Pertanyakan Konsep New Normal di Ponpes

BANGIL, Radar Bromo – Kebijakan pemerintah yang akan menerapkan skenario new normal, menjadi perhatian lembaga Ponpes di Kabupaten Pasuruan. Pasalnya, tidak ada panduan yang diperoleh ponpes terkait kebijakan pemerintah pusat tersebut.

Hal ini seperti yang dipertanyakan Pengasuh Ponpes KHA Wahid Hasyim Bangil, Kabupaten Pasuruan, Akhmad Wildan Amrullah. Menurutnya, penerapan skenario new normal yang bakal diterapkan mulai bulan depan, masih menjadi tanda tanya. Khususnya, bagi kalangan pesantren.

Mengingat, tidak ada panduan khusus untuk penerapan new normal di kalangan pesantren. “Panduan yang beredar terkait new normal ini, masih bersifat umum. Bisa berlaku ekonomi ataupun pendidikan dan lainnya. Seperti mulai dibukanya mal ataupun pusat perbelanjaan. Tapi, untuk pesantren bagaimana?” tanyanya.

Hal inilah yang menjadikannya ganjalan. Sebab, panduan new normal untuk kalangan pesantren sangat dibutuhkan. Mengingat, jumlah pesantren cukup banyak di Kabupaten Pasuruan. Apalagi, di seluruh Indonesia.

Jumlah santrinya pun tidaklah sedikit. Mereka datang dari berbagai penjuru daerah. Seperti di ponpes yang ditanganinya. Ratusan santri yang mondok di Ponpes Wahid Hasyim Bangil telah dipulangkan sejak Maret.

Rencananya, mereka akan kembali pada Juni hingga Juli 2020 ini ke pesantren. Santri-santri tersebut juga bukan hanya datang dari satu wilayah. Tetapi, dari seluruh penjuru daerah. Bahkan, di ponpes yang lain, sampai ada yang berasal dari mancanegara.

“Lalu, bagaimana penerapan new normal-nya? Alangkah baiknya jika ada panduan new normal yang harus diterapkan di lingkungan pesantren. Sebab, pesantren ini kan juga banyak santrinya. Mencapai ribuan di Indonesia,” beber Gus Wildan -sapaan lelaki yang juga menjabat Sekretaris Pusaka Nawa Kartika (Perkumpulan Gus dan Kyai Muda Pasuruan, Red). (one/mie)