Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Sekeluarga yang Tertabrak KA Mutiara Timur di Gununggangsir Pasuruan Hendak Rekreasi, Si Bungsu Kini Sebatang Kara

Rizal Syatori • Senin, 1 Desember 2025 | 03:30 WIB

 

 

RINGSEK PARAH: Kondisi mobil sedan Accord yang ditumpangi sekeluarga asal Cangkringmalang usai tertabrak KA Mutiara Timur, Minggu (30/11). (Mokhamad Zubaidillah/ Radar Bromo)
RINGSEK PARAH: Kondisi mobil sedan Accord yang ditumpangi sekeluarga asal Cangkringmalang usai tertabrak KA Mutiara Timur, Minggu (30/11). (Mokhamad Zubaidillah/ Radar Bromo)

BEJI, Radar Bromo–Rencana rekreasi berubah menjadi sebuah tragedi memilukan. Sekeluarga asal Dusun Gondanglegi, Desa Cangkringmalang, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan tertabrak KA Mutiara Timur.

Tabrakan itu terjadi di perlintasan KA sebidang atau tanpa palang pintu di Dusun Selokambang, Desa Gununggangsir, Kecamatan Beji, Minggu pagi (30/11).

Kecelakaan maut itu merenggut rmpat korban jiwa. Yakni pasangan suami istri dan dua anaknya. Sementara anak yang paling kecil berhasil diselamatkan.

Empat korban meninggal itu yakni Muhaimin, 33 sang ayah (karyawan minimarket). Suci Nurjannah, 33 sang istri (guru).

Serta dua anak mereka yakni Muhammad Yisran Alim Mukhsin atau MYAM, 9 dan Putri Indah Ramadhani atau PRI, 6.

Sementara anak paling kecil yang masih balita yakni RPM hanya alami luka ringan.

Pagi itu, Muhammad Muhaimin, 33 dan keluarganya hendak rekreasi ke sebuah kolam renang di Pandaan.

Mereka berangkat dari rumah mereka di Dusun Gondanglegi, RT 01/RW 11, Desa Cangkringmalang, Beji.

Muhaimin berangkat bersama istrinya, Suci Nurjannah, 33, dan tiga anak mereka. Yaitu, Muhammad Yisran Alim Mukhsin atau MYAM, 9; Putri Indah Ramadhani atau PRI, 6; dan si bungsu yang masih satu tahun. Yaitu, RPM. 

Mereka naik mobil Honda Accord L 1519 ABJ dengan korban Muhaimin sebagai sopirnya.

Seorang sumber yang enggan disebut namanya mengatakan, rencananya mereka melewati Jalan Gununggangsir, jalan kabupaten yang tembus ke Pandaan.

Namun, ternyata ada perbaikan jalan, sehingga jalan tersebut rawan macet.  Untuk menghindari kemacetan, korban lantas melewati jalan desa di Dusun Selokambang, Desa Gununggangsir.

Jalan ini harus melewati rel kereta. Namun, luasnya cukup untuk satu mobil lewat. Bahkan, biasanya jalan desa itu memang sering dilewati mobil dan truk kecil.

Sekitar pukul 10.19, Accord sampai di lokasi kejadian. Mobil kemudian segera melintas di rel kereta api tanpa palang pintu itu, dari utara ke selatan.

Ternyata di saat yang sama, melintas KA Mutiara Timur 209, relasi Surabaya-Ketapang, Banyuwangi. KA melaju dari barat ke timur dengan masinis Ahmad Mashuri dan asisten masinis Muhammad Fauzi Zein.

Kecelakaan tragis pun tak dapat dihinidari. Kereta api bertabrakan dengan Accord yang dinaiki korban dan empat keluarganya.

Tabrakan itu begitu keras. Hingga membuat mobil terseret kereta sekitar 10-15 meter dari perlintasan. Semua orang di dalam mobil seketika terlempar keluar dari kendaraan, sesaat setelah benturan terjadi.

Empat korban pun meninggal seketika di lokasi kejadian. Sementara kondisi mobil rusak berat, penyok tak lagi berbentuk.

Ahmad Jaelani, 24, warga di sekitar TKP mengaku mendengar suara keras saat tabrakan terjadi. Saat itu, dia belum tahu dari mana sumber suara itu.

 “Saat tabrakan saya berada di kamar, terdengar suara keras. Ternyata mobil tertabrak kereta api. Mobil berisi lima orang, satu sopir dan empat penumpang masih satu keluarga," katanya.

Akibat kecelakaan maut itu, si bungsu yang masih berusia setahun pun kini sebatang kara. Kedua orang tua dan dua kakaknya meninggal dalam kecelakaan tragis tersebut. (zal/hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#Beji #accord #tragedi #perlintasan ka #pasuruan #mutiara timur #sedan #sebidang #tanpa palang pintu #sebatang kara #rekreasi #kecelakaan maut #bungsu