Karena bisa bikin bangkrut si pedagang.

Ketika saya bertandang ke warungnya, saya tidak berani bertanya pada Mbak Vera tentang pertengkaran tadi pagi. Tetapi, Mbak Vera sendiri yang mulai bercerita.

“Bukan masalah utang di pagi, siang, atau malam, tetapi ini masalah ketidakadilan. Kalau tanggal muda, saat banyak uang, Bu Septi belanja di minimarket. Giliran tanggal tua seperti sekarang ini, Bu Septi utang belanjaan di warung saya. Apa ini adil?” kata Mbak Vera.

Saya hanya mengangguk-angguk, tak tahu harus berkata apa.

“Kalau begini terus, bisa bangkrut warung saya. Sudah modal kecil, diutangi terus, bagaimana bisa maju usaha saya?” lanjut Mbak Vera dengan napas tersengal menahan marah.

“Sabar ya Mbak. Sifat orang kan berbeda-beda,” kata saya menyentuh bahunya.

Mata Mbak Vera berkaca-kaca, ia tampak galau sekali.

“Terima kasih Mbak Menik. Maaf saya mau tidur saja. Saya pusing,” kata Mbak Vera lalu bersiap menutup warungnya.

Pada suatu sore ketika akan membelikan kopi instan untuk suami saya, tampak sebuah mobil boks di depan warung Mbak Vera. Mungkin ada salesman datang mengantarkan barang. Tetapi, mengapa Mbak Vera dan suaminya dibantu seorang lelaki asing memasukkan barang-barang dari warung ke mobil boks itu?

“Ada apa to Mbak?” tanya saya.

“Saya jual semua barang dagangan saya Mbak,” sahut Mbak Vera.

“Lho?”

“Saya berhenti buka warung, Mbak Menik. Bangkrut diutangi melulu.”

Malam hari, rumah Mbak Vera kosong. Mbak Vera bersama suami dan dua anaknya yang masih kecil pindah ke rumah mertua di kota kecamatan. Entah untuk berapa lama.

Melalui WA, Mbak Vera mengabarkan ia akan menjual rumahnya. Ia sudah tidak mau lagi tinggal di kampung kami. Kampung yang penuh dengan orang tidak tahu diri, penuh dengan orang yang suka utang di warung tetangga.

“Tapi Mbak Menik bukan mereka. Mbak Menik adalah pelanggan terbaik warung saya,” tulis Mbak Vera dalam WA-nya.

Saya dan suami merasa kehilangan atas kepergian Mbak Vera. Suami saya kehilangan bahan cerita untuk dijadikan novel. Saya kehilangan teman senasib dan teman bercengkerama yang menyenangkan.

***SELESAI***

Batang, 27 April 2021

 

*) Gemar menulis cerpen sejak SMA. Karyanya tersebar di media lokal dan nasional.

Mobile_AP_Rectangle 2
Previous articleSetengah Hantu
Next articleMisteri Ketupat
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2