Mau ke Mapolres Pasuruan, Pengunjung Wajib Masuk Bilik Sterilisasi

BANGIL, Radar Bromo – Berbagai cara dilakukan untuk pencegahan terhadap penyebaran Coronavirus Disease (Covid-19). Seperti yang dilakukan di Mapolres Pasuruan. Tak hanya melakukan pengukuran suhu badan dan pembersihan tangan. Pengunjung yang masuk ke kawasan Polres Pasuruan, diharuskan masuk bilik sterilisasi.

Kapolres Pasuruan AKBP Rofik Ripto Himawan mengungkapkan, penyediaan bilik sterilisasi ini untuk mencegah penyebaran virus korona.

Karena pengunjung yang masuk ke bilik setempat, akan disemprot menggunakan disinfektan menyeluruh ke seluruh badan. “Tidak hanya tangan yang dibersihkan. Dengan bilik ini, akan disemprot ke seluruh tubuh. Sehingga, bisa membunuh virus yang menempel di pakaian,” jelas Rofik.

Rofik menambahkan, sebenarnya disinfektan bisa dibuat secara alami. Menggunakan garam yang direbus pada suhu 200 derajat Selcius. Selanjutnya, didiamkan cair untuk kemudian digunakan sebagai disinfektan.

“Masyarakat sebenarnya bisa membuat disinfektan sendiri dengan menggunakan garam. Insyaallah bisa membunuh virus-virus seperti korona,” bebernya.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Bromo, bilik sterilisasi itu ditempatkan di halaman depan, jalur pintu masuk Mapolres Pasuruan. Sebelum masuk, pengunjung dites subu tubuhnya. Selanjutnya, diminta masuk ke bilik.

Kasatlantas Polres Pasuruan AKP Dwi Nugroho mengungkapkan, pencegahan lebih penting dibanding akhirnya terkena dampak virus tersebut. Karena itulah, pemasangan bilik sterilisasi itu direalisasikan untuk mencegah penyebaran virus korona.

“Kalau biasanya hanya tangan yang dibersihkan. Kami ingin seluruh pakaian yang digunakan. Sehingga, lebih efektif dalam membunuh virus korona di tubuh,” bebernya.

Pemanfaatan bilik tersebut, akan direalisasikan hingga batas waktu yang tak ditentukan. “Yang jelas, sampai dinyatakan Indonesia bebas korona,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Harian Satgas Pencegahan dan Pemberantasan Korona Kabupaten Pasuruan Anang Saiful Wijaya mengungkapkan, jumlah ODP (Orang Dalam Pemantauan) dan PDP (Pasien Dalam Pengawasan) di Kabupaten Pasuruan cenderung stagnan. Begitupun dengan ODR (Orang Dengan Risiko). Untuk ODP, jumlahnya sama, sebanyak 2 orang. Sedangkan PDP, sebanyak 5 orang. Dan untuk ODR, sama 220 orang. “Sejauh ini, tidak ada perubahan. Baik untuk ODP ataupun PDP,” paparnya. (one/mie)