Kerugian Negara Imbas Rokok Ilegal di Pasuruan Capai Rp 1,9 M

BANGIL, Radar Bromo – Peredaran rokok ilegal di Pasuruan masih marak. Tercatat, selama 2019, Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Pasuruan sudah 45 kali melakukan penindakan. Rokok ilegal itu disebut menyebabkan kerugian negara mencapai Rp 1,9 miliar.

Edi Budi Santoso, kasi Penyuluhan dan Layanan Informasi Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Pasuruan mengatakan, sepanjang tahun 2019 lalu, peredaran rokok ilegal di Kabupaten Pasuruan cukup tinggi.

“Selama tahun lalu, dari penindakan yang dilakukan tercatat ada 4.466.794 batang rokok ilegal dan tercatat ada juga 812 botol miras (minuman keras) ilegal. Dari jumlah tersebut, kerugian negara ditaksir mencapai Rp 1,9 miliar,” terangnya.

Selain itu, tercatat juga penindakan atas 224.064 keping pita cukai palsu jenis Sigarete Kretek Mesin (SKM) dan Sigarete Kretek Tangan (SKT). Dengan perkiraan kerugian negara mencapai Rp 521,5 juta.

Dikatakan rokok ilegal adalah rokok yang melanggar ketentuan untuk dijual bebas ke masyarakat. Seperti rokok tanpa pita cukai atau rokok dengan pita cukai palsu termasuk rokok dengan pita cukai bekas.

Karena makin naiknya tarif pita cukai tiap tahunnya, ada produsen yang berbuat curang dengan enggan membayar pita cukai tapi tetap memproduksi rokok.

Untuk kondisi rokok yang ilegal, dikatakan dari segi bungkus dan kerapian memang hampir mirip dengan rokok legal. Namun, setelah diselidiki, ada yang pita cukainya tidak ada. Sehingga, termasuk rokok ilegal.

“Jadi, dari kemasan, sama persisnya dengan rokok legal. Ada bungkusnya, ada mereknya. Tapi, setelah diselidiki ternyata rokok ilegal,” ungkapnya.

Namun, dari segi pengawasan, saat ini untuk produsen rokok ilegal masih di luar Kabupaten Pasuruan. Rokok ilegal yang disita sendiri ditemukan saat dijual di warung atau saat di distributor sebelum di pasarkan. (eka/mie)