Pedagang Pasar Desa Sumberdawesari Grati Keluhkan Pungutan

BANGIL, Radar Bromo – Puluhan pedagang pasar Desa Sumberdawesari, Kecamatan Grati, melurug kantor DPRD Kabupaten Pasuruan, Senin (27/1). Mereka datang untuk mengadukan adanya pungutan yang dilakukan pihak pemerintah desa setempat atas lapak-lapak pedagang sementara.

Pungutan biaya untuk lapak baru itu dianggap meresahkan. Karena biayanya tidaklah murah. Apalagi, lapak yang ada, berdiri di atas sungai.

Menurut Hamsah, salah satu pedagang Pasar Desa Sumberdawesari, Kecamatan Grati, pungutan yang dilakukan pihak kepala desa itu bermula dari pembongkaran pasar desa lama. Pembongkaran itu dilakukan Desember 2019 lantaran dilakukan pembenahan.

Para pedagang kemudian diminta pindah untuk menempati pasar baru. Namun, untuk menempati pasar baru itu, warga dimintai sejumlah uang yang tak sedikit. Bisa mencapai Rp 15 juta.

Ironisnya, bangunan pasar tersebut berdiri di atas sungai. “Kami jelas keberatan. Karena uang tersebut sangat besar bagi kami,” ungkapnya.

Bukan hanya itu. Ada isu lain yang berkembang, hingga membuat pedagang tak nyaman. Mereka harus membayar Rp 50 hingga Rp 60 juta untuk bisa kembali menempati pasar lama yang tengah dalam rehab tersebut.

Khudori, pedagang lainnya mengaku, penarikan biaya untuk pedagang tersebut jelas sangat memberatkan. Mereka bahkan diancam tidak bisa mendapatkan lapak jika tidak melakukan pembayaran.

“Apalagi, lapak yang digunakan di pasar baru itu dibangun di atas saluran irigasi. Apa boleh untuk bangunan. Sementara, kami harus membayarnya. Kalau tidak, kami tidak ada tempat,” sambungnya.

Pak Mad, salah satu pedagang lainnya mengaku, sudah melakukan pembayaran tersebut. Besarannya Rp 15 juta. Namun, ia tidak memperoleh kuitansi atas pembayaran lapak baru yang dibangun di atas saluran irigasi.

“Pasar lama kan dirobohkan untuk kemudian dibangun. Nah, kami direlokasi ke pasar baru yang dibangun di atas saluran irigasi. Kami diminta membayar. Kalau tidak mau, maka tidak dapat tempat. Saya sudah bayar Rp 15 juta,” akunya.

Ia berharap persoalan pasar ini bisa diselesaikan. Ia juga berharap uang Rp 15 juta yang disetorkannya bisa dikembalikan. “Kami minta dikembalikan,” ungkapnya. (one/mie)