Stok Panen Garam di Kab Pasuruan Masih Tersisa 4 Ribu Ton

MASIH MENUMPUK: Seorang petambak garam di Kabupaten Pasuruan menumpuk hasil panennya, beberapa waktu lalu. Sampai akhir Maret ini, stok panen garam 2019 lalu masih tersisa sekitar 4 ribu ton. (Mokhamad Zubaidillah/Radar Bromo)

Related Post

BANGIL, Radar Bromo – Sampai akhir Maret ini, sisa stok garam yang disimpan petambak di Kabupaten Pasuruan masih mencapai 4 ribu ton. Selain belum terserap pasar, harga jual garam yang masih rendah, membuat sebagian petani garam masih menyimpan stok panennya.

Slamet Nurhandoyo, kepala Dinas Perikanan Kabupaten Pasuruan mengatakan, meski sudah melewati puncak musim hujan, namun serapan garam di petambak tradisional di Kabupaten Pasuruan masih belum semuanya habis.

“Saat ini masih ada garam yang disimpan di rumah atau gudang petambak. Kurang lebih masih tersisa 4 ribu ton yang tersedia,” terang Slamet.

Disebutkan Slamet, belum terserapnya semua garam petambak lantaran berbagai faktor. Salah satunya, kuota garam di pasar masih tinggi.

Karena itu, kendati sudah melewati puncak musim hujan, namun harga garam masih cukup rendah. “Saat ini masih di harga Rp 250 per kilonya,” terangnya.

Dari hasil panen tahun 2019 lalu diketahui, produksi garam di Kabupaten Pasuruan mencapai 25.163 ton. Sebagian sudah ada yang terserap pasar. Namun, memang sejak panen raya tahun lalu. Kondisi penjualan panen garam dan harga memang tidak menguntungkan petambak.

Dengan masih adanya sisa garam yang belum terserap. Dimungkinkan akan mempengaruhi masa produksi garam di tahun 2020 ini.

“Kami berharap kendati masih ada garam yang belum terserap. Nanti saat masa produksi garam, lahan produksi tetap maksimal,” ujarnya.

Tahun ini, Dinas Perikanan menargetkan jumlah produksi garam mencapai 15.850 ton. Dengan melihat cuaca kemarau tahun ini yang kurang lebih sama dengan tahun lalu, Dinas Perikanan optimistis target produksi masih bisa tercapai. (eka/mie)